Purbaya Tolak Utang IMF Dan Bank Dunia, APBN Tetap Aman Dengan Cadangan Rp420 Triliun

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak tawaran utang dari Dana Moneter Internasional atau IMF dan Bank Dunia dalam pertemuan di Washington DC, Amerika Serikat. Sikap itu diambil karena pemerintah menilai kondisi fiskal Indonesia masih aman dan belum memerlukan pinjaman dari lembaga keuangan global tersebut.

Purbaya menyampaikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN masih terjaga, sementara cadangan fiskal juga masih tersedia dalam jumlah besar. Ia menyebut Saldo Anggaran Lebih atau SAL berada di kisaran Rp420 triliun, sehingga ruang fiskal Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan ekonomi.

APBN dinilai masih kuat

Dalam penjelasannya, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak melihat kebutuhan mendesak untuk menambah utang baru. Ia menilai posisi APBN masih sehat, sehingga langkah yang diambil justru difokuskan pada pengamanan fiskal dari dalam negeri.

Pemerintah, kata Purbaya, sudah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas anggaran. Efisiensi belanja dan tambahan penerimaan dari sektor sumber daya mineral menjadi dua penopang utama yang disebut membantu menjaga kondisi keuangan negara.

Diskusi soal defisit dan pembiayaan

Pembicaraan dengan IMF dan Bank Dunia juga menyinggung komitmen Indonesia untuk menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen. Menurut Purbaya, pihak lembaga internasional ingin mengetahui cara pemerintah menutup kebutuhan pembiayaan jika defisit meningkat.

“Dijelaskan seperti apa. Salah satu yang ditanya adalah defisitnya di 3%, subsidinya naik, gimana cara nutupnya? Ya kita jelaskan,” ungkap Purbaya di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026).

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah sudah memiliki penjelasan teknis mengenai strategi fiskal yang dipakai. Dengan begitu, Indonesia tetap bisa menjaga ruang aman anggaran tanpa harus buru-buru mencari utang tambahan.

Tawaran US$20 miliar hingga US$30 miliar

Purbaya mengatakan IMF dan Bank Dunia sempat menawarkan dana bantuan dalam kisaran US$20 miliar hingga US$30 miliar. Dana itu disebut disiapkan untuk negara-negara yang membutuhkan dukungan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ia menyebut tawaran tersebut disampaikan dalam forum resmi, termasuk saat ada ajakan agar Indonesia memakai fasilitas pinjaman dari lembaga itu. Namun, Purbaya tidak menindaklanjutinya karena pemerintah menilai kondisi keuangan negara masih berada dalam posisi aman.

“Kalau di World Bank saya diam saja, tetapi yang terakhir nawarin lagi ‘kalau mau itu dipakai boleh’, suruh utang ke dia,” kata Purbaya.

Alasan penolakan: dana internal masih cukup

Sikap serupa juga disampaikan saat tawaran datang dari IMF. Purbaya mengucapkan terima kasih atas penawaran itu, tetapi menegaskan bahwa pemerintah belum membutuhkan fasilitas tersebut.

“IMF juga sama. Saya bilang ya itu terima kasih atas tawarannya, tetapi sekarang kondisi APBN kita masih bagus dan saya belum butuh itu,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah ingin menjaga fleksibilitas kebijakan fiskal. Selama cadangan internal masih cukup, tambahan utang dari lembaga internasional belum dianggap relevan untuk diambil.

Cadangan SAL jadi bantalan

Selain kondisi APBN yang dinilai sehat, pemerintah juga memiliki Saldo Anggaran Lebih yang masih besar. Purbaya menyebut SAL sebesar Rp420 triliun dapat menjadi bantalan ketika negara memerlukannya untuk menjaga stabilitas anggaran.

Dengan modal itu, pemerintah menilai Indonesia masih mampu bertahan tanpa pembiayaan eksternal dari IMF maupun Bank Dunia. Fokus utama tetap diarahkan pada disiplin anggaran, efisiensi belanja, dan penguatan penerimaan agar ketahanan fiskal tetap terjaga.

Di tengah pembahasan soal defisit, subsidi, dan risiko dari perubahan harga minyak global, pemerintah menegaskan bahwa kondisi keuangan negara masih aman. Posisi tersebut menjadi dasar utama keputusan untuk menolak utang baru dan mempertahankan strategi pembiayaan yang lebih bertumpu pada kekuatan fiskal domestik.

Baca Juga

Back to top button