Raisa menahan haru saat membawa lagu dedikasi untuk mendiang ibunya, Ria Mariaty, di konser Love & Let Go di JICC, Senayan, Jakarta Pusat. Momen itu langsung menjadi bagian paling emosional dari konser hari pertama karena ia membuka sisi paling personal di hadapan penonton.
Di atas panggung, penyanyi 36 tahun itu mengakui duka atas kepergian sang ibu masih sangat terasa. Ia juga menunjukkan bagaimana kehilangan itu belum sepenuhnya bisa ia tempatkan dalam hidupnya, meski sudah berjalan cukup lama.
Pergulatan dengan kehilangan
Raisa mengatakan tahun lalu menjadi masa ketika dirinya mulai benar-benar mengenal rasa kehilangan. Ia membedakan antara mengetahui bahwa kesedihan ada dan merasakan langsung hampa karena kehilangan sosok ibu.
Ia lalu mengungkapkan bahwa pengalaman itu terasa berbeda dari duka lain yang pernah ia bayangkan. Dengan suara tertahan, ia menyebut tidak ada yang benar-benar setara dengan kehilangan seorang ibu.
Raisa juga menceritakan kebingungannya dalam memaknai duka tersebut. Ia mempertanyakan apakah dirinya harus terus larut atau justru menolak untuk mengingat kembali sosok yang dicintainya.
“Kayak kita tahu kesedihan, kita tahu people come and go, kita tahu, cuma tidak ada yang bener-bener se-terasa seperti kehilangan seorang ibu,” ujarnya. Setelah itu, ia menambahkan bahwa dirinya enggan berhenti berduka, tetapi juga tidak mungkin menghapus ingatan tentang sang ibu.
Duka yang dipilih untuk dijalani
Alih-alih menekan rasa sedih, Raisa memilih berdamai dengan kehilangan itu. Ia memandang duka bukan sekadar rasa sakit, tetapi juga ruang untuk menyimpan kembali memori yang berharga.
Ia menyebut harapannya agar duka itu tetap hadir bersamanya. Menurut dia, di dalam duka itulah kenangan tentang ibu dan orang-orang yang dicintai tetap hidup.
“Sekarang aku malah berharap duka ini selamanya bersamaku. Karena justru di dalam duka ini, semua memori-memori Ibu, semua memori-memori orang yang kita cintai itu, ada,” ucapnya.
Pernyataan itu menjadi pengantar sebelum Raisa menyanyikan lagu “Kuharap Duka Ini Selamanya”. Lagu tersebut memperkuat nuansa emosional konser dan menjadikan panggung sebagai ruang untuk merayakan sekaligus mengenang sosok yang telah tiada.
Ucapan yang membuat suasana hening
Sebelum bernyanyi, Raisa juga mengungkapkan keinginan sederhana yang tak bisa lagi ia sampaikan kepada ibunya. Ia menggambarkan bagaimana kehadiran Ria Mariaty terasa sangat hilang di momen penting dalam hidup dan kariernya.
“Sekarang nih misalkan lagi konser, pengin bilang, ‘Bu, keren banget deh (aku konser) sama Mas Andi’. Tapi enggak bisa,” katanya. Kalimat itu membuat suasana panggung perlahan hening.
Ia lalu melanjutkan dengan pengakuan yang paling menusuk malam itu. “Ketidakhadiran Ibu malam hari ini tuh bener-bener terasa nyaring banget buat aku,” ujarnya lirih.
Usai pengakuan tersebut, Raisa bernyanyi diiringi piano Andi Rianto. Di belakang panggung, layar besar memutar kompilasi video kenangan manis kebersamaan Raisa dengan sang ibu.
Perpaduan suara, musik, dan visual itu membuat segmen tersebut terasa sangat intim. Konser Love & Let Go malam itu bukan hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga tempat Raisa menunjukkan bagaimana duka dan kenangan bisa hadir begitu kuat di hadapan banyak orang.
Source: www.suara.com






