
Seorang prajurit Angkatan Darat Amerika Serikat didakwa setelah diduga memanfaatkan informasi rahasia dari operasi militer untuk meraup lebih dari $400.000 lewat taruhan daring. Kasus ini langsung menarik perhatian karena terkait misi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan memperlihatkan bagaimana akses informasi internal bisa digunakan untuk keuntungan pribadi.
Jaksa federal di New York menuduh Gannon Ken Van Dyke menyalahgunakan pengetahuan yang hanya dimiliki orang dalam saat mengikuti pasar prediksi Polymarket. Otoritas menilai taruhan yang ia pasang tidak sekadar spekulasi biasa, melainkan berangkat dari informasi yang belum dipublikasikan.
Dugaan taruhan yang terhubung ke operasi rahasia
Van Dyke disebut membuat akun Polymarket menjelang akhir Desember dan menempatkan sekitar 13 taruhan. Isi taruhannya mendukung skenario seperti keberadaan pasukan AS di Venezuela dan Maduro tidak lagi berkuasa pada akhir Januari 2026.
Penyidik menduga pilihan itu sangat spesifik dan selaras dengan informasi internal yang ia akses selama sekitar satu bulan. Karena itu, jaksa menilai ada pola pemanfaatan data rahasia untuk mengambil posisi yang lebih menguntungkan di pasar prediksi tersebut.
Taruhan di Polymarket sendiri memang bergantung pada kemampuan pengguna membaca kemungkinan peristiwa politik dan keamanan internasional. Namun dalam kasus ini, aparat menuding keuntungan yang didapat tidak lahir dari analisis biasa, melainkan dari informasi pemerintah yang tidak semestinya dipakai untuk berjudi.
Sejumlah dakwaan berat menjerat prajurit AS ini
Van Dyke menghadapi beberapa dakwaan, mulai dari penggunaan tidak sah atas informasi pemerintah yang bersifat rahasia untuk keuntungan pribadi hingga pencurian informasi pemerintah yang tidak dipublikasikan. Ia juga didakwa atas penipuan komoditas, penipuan melalui jaringan elektronik, dan transaksi moneter ilegal.
Jika tuduhan itu terbukti, ia dapat menghadapi hukuman penjara selama bertahun-tahun. Kasus ini sekaligus menambah tekanan pada institusi pertahanan agar memperketat pengawasan atas akses rahasia yang dimiliki personel militer.
Menurut dokumen perkara, Van Dyke adalah prajurit senior yang tergabung dalam komunitas pasukan khusus dan bertugas di Fort Bragg, Fayetteville, North Carolina. Ia masuk Angkatan Darat pada 2008 dan naik menjadi Master Sergeant pada 2023, pangkat tamtama tinggi di Angkatan Darat AS.
Kerahasiaan operasi dan persoalan disiplin militer
Dokumen pengadilan menyebut Van Dyke menandatangani perjanjian kerahasiaan yang melarang pengungkapan “informasi rahasia atau sensitif” terkait operasi tersebut. Fakta itu membuat dugaan penyalahgunaan akses menjadi semakin serius, karena menyangkut kewajiban menjaga informasi negara.
Dalam salah satu keterangan, ia digambarkan difoto setelah penggerebekan di dek sebuah kapal sambil mengenakan seragam militer AS dan membawa senapan. Detail tersebut memperkuat gambaran tentang kedekatannya dengan operasi yang menjadi dasar perkara.
Aliran uang kemenangan ikut disorot penyidik
Jaksa menuduh sebagian besar uang kemenangan itu dipindahkan tak lama setelah operasi selesai ke sebuah vault kripto luar negeri. Dana tersebut kemudian disebut dialihkan ke rekening broker baru.
Penyidik juga menaruh perhatian pada permintaan Van Dyke agar Polymarket menghapus akunnya dengan alasan kehilangan akses ke email yang terhubung ke akun tersebut. Langkah itu kini dinilai penting untuk menelusuri jejak transaksi dan kemungkinan upaya menyamarkan aktivitas taruhan.
Dalam kasus seperti ini, aliran dana sering menjadi titik kunci karena dapat menunjukkan apakah hasil taruhan benar-benar dikelola secara biasa atau justru sengaja disembunyikan. Karena itu, setiap perpindahan uang menjadi bagian dari pembuktian yang diperiksa aparat.
Respons FBI dan sorotan ke pasar prediksi
Direktur FBI Kash Patel mengatakan pengumuman kasus tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu pun orang yang kebal hukum. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang memakai akses rahasia untuk keuntungan pribadi akan dimintai pertanggungjawaban.
Pentagon mengarahkan pertanyaan soal perkara ini ke Angkatan Darat dan Departemen Kehakiman. US Special Operations Command belum langsung memberi komentar atas permintaan keterangan.
Kasus Van Dyke muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap pasar prediksi daring seperti Polymarket. Associated Press sebelumnya melaporkan adanya akun-akun baru yang memasang taruhan sangat spesifik dan tepat waktu soal kemungkinan AS dan Iran mencapai gencatan senjata pada 7 April, yang menghasilkan keuntungan ratusan ribu dolar bagi pengguna baru tersebut.
Perkara ini kini menjadi contoh paling menonjol tentang bagaimana informasi sensitif dari lingkungan militer bisa berubah menjadi alat mencari untung di pasar digital, sekaligus menguji seberapa kuat pengawasan terhadap akses rahasia di tubuh angkatan bersenjata.





