PTPN I Minta Transformasi BUMN Perkebunan Dipercepat, 5 Pilar Ini Jadi Kuncinya

Author: Cung Media

Transformasi BUMN perkebunan dinilai tidak bisa lagi berjalan lambat di tengah tekanan global yang terus berubah. PTPN I menegaskan, percepatan dibutuhkan agar sektor ini tetap relevan, produktif, dan memberi nilai tambah bagi ekonomi nasional.

Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras menilai industri perkebunan memegang peran besar dalam rantai ekonomi. Sektor ini bukan hanya penyedia bahan baku bagi industri manufaktur, tetapi juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar di berbagai daerah.

Industri yang Tak Cuma Soal Produksi

Rivai menyebut perkebunan sebagai sektor yang terus hidup selama masih ada kebutuhan terhadap bahan baku. Karena itu, perusahaan perlu memperkuat semua lini melalui modernisasi dan profesionalitas agar bisa berkembang lebih progresif.

Ia juga menekankan bahwa transformasi tidak boleh berhenti pada pencarian laba. Perubahan itu harus memberi dampak sosial yang lebih luas, terutama lewat lapangan kerja dan penguatan ekonomi daerah.

“Kita harus bertransformasi dengan cepat dan masif bukan hanya karena mengejar profit, tetapi menjaring efek sosial yang lebih luas,” ujarnya di Jakarta, Jumat (10/7).

Tekanan Bisnis Makin Kompleks

Menurut Rivai, industri perkebunan kini berhadapan dengan banyak tantangan sekaligus. Persaingan global, fluktuasi harga komoditas, perubahan iklim, tuntutan Environmental, Social, and Governance (ESG), dan percepatan digitalisasi membuat pola pengelolaan lama tidak lagi memadai.

Dalam situasi itu, pengelolaan perkebunan harus bergerak dari sekadar orientasi produksi menuju penciptaan nilai tambah. Perusahaan juga dituntut lebih lincah berinovasi dan beradaptasi agar tetap kompetitif.

Pilar Transformasi Fokus Utama
Good Corporate Governance (GCG) Tata kelola transparan, akuntabel, dan profesional
Manajemen Risiko Antisipasi ketidakpastian bisnis dan volatilitas harga
Digitalisasi Efisiensi, kecepatan, akurasi, dan keputusan berbasis data
Optimalisasi Aset Negara Nilai ekonomi lebih besar dan manfaat bagi masyarakat
Sinergi Kelembagaan Kolaborasi lintas pihak untuk mendukung transformasi

5 Pilar yang Ditegaskan PTPN I

Untuk mempercepat transformasi, PTPN I menempatkan lima pilar sebagai fondasi utama. Kelimanya adalah Good Corporate Governance, manajemen risiko, digitalisasi, optimalisasi aset negara, dan penguatan sinergi kelembagaan.

Rivai menilai tata kelola yang transparan, akuntabel, dan profesional penting untuk membangun kepercayaan pemangku kepentingan. Fondasi itu juga dibutuhkan agar perusahaan bisa bertahan dalam jangka panjang.

Di sisi lain, manajemen risiko diperlukan untuk menghadapi ketidakpastian bisnis. Volatilitas harga komoditas hingga dampak perubahan iklim harus dikelola secara terukur supaya perusahaan tetap tumbuh berkelanjutan.

“Perusahaan yang kuat bukan hanya mampu menghasilkan keuntungan, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola risiko secara terukur sehingga tetap tumbuh secara berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global,” tegasnya.

Digitalisasi juga dipandang sebagai perubahan budaya kerja, bukan sekadar penerapan teknologi. Smart farming dan integrasi sistem informasi disebut menjadi langkah penting untuk mendorong efisiensi, kecepatan, akurasi, dan keputusan berbasis data.

Optimalisasi aset negara diarahkan untuk menghadirkan nilai ekonomi yang lebih besar. Manfaatnya diharapkan meluas melalui kemitraan, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi di wilayah operasional.

Kolaborasi Jadi Penentu

PTPN I menegaskan transformasi tidak bisa berjalan sendirian. Keberhasilan perubahan ini bergantung pada kolaborasi dengan pemerintah, regulator, dunia usaha, akademisi, aparat penegak hukum, dan masyarakat.

“Transformasi bukanlah pekerjaan satu orang atau satu institusi. Ini adalah gerakan bersama untuk membangun perusahaan agribisnis nasional,” kata Rivai.

MediaIndonesia.com mencatat, dorongan percepatan ini muncul di tengah kebutuhan industri perkebunan untuk naik kelas dan menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar yang semakin kompleks.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru