Di Tengah Gejolak Global, Purbaya Pastikan Sistem Keuangan RI Tetap Tahan

Ketidakpastian global, perlambatan ekonomi, dan pasar keuangan yang volatil belum menggoyahkan stabilitas sistem keuangan Indonesia pada Semester I 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai ketahanan domestik tetap terjaga di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

Purbaya menyampaikan penilaian tersebut sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (20/7). Ia menekankan bahwa respons terhadap tekanan global tidak bertumpu pada satu kebijakan saja.

“Di tengah tingginya ketidakpastian global, stabilitas sistem keuangan Indonesia pada Semester I 2026 tetap terjaga,” ujar Purbaya dalam keterangan tertulis. Menurutnya, koordinasi kebijakan menjadi fondasi untuk menjaga kepercayaan terhadap perekonomian nasional.

Empat Otoritas Menjaga Ketahanan Ekonomi

KSSK memperkuat sinergi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan. Koordinasi ini mencakup kebijakan fiskal, moneter, pengawasan sektor jasa keuangan, hingga perlindungan simpanan.

Langkah bersama tersebut diarahkan agar setiap instrumen dapat saling mendukung ketika risiko dari luar negeri meningkat. Purbaya memandang kebijakan yang berjalan terpadu penting untuk menjaga stabilitas sekaligus menopang pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

APBN Dipakai Meredam Tekanan

Dari sisi fiskal, APBN tetap berfungsi sebagai shock absorber atau peredam guncangan bagi ekonomi. Pemerintah menggunakannya untuk menjaga stabilitas ekonomi, mendukung pertumbuhan, serta merespons risiko yang muncul dari dalam dan luar negeri.

Kinerja fiskal pada paruh pertama tahun menunjukkan pendapatan dan belanja negara sama-sama meningkat. Keseimbangan primer juga masih berada pada posisi surplus, sementara defisit APBN diproyeksikan tetap terkendali hingga akhir tahun.

Indikator FiskalPerkembanganKeterangan
Pendapatan negaraTumbuh 21,4 persen yoyHingga paruh pertama tahun
Belanja negaraMeningkat 17,8 persen yoyHingga paruh pertama tahun
Keseimbangan primerSurplusMasih mencatat surplus
Defisit APBN2,85 persen terhadap PDBProyeksi akhir tahun

Pendapatan negara disebut tumbuh 21,4 persen secara tahunan, sedangkan belanja negara naik 17,8 persen secara tahunan. Defisit APBN diproyeksikan mencapai 2,85 persen terhadap produk domestik bruto pada akhir tahun.

Pemerintah juga menempatkan uang negara pada bank umum dengan menyesuaikan kondisi likuiditas pasar. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kondisi likuiditas dan menjaga daya tahan perekonomian.

Stimulus Menyasar Harga, Usaha, dan Pekerjaan

Peran APBN turut terlihat dalam upaya menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak dan pangan. Pemerintah juga menyiapkan paket stimulus untuk menjaga keberlanjutan dunia usaha serta mendorong aktivitas ekonomi.

Paket tersebut mencakup diskon transportasi dan insentif impor LPG serta plastik. Pemerintah juga menyiapkan relaksasi iuran Jaminan Kecelakaan Kerja atau JKK dan Jaminan Kematian atau JKM.

Dukungan diarahkan pula kepada sektor pariwisata dan industri padat karya. Program magang dan vokasi masuk dalam rangkaian kebijakan untuk menopang kegiatan ekonomi serta memperkuat tenaga kerja.

Purbaya menegaskan kewaspadaan terhadap risiko global dan domestik akan terus ditingkatkan. “Melalui koordinasi yang erat antar lembaga, kami memastikan setiap kebijakan saling memperkuat sehingga stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait