Ketegangan antara Polandia dan Ukraina kembali memanas karena luka sejarah Perang Dunia II belum benar-benar reda. Di tengah perang melawan Rusia yang masih berlangsung, perselisihan soal simbol dan nama unit tentara kini ikut menguji hubungan dua negara yang sama-sama penting bagi keamanan Eropa Timur.
Donald Tusk menilai konflik politik semacam ini adalah kesalahan strategis yang akan merugikan Polandia dan Ukraina, baik secara bisnis, geopolitik, maupun reputasi. Peringatan itu muncul saat perdebatan lama tentang masa perang kembali terbuka dan menyeret simbol kehormatan negara ke dalam pertarungan politik.
Simbol kehormatan yang memicu reaksi keras
Ketegangan terbaru dipicu oleh keputusan presiden Polandia Karol Nawrocki mencabut penghargaan tertinggi Polandia, Order of the White Eagle, dari Volodymyr Zelenskyy. Langkah itu memantik reaksi keras dan membuat tiga mantan presiden Ukraina serta sejumlah pejabat senior mengembalikan penghargaan negara mereka kepada Polandia.
Di sisi lain, Nawrocki bergerak setelah Zelenskyy membuat banyak warga Polandia marah dengan menamai sebuah unit tentara Ukraina menggunakan nama Ukrainian Insurgent Army. Kelompok nasionalis itu pernah melakukan pembantaian terhadap warga Polandia selama Perang Dunia II.
Zelenskyy berusaha meredakan situasi
Zelenskyy mencoba menurunkan tensi melalui wawancara yang diunggah di X. Ia mengatakan Ukraina dan Polandia tidak bisa menjadi apa pun selain mitra dan sahabat, sambil memperingatkan bahwa pertarungan politik dapat berujung pada eskalasi yang sangat berbahaya.
Ia juga menyebut prajurit Ukraina memilih sendiri nama heroik untuk unit mereka. Namun sebagai presiden sekaligus panglima tertinggi, ia merasa harus mendukung keputusan itu.
Zelenskyy menambahkan bahwa tanpa Ukraina, tidak ada yang akan mampu mempertahankan Polandia. Pernyataan itu menegaskan betapa eratnya keterkaitan keamanan kedua negara di tengah perang yang belum selesai.
Perang melawan Rusia tetap jadi latar utama
Di saat perdebatan diplomatik memanas, Ukraina terus meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia. Serangan itu diarahkan ke fasilitas penting jauh di belakang garis depan, termasuk depot minyak di Crimea dan fasilitas transportasi minyak di wilayah Krasnodar, menurut Zelenskyy.
Ia menyebut operasi itu sebagai “sanksi jarak jauh” terhadap infrastruktur energi Rusia. Zelenskyy mengatakan kekuatan jarak jauh Ukraina bekerja untuk perdamaian karena Rusia hanya memahami kekuatan.
Tekanan terhadap sektor energi Rusia juga terasa di dalam negeri. Ukraina dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan serangan drone ke fasilitas energi di Rusia, termasuk sebuah kilang besar di Moskow yang dihantam dua kali pekan lalu.
Crimea mengalami krisis bahan bakar terburuk
Di Crimea yang diduduki Rusia, otoritas yang dipasang Kremlin menangguhkan penjualan bensin untuk warga sipil. Kepala Crimea yang ditunjuk Kremlin mengatakan serangan Ukraina menewaskan empat orang dan melukai 28 lainnya dalam semalam.
Mulai saat itu, stasiun pengisian bahan bakar hanya boleh menjual bensin kepada lembaga pemerintah. Wilayah semenanjung itu memang pernah mengalami kelangkaan bahan bakar akibat serangan Ukraina, tetapi krisis kali ini disebut sebagai yang terburuk sejak aneksasi pada 2014.
Media sosial dipenuhi permintaan bahan bakar, sementara sebagian spekulan menjual bensin dengan harga dua kali lipat dari harga pasar. Kondisi itu menunjukkan tekanan ekonomi langsung yang ditimbulkan serangan terhadap sektor energi.
Dampak serangan juga menjangkau Moskow
Otoritas penerbangan Rusia sempat menutup empat bandara Moskow pada Senin setelah gelombang drone berhasil dicegat. Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan di Telegram bahwa 59 drone yang menuju kota itu telah dihancurkan.
Kyiv mengirim drone ke wilayah Rusia sebagai balasan atas pemboman Moskow terhadap kota-kota Ukraina, meski Sobyanin tidak menyebut drone itu berasal dari Ukraina. Otoritas kemudian mengumumkan pada pukul 5.39 pagi bahwa bandara sudah dibuka kembali.
Di tengah pertempuran yang terus meluas, serangan di medan perang dan ketegangan politik di Eropa Timur kini saling bertemu. Perselisihan simbol sejarah antara Polandia dan Ukraina menambah lapisan baru pada perang yang sudah memberi tekanan besar pada keamanan regional dan hubungan diplomatik kedua negara.
