Polytron masih mampu mencatat penjualan di pasar mobil listrik Indonesia yang persaingannya kian rapat. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan retail atau diler ke konsumen pada periode Januari–Maret 2026 mencapai 153 unit, ditopang oleh dua model utama, yakni Polytron G3 dan G3+.
Capaian itu menjadi sinyal bahwa merek elektronik asal Indonesia ini belum tersisih dari peta persaingan kendaraan listrik nasional. Di saat banyak pemain berlomba menawarkan harga dan fitur, Polytron memilih bertahan dengan menekankan nilai produk, kualitas, dan kepercayaan konsumen.
Masih mampu bergerak di tengah kompetisi ketat
Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo, menyebut perusahaan tetap bersyukur karena masih bisa menjual produk di tengah pasar yang sangat kompetitif. Ia menilai suasana persaingan saat ini cukup sehat, tetapi setiap merek tetap harus punya daya tawar yang jelas.
“Kita bersyukur kita masih bisa menjual produk kita di tengah kondisi yang sebetulnya secara kompetisi juga agak-agak sehat,” ujar Tekno di Jakarta, Selasa. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa bagi pemain baru, sekadar hadir di pasar belum cukup untuk mempertahankan posisi.
Persaingan mobil listrik kini menuntut produsen menjaga banyak hal sekaligus. Harga harus masuk akal, kualitas harus konsisten, dan layanan juga perlu memberi rasa aman kepada konsumen.
Harga jual di bawah biaya produksi
Tekno juga membuka tekanan yang dihadapi perusahaan dari sisi biaya. Ia mengatakan harga jual mobil listrik Polytron saat ini masih berada di bawah harga produksi, sementara nilai rupiah sempat melemah hingga menembus 17.000 per dolar AS.
Situasi itu membuat ruang gerak produsen menjadi terbatas. Meski begitu, Polytron tampak memilih pendekatan jangka panjang dengan menargetkan konsumen yang lebih melihat nilai keseluruhan produk, bukan hanya harga di awal pembelian.
Menurut Tekno, ada segmen pasar yang memahami bahwa barang dengan kualitas tertentu memang punya harga yang sepadan. Karena itu, Polytron menempatkan produknya untuk pembeli yang menimbang mutu, bukan semata mencari kendaraan termurah.
Pijakan awal yang sudah terbentuk
Pergerakan Polytron di pasar mobil listrik terbilang cepat sejak mulai memasarkan produknya pada semester dua 2025. Dalam waktu singkat, merek ini sudah masuk daftar 25 besar penjualan nasional.
Data yang ada menunjukkan penjualan wholesale Polytron pada Januari 2026 mencapai 82 unit dan menempatkannya di posisi 25 nasional. Lalu, penjualan retail pada Januari–Maret 2026 naik menjadi 153 unit, yang menunjukkan ada pergerakan pasar yang masih berlanjut.
Seluruh model Polytron, yakni G3 dan G3+, juga sudah dirakit secara lokal di fasilitas PT Handal Indonesia Motor di Purwakarta, Jawa Barat. Perakitan lokal ini memberi nilai tambah karena memperlihatkan komitmen perusahaan untuk membangun basis produksi di dalam negeri.
Data penting Polytron di pasar mobil listrik
- Penjualan retail Januari–Maret 2026: 153 unit
- Model penopang penjualan: G3 dan G3+
- Wholesales Januari 2026: 82 unit
- Peringkat nasional Januari 2026: posisi 25
- Lokasi perakitan: PT Handal Indonesia Motor, Purwakarta, Jawa Barat
Tetap relevan di pasar yang berubah cepat
Di tengah pasar mobil listrik Indonesia yang makin padat pemain, langkah Polytron menunjukkan bahwa peluang masih ada bagi merek yang punya strategi jelas. Perakitan lokal, fokus pada segmen tertentu, dan penekanan pada kualitas menjadi modal utama untuk menjaga keberadaan mereka di pasar.
Dengan penjualan yang masih berjalan, Polytron kini menghadapi tantangan berikutnya untuk mempertahankan kepercayaan konsumen. Di pasar yang bergerak cepat, konsistensi produk dan persepsi nilai akan menentukan apakah G3 dan G3+ bisa terus menjaga tempatnya di tengah kompetisi yang semakin keras.
Source: otomotif.kompas.com






