Pulau Sembur Laut di Batam bersiap lepas dari ketergantungan pada genset diesel. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di pulau itu sudah mencapai sekitar 80%.
Proyek ini menarik perhatian karena bukan hanya soal listrik, tetapi juga soal perubahan ekonomi warga. Energi bersih yang digerakkan koperasi itu disiapkan untuk menopang aktivitas produktif masyarakat, terutama nelayan.
Panel sudah terpasang, baterai sudah tiba
Corporate Secretary Pertamina NRE, Nur Hidayati, menyebut seluruh panel surya untuk tahap pertama telah terpasang. Sistem baterai juga sudah dikirim dan tiba di lokasi proyek.
Pekerjaan berikutnya kini berfokus pada penyelesaian jaringan distribusi listrik dan integrasi sistem penyimpanan energi. Pada tahap awal, PLTS dibangun dengan kapasitas 400 kilo-watt peak (kWp) dan baterai 600 kilo-watt hour (kWh).
Disiapkan sampai 1 MWp
Secara keseluruhan, daya yang akan terpasang ditargetkan mencapai 1 megawatt-peak (MWp) dengan baterai 1 megawatt-hour (MWh). Pulau Sembur dipilih karena sudah memiliki aktivitas ekonomi dan koperasinya telah terbentuk, tetapi belum tersambung ke jaringan listrik.
Kondisi itu selama ini membuat warga masih bergantung pada genset berbahan bakar diesel. Biaya operasional menjadi tinggi dan pasokan energi belum cukup untuk menunjang kebutuhan harian masyarakat.
Energi bersih untuk cold storage dan pabrik es
Selain pembangkit listrik, proyek ini juga menyiapkan cold storage berkapasitas 5 ton dan ice maker berkapasitas 2 ton per hari. Fasilitas tersebut akan dikelola oleh Koperasi Merah Putih setempat.
Target operasinya berada pada triwulan III 2026. Arah pengembangannya adalah membangun ekosistem ekonomi produktif berbasis energi bersih di Pulau Sembur.
Manfaat langsung bagi nelayan
Deputi Bidang Pengembangan Usaha Koperasi Kementerian Koperasi RI, Panel Barus, menegaskan proyek ini menunjukkan sinergi antarlembaga untuk menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat. Menurutnya, kolaborasi tersebut diarahkan agar desa mendapat manfaat ekonomi yang berkelanjutan lewat pengelolaan usaha produktif berbasis energi melalui koperasi.
Dampak proyek juga mulai terasa lewat pelibatan tenaga kerja lokal dalam berbagai tahap pembangunan. Setelah beroperasi, listrik dari PLTS akan diprioritaskan untuk menggerakkan cold storage dan pabrik es yang dibutuhkan nelayan.
Skema ini diharapkan membuat nelayan tidak lagi bergantung pada pasokan es dari luar pulau. Mereka juga bisa menyimpan hasil tangkapan lebih lama, menekan biaya operasional, mengurangi ketergantungan pada genset diesel, serta meningkatkan kualitas dan nilai jual ikan.
Nur Hidayati menilai model ini dapat menjadi contoh pemanfaatan energi terbarukan yang tidak hanya menghadirkan pasokan listrik andal, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi. Dalam skema tersebut, koperasi menjadi pengelola utama aset energi sekaligus penggerak kegiatan usaha warga.
