Kuba Terjebak Lapar Dan Listrik Padam, Washington Akan Turun Tangan?

Warga Kuba kini terjebak di antara dua ketakutan yang sama kuat: kelaparan yang semakin nyata dan bayang-bayang konfrontasi dengan Amerika Serikat. Di tengah listrik yang sering padam, layanan publik yang runtuh, dan represi yang terus berjalan, pertanyaan yang makin sering terdengar bukan lagi soal kapan hidup membaik, melainkan apakah Washington akan turun tangan membantu.

Di Havana, kondisi itu terasa sangat konkret. Seorang warga bernama Laura memulai pagi setelah lebih dari 20 jam tanpa listrik, sementara anaknya tak bisa tidur semalaman karena panas dan nyamuk, susu sudah basi, dan sarapan hanya air gula serta sepotong roti.

Krisis dasar yang saling mengunci

Pemadaman listrik di Kuba kini bukan lagi gangguan sesaat, melainkan bagian dari hidup sehari-hari. Di beberapa wilayah, warga bisa melewati dua atau tiga hari berturut-turut tanpa listrik.

Menteri energi Kuba pada Mei mengatakan negara itu kehabisan diesel dan bahan bakar minyak yang dibutuhkan untuk menjalankan pembangkit listrik. Padamnya listrik lalu menyeret masalah lain, mulai dari pasokan air, transportasi, hingga kemampuan menyimpan dan menyiapkan makanan.

Bagi banyak keluarga, keadaan itu memaksa mereka mencari cara bertahan yang semakin sulit. Laura mengatakan ia kadang harus mencari kayu bakar untuk memasak karena arang terlalu mahal, dan banyak keluarga hanya mampu makan satu kali sehari.

Situasi di bagian timur disebut lebih berat. Yadira dari provinsi Santiago de Cuba menggambarkan orang-orang berjalan seperti zombie dan tampak seperti menderita penyakit terminal, padahal yang mereka alami adalah kelaparan.

Seorang warga dari Camagüey mengatakan kulkasnya kini lebih sering dipakai sebagai lemari karena listrik hampir tak pernah ada. Ia bertahan dengan apa pun yang bisa ditemukan untuk dimakan setiap hari, termasuk kadang hasil yang diambil dari sungai.

Upah kecil, pangan mahal

Tekanan ekonomi membuat makanan nyaris menjadi hitungan yang mustahil. Upah minimum di Kuba hanya 2.100 peso per bulan, setara kurang dari 4 dolar, sementara pensiun rata-rata sekitar 9 dolar.

Dengan pendapatan seperti itu, gaji bulanan hanya cukup untuk membeli kira-kira satu botol minyak goreng, satu pon beras, dan beberapa butir telur. Masalahnya, pangan memang tersedia, tetapi banyak dijual di toko yang hanya menerima mata uang asing.

Sebagian besar warga tidak menerima kiriman uang dari luar negeri dan tidak bekerja di sektor swasta yang sedang tumbuh. Akibatnya, akses terhadap makanan tetap tertutup meski barang ada di pasar tertentu.

Sistem jatah negara, atau libreta de abastecimiento, yang sudah berjalan sejak 1960-an juga nyaris runtuh. Di negara yang dulu dijanjikan sebagai proyek keadilan sosial, orang tua kini terlihat mencari makanan di tempat sampah dan anak-anak meminta-minta di jalan.

Layanan publik ikut ambruk

Krisis ekonomi itu berjalan beriringan dengan runtuhnya layanan publik. Rumah sakit kekurangan barang dasar seperti jarum suntik dan antibiotik, sehingga keluarga terpaksa mencari obat di pasar gelap.

Ambulans juga kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk merespons keadaan darurat. Dalam banyak kasus, pasien dilaporkan meninggal sambil menunggu perawatan yang tidak pernah tiba.

Tekanan itu memicu kemarahan di jalanan. Setiap malam, warga Kuba memukul panci, membakar tempat sampah, dan memblokade jalan sambil meneriakkan “freedom” dan “down with the dictatorship”.

Cuban Observatory of Conflicts mencatat 1.133 aksi protes pada April saja. Angka itu hampir 30 persen lebih tinggi dibanding bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Represi dan jurang dengan Washington

Respons pemerintah datang lewat penangkapan, vonis penjara hingga delapan tahun, dan tindakan keras terhadap demonstran. Lebih dari 700 tahanan politik masih mendekam di penjara.

Tekanan terbesar dirasakan jurnalis independen dan aktivis hak asasi manusia. Aparat kepolisian politik disebut meningkatkan penindakan terhadap kelompok-kelompok itu setelah protes meluas.

Di sisi lain, jurang antara rakyat dan elite penguasa semakin terlihat. GAESA, kelompok administrasi bisnis milik angkatan bersenjata revolusioner, mengendalikan sedikitnya 40 persen ekonomi nasional dan sebagian besar transaksi valuta asing.

Total aset GAESA dilaporkan mencapai 18 miliar dolar. Kelompok itu berada di pusat ketegangan yang kian tajam antara Havana dan Washington.

Amerika Serikat juga telah mendakwa Raúl Castro terkait tuduhan pembunuhan yang berhubungan dengan penembakan dua pesawat sipil pada 1996 di wilayah udara internasional. Menanggapi tekanan itu, Presiden Miguel Díaz-Canel memperingatkan bahwa aksi militer AS akan memicu “bloodbath with incalculable consequences.”

Harapan yang bercampur putus asa

Di tengah semua tekanan itu, warga biasa tetap terjebak antara takut perang dan harapan putus asa akan perubahan. Seorang warga Havana mengatakan upaya menuntut hak secara damai selalu berakhir dengan represi.

Ia menilai jalan damai tidak lagi cukup dan mengatakan rezim harus berakhir. Warga lain, Rebeca, menyebut banyak orang berharap pejabat AS menyingkirkan keluarga Castro sebagaimana Washington menyingkirkan Nicolás Maduro dari Venezuela pada Januari.

Pertanyaan itu kini berulang dalam percakapan sehari-hari. Seorang perempuan muda bahkan bertanya, “When are the Americans coming to liberate us?” dengan nada yang bercampur humor gelap dan keputusasaan.

Kalimat itu mencerminkan keadaan yang lebih luas di Kuba saat ini. Di tengah listrik yang padam, air yang tak mengalir, dan makanan yang nyaris tak terjangkau, banyak warga terus menatap Washington sambil bertanya apakah ada yang akan datang membantu.

Terkait