Prof KH Noor Achmad resmi menakhodai Majelis Ulama Indonesia Jawa Tengah untuk masa khidmah 2026–2031 setelah terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah XI MUI Jawa Tengah. Pergantian kepemimpinan ini langsung menandai arah baru organisasi di tingkat provinsi.
Musda XI digelar di Hotel Wahid, Bandungan, Kabupaten Semarang, pada Rabu–Kamis (10–11/6/2026) dengan tema “Menjaga Moralitas Beragama, Bermasyarakat, dan Bernegara”. Dalam forum itu, MUI Jateng juga menetapkan susunan pengurus lengkap yang akan mendampingi kepengurusan baru.
Soliditas Jadi Sorotan Awal
Dalam sambutan perdananya, Prof Noor Achmad menekankan pentingnya merapatkan barisan. Ia menilai tantangan kehidupan keislaman semakin kompleks sehingga MUI perlu bergerak dengan kolaborasi yang lebih luas.
“Kita harus merapatkan barisan. Perlu banyak kolaborasi dan kerja sama dari berbagai elemen untuk menjalankan roda organisasi MUI Jateng ke depan,” ujarnya.
Pesan itu menegaskan bahwa tugas ulama dan organisasi keagamaan tidak bisa dijalankan secara parsial. Menurutnya, pelayanan, pembinaan, dan penguatan umat hanya akan optimal jika ada sinergi antara ulama, organisasi masyarakat, pemerintah, dan unsur sosial lain.
Dukungan dari Dewan Pertimbangan dan MUI Pusat
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jawa Tengah terpilih, KH Ahmad Darodji, menyampaikan keyakinan bahwa kepemimpinan Prof Noor Achmad akan membawa organisasi berkembang. Ia menilai pengalaman panjang dan jejaring yang dimiliki menjadi modal penting untuk melanjutkan arah organisasi.
KH Ahmad Darodji juga mengajak pengurus dan kader menjaga semangat dalam menguatkan peran MUI di tengah masyarakat. Ia berharap jajaran baru tidak kehilangan energi dan tetap optimistis menghadapi masa khidmah lima tahun ke depan.
Wakil Ketua Umum MUI Pusat, Marsudi Syuhud, menegaskan bahwa MUI merupakan rumah besar bagi berbagai organisasi Islam di Indonesia. Ia menyebut di dalamnya ada unsur Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad, hingga Al-Washliyah.
Menurut Marsudi, keberagaman pandangan dan praktik keagamaan adalah hal yang wajar dalam kehidupan umat. Namun, perbedaan itu perlu dikelola agar tetap menjadi kekuatan pemersatu dan tidak berubah menjadi gesekan sosial.
Susunan Pengurus Baru MUI Jateng 2026–2031
Susunan pengurus yang ditetapkan dalam Musda XI menjadi dasar kerja organisasi untuk lima tahun mendatang. Di jajaran Dewan Pimpinan Harian, Prof Dr KH Noor Achmad MA dipercaya sebagai Ketua Umum dan Drs KH Muhyiddin MAg sebagai Wakil Ketua Umum.
Posisi ketua diisi oleh KH Haris Shodaqoh, Prof Dr H Imam Yahya MAg, Drs H Musman Tholib MAg, Prof Dr H Abu Rokhmad MAg, Prof KH Abu Hapsin MA PhD, Prof Dr H Mahmutarom SH MH, Prof Dr Hj Sri Suhandjati, Dr Zuhad Masduki MA, Drs HM Zain Yusuf MM, Prof Dr Sofyan Anif, dan KH Fadlullah Turmudzi.
Untuk sekretariat, Dr H Muh Syaifudin MA menjabat Sekretaris Umum. Ia didampingi Dr Hj Umul Baroroh MAg, Dr H Multazam Ahmad MPd, Ir KH Khammad Maksum Al-Hafidz, Prof Dr H Ahmad Izzuddin MAg, Dr H Andi Purwono MSi, Prof Dr Arif Junaidi MAg, Dr H Hasan Asy’ari Ulama’i MAg, Drs H Moh Ahyani MSi, Dr. H Iskandar Chang SAg MSi, Dr Ahmad Furqon, dan KH Ahmad Zaki Fuad SThI.
Bidang keuangan dipercayakan kepada H Agus Sumartono SE sebagai Bendahara Umum. Ia dibantu Dr H Nor Hadi SE MSi Akt CA, Hj Gatyt Sari Chotidjah SH MM, dan Budi Santoso sebagai bendahara.
Musda XI juga menetapkan Tim Formatur dengan Dr. KH. Ahmad Darodji, M.Si sebagai ketua dan Drs. KH. Muhyiddin, M.Ag sebagai sekretaris. Dengan susunan ini, MUI Jawa Tengah memasuki periode baru dengan struktur yang sudah lengkap sejak awal masa khidmah.
