Politeknik Negeri Malang atau Polinema memilih jalur yang sunyi tetapi strategis untuk menyiapkan Indonesia Emas 2045. Kampus di Kota Malang itu menjadikan perkuliahan adaptif sebagai kunci agar lulusan tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap bergerak cepat menghadapi perubahan dunia kerja.
Langkah ini terlihat dari cara Polinema menyusun kurikulum dan materi ajar yang menyesuaikan perkembangan zaman, dinamika sosial, situasi dalam dan luar negeri, serta kebutuhan sektor industri. Direktur Polinema Ir Supriatna Adhisuwignjo menekankan bahwa strategi tersebut dirancang supaya lulusan bisa langsung memberi kontribusi setelah menyelesaikan studi.
Kurikulum yang mengikuti perubahan
Polinema tidak memosisikan pembelajaran sebagai proses yang berhenti di kelas. Kampus ini mengarahkan pendekatan out come base education untuk memperkuat kemampuan teknis sekaligus nonteknis mahasiswa, sehingga hasil pendidikan lebih dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Di saat banyak perguruan tinggi masih bergulat dengan penyesuaian model belajar, Polinema justru menempatkan adaptasi sebagai inti kebijakan akademik. Fokusnya bukan hanya mencetak lulusan yang paham bidang keilmuan, tetapi juga yang siap menghadapi ritme industri yang terus berubah.
Standar industri masuk ke ruang kampus
Untuk memperkuat kesiapan kerja, Polinema memakai framework organisasi pengembangan dan manufaktur kontrak atau CDMO dengan standar internasional. Arah ini dipakai untuk membentuk lulusan yang kompetitif di pasar kerja nasional sekaligus punya daya saing global.
Penguatan itu tidak berhenti pada penyusunan kurikulum. Mahasiswa juga diwajibkan magang di industri dan menjalani tugas akhir bersama mitra industri agar pengalaman belajar mereka menyatu dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia kerja.
Polinema menyebut sekitar 90 persen mitranya berasal dari sektor industri. Keterlibatan itu membuat mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga melihat langsung cara kerja, pola koordinasi, dan standar yang digunakan di lingkungan industri modern.
Problem solver dibentuk sejak masa kuliah
Melalui kedekatan dengan industri, Polinema ingin mahasiswa terbiasa mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan persoalan dengan efektif, realistis, dan kreatif. Kemampuan itu dipandang penting karena dunia kerja kini menuntut lulusan yang tidak sekadar menjalankan tugas, tetapi juga mampu mencari solusi.
Supriatna menilai karakter problem solver akan mendorong lulusan menjadi agen perubahan yang berkontribusi pada target Indonesia Emas. Ia juga menegaskan bahwa seluruh strategi pembelajaran disusun dengan mempertimbangkan tantangan yang ada sambil membaca perkembangan ke depan.
Pendekatan tersebut membuat pendidikan di Polinema diarahkan agar relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Kampus ingin hasil belajar tidak berhenti pada capaian akademik, tetapi menghasilkan lulusan yang punya dampak langsung setelah keluar dari kampus.
Pembelajaran jarak jauh mulai disiapkan
Selain memperkuat pembelajaran luring dan praktik lapangan, Polinema juga mulai merumuskan penerapan sistem pembelajaran jarak jauh. Program ini disiapkan untuk memudahkan akses belajar bagi mahasiswa asal luar kota.
Kampus turut mengarahkan bahan ajar ke format digital, termasuk e-books. Langkah ini menunjukkan upaya Polinema menyesuaikan layanan akademik dengan kebutuhan mahasiswa sekaligus perubahan pola belajar di era digital.
Perubahan itu menegaskan bahwa adaptasi di lingkungan pendidikan tinggi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal cara kampus merancang lulusan. Di Polinema, arah itu diposisikan sebagai bagian dari upaya panjang menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan masa depan.
Source: jatim.antaranews.com






