Bamsoet Soroti Ekonomi Jawa Barat, Tumbuh Di Atas Nasional Saat Inflasi Tetap Rendah

Author: Cung Media

Bambang Soesatyo atau Bamsoet menilai Jawa Barat sedang menunjukkan daya tahan ekonomi yang tidak banyak dimiliki daerah lain di tengah gejolak global. Di saat perdagangan internasional melambat, harga komoditas berfluktuasi, dan rantai pasok dunia masih tertekan, pertumbuhan ekonomi provinsi itu tetap berjalan lebih kuat.

Capaian tersebut menarik perhatian karena datang bersamaan dengan inflasi yang masih terkendali. Kombinasi pertumbuhan tinggi dan harga yang stabil membuat Jawa Barat dipandang punya fondasi ekonomi yang kokoh untuk menghadapi ketidakpastian.

Pertumbuhan dan inflasi sama-sama positif

Bamsoet menyebut pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada 2025 berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sekitar 5,11 persen sepanjang tahun dan 5,39 persen pada triwulan IV-2025. Pada saat yang sama, inflasi Jawa Barat berada di level 2,63 persen.

Ia menilai angka itu penting karena menunjukkan ekonomi daerah tidak hanya tumbuh, tetapi juga mampu menjaga stabilitas harga. Menurut dia, pertumbuhan yang tinggi akan kehilangan nilai jika inflasi tidak bisa dikendalikan.

Daya beli ikut terlindungi

Bamsoet juga menyoroti inflasi Jawa Barat yang pada Desember 2025 tercatat 2,63 persen, lebih rendah dibanding inflasi nasional 2,92 persen. Kondisi ini dinilai ikut membantu melindungi daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang masih terasa.

Stabilitas harga juga memberi kepastian lebih besar bagi pelaku usaha dan investor. Karena itu, capaian inflasi yang rendah disebut menjadi salah satu sinyal kuat kualitas pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat.

Industri dan investasi jadi penopang utama

Menurut Bamsoet, posisi Jawa Barat sebagai pusat industri manufaktur nasional menjadi salah satu penopang paling penting. Sektor industri pengolahan, perdagangan, logistik, konstruksi, dan investasi disebut ikut mendorong mesin pertumbuhan daerah.

Ia menyoroti kawasan industri di Karawang, Bekasi, Purwakarta, Subang, hingga kawasan Rebana yang terus menarik investasi baru. Arus modal itu banyak masuk ke otomotif, kendaraan listrik, elektronik, logistik, dan industri berbasis teknologi.

Dari situ, dampaknya tidak berhenti pada perusahaan yang menanamkan modal. Aktivitas ekonomi ikut menguat, lapangan kerja meluas, dan daya beli masyarakat mendapat tambahan sokongan.

Keunggulan Jawa Barat masih menarik investor

Bamsoet menilai daya saing Jawa Barat masih kuat karena ditopang basis industri yang besar, infrastruktur yang semakin lengkap, dan kedekatan dengan pusat pasar nasional. Kombinasi itu membuat provinsi ini tetap menarik di mata investor regional maupun global.

Pandangan tersebut ia sampaikan usai mengunjungi Kabupaten Nagrek dan Tasikmalaya, saat berbicara di Liwet Asep Stroberi. Dalam penjelasannya, ia menegaskan bahwa pertumbuhan di atas rata-rata nasional dan inflasi yang terkendali merupakan indikator penting ketahanan ekonomi daerah.

Tantangan berikutnya tidak ringan

Meski mengapresiasi capaian itu, Bamsoet mengingatkan bahwa tantangan ekonomi ke depan masih berat. Perlambatan ekonomi global, kebijakan proteksionisme perdagangan, disrupsi teknologi, dan persaingan investasi antarnegara akan tetap memengaruhi daerah.

Ia menilai Jawa Barat perlu memprioritaskan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan infrastruktur logistik, percepatan hilirisasi industri, dan pengembangan ekonomi berbasis inovasi. Menurut dia, ketahanan ekonomi tidak cukup dinilai dari angka pertumbuhan semata.

Yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan itu mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat daya beli, mengurangi ketimpangan, dan meningkatkan kesejahteraan secara merata. Di titik itulah, kata Bamsoet, ketahanan ekonomi Jawa Barat akan benar-benar diuji.

Source: news.detik.com
Terbaru