Piala Dunia 2026 menjanjikan perputaran uang raksasa, tetapi beban terbesar justru dirasakan penonton yang ingin hadir langsung di stadion. Harga tiket final di Stadion MetLife, New Jersey, secara resmi mencapai US$32.970, belum termasuk biaya perjalanan, makan, dan penginapan.
Kontras itu terlihat ketika FIFA, pemegang hak siar, sponsor, serta penjual merchandise membuka banyak sumber pendapatan baru sepanjang turnamen. Sementara itu, kebijakan harga dinamis membuat biaya masuk pertandingan dapat melonjak saat permintaan sedang tinggi.
Tiket Final dan Transportasi Jadi Beban Utama
Final mempertemukan Argentina sebagai juara bertahan dengan Spanyol dalam turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Di pasar penjualan kembali, sejumlah tiket final bahkan ditawarkan dengan harga lebih dari US$2 juta.
Presiden FIFA Gianni Infantino menilai harga tersebut sejalan dengan ajang olahraga lain di Amerika Serikat. Namun, pengeluaran fans tidak berhenti pada tiket karena perjalanan menuju stadion dan kebutuhan selama berada di kota tuan rumah juga memerlukan biaya besar.
New Jersey Transit sempat menaikkan tarif perjalanan sekitar 30 menit menuju Stadion MetLife menjadi US$150 selama turnamen. Tarif itu jauh di atas harga pulang-pergi normal yang sebelumnya US$12,90, meski kemudian diturunkan setelah muncul protes.
| Pihak | Peluang Pendapatan | Dampak atau Tantangan |
|---|---|---|
| FIFA | Hak siar, sponsor, lisensi, tiket, dan penjualan kembali | Pendapatan siklus empat tahun diperkirakan mendekati US$13 miliar |
| Penyiar dan sponsor | Iklan, eksposur merek, dan aktivasi selama pertandingan | Biaya hak siar serta promosi sangat besar |
| Fans | Mendorong permintaan tiket, perjalanan, dan merchandise | Menghadapi kenaikan harga tiket, transportasi, hotel, dan makanan |
| Kota tuan rumah | Aktivitas hotel, restoran, bar, dan usaha lokal | Manfaat jangka panjang belum tentu merata |
FIFA Memegang Porsi Pendapatan Terbesar
Ahli strategi senior Deutsche Bank Research, Marion Laboure, memperkirakan pendapatan FIFA sepanjang siklus empat tahun mendekati US$13 miliar. Angka itu ditopang hak siar, lisensi, perhotelan, sponsor, penjualan tiket, serta potongan 15% dari pembeli dan penjual di platform penjualan kembali resmi.
Untuk perbandingan, Piala Dunia 2022 di Qatar menghasilkan sekitar US$7,6 miliar bagi FIFA. Potensi kenaikan pada edisi ini berkaitan dengan perluasan peserta menjadi 48 tim dan penyelenggaraan turnamen tanpa pembatasan pandemi.
Penyiar juga melihat turnamen sebagai ruang iklan bernilai tinggi. Fox Sports membayar US$485 juta untuk hak siar di Amerika Serikat, sementara slot iklan 30 detik selama pertandingan diperkirakan bernilai US$200 ribu hingga US$300 ribu.
Nilai slot tersebut dapat mencapai US$750 ribu ketika tim Amerika Serikat memasuki fase akhir kompetisi. Jeda hidrasi selama tiga menit pun diperkenalkan Fox Sports dengan label sponsor, meski FIFA menyatakan jeda itu semata-mata dibuat untuk kepentingan olahraga.
Jersey Laris, Sponsor Mendapat Eksposur Luas
Antusiasme turnamen turut mengerek penjualan jersey tim nasional. Nike dan Adidas melaporkan penjualan jersey tahun ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan Piala Dunia 2022.
Bagi Nike, jersey Inggris menjadi yang paling laris, diikuti Prancis, Brasil, Belanda, dan Amerika Serikat. Di kubu Adidas, jersey Meksiko tercatat sebagai produk paling laris, sedangkan JD Sports mencatat rekor penjualan untuk jersey Inggris dan permintaan kuat bagi seragam Skotlandia, Jerman, Brasil, Meksiko, serta Argentina.
Manfaat Kota Tuan Rumah Masih Dipertanyakan
FIFA memperkirakan turnamen menghasilkan nilai tambah US$41 miliar bagi ekonomi global, termasuk US$17 miliar untuk ekonomi Amerika Serikat dan sekitar 185.000 lapangan kerja. Enam belas kota tuan rumah berharap arus pengunjung menghidupkan hotel, restoran, bar, dan bisnis lokal.
Namun, peneliti praktik manajemen Universitas Oxford Alexander Budzier menilai dampak ekonomi jangka panjang ajang olahraga besar kerap tidak terwujud seperti harapan. “Ajang ini menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak menciptakan kekayaan,” ujarnya.
Budzier menilai sebagian calon pengunjung justru menghindari kota tuan rumah karena potensi kekacauan selama turnamen. Pekerjaan tambahan yang tercipta juga umumnya berada di sektor perhotelan dengan upah rendah dan bersifat sementara.
Sektor hotel Amerika Serikat pun belum tentu menikmati lonjakan permintaan yang diproyeksikan. Laboure menyebut 80% operator hotel pada April melaporkan pemesanan masih di bawah proyeksi awal, termasuk dua pertiga pengelola di New York dan hampir 80% pelaku usaha di Seattle yang melihat permintaan lebih lemah dari perkiraan.
