Philips mengambil posisi yang berbeda dalam program SIHREN. Perusahaan itu tidak hanya memasok alat, tetapi juga ikut membangun ekosistem layanan agar pasien jantung dan stroke di daerah bisa tertangani lebih cepat.
Intinya ada pada satu hal yang sangat menentukan di kasus darurat, yaitu memangkas jarak dan waktu. Di banyak daerah, pasien masih harus dirujuk ke kota besar karena fasilitas belum memadai, padahal pada serangan jantung dan stroke, menit bisa menentukan hasil akhir pasien.
Cath lab dibuat lebih dekat ke pasien
Melalui program Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network atau SIHREN yang menjadi bagian dari proyek Indonesia Health System Strengthening Kementerian Kesehatan, pemerintah menghadirkan fasilitas catheterization laboratory atau cath lab di berbagai daerah. Philips memasok teknologi image-guided therapy yang memakai pencitraan real-time untuk membantu dokter melakukan tindakan minimal invasif.
Executive Vice President sekaligus Chief Business Leader Image Guided Therapy Philips, Bert van Meuers, menegaskan bahwa fokus perusahaan bukan sekadar kontrak komersial. Ia menyebut kerja sama ini sebagai upaya memberikan perawatan yang lebih baik bagi lebih banyak orang di Indonesia.
Menurut Bert, keberhasilan layanan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat. Sistem juga harus mudah digunakan tenaga medis dan mampu mengintegrasikan informasi yang dibutuhkan selama prosedur berlangsung.
Pelatihan dokter jadi bagian penting
Philips juga terlibat dalam penguatan sumber daya manusia lewat pelatihan dokter, pendampingan klinis, pembelajaran jarak jauh, hingga pembangunan jejaring antarrumah sakit. Dukungan ini penting karena teknologi medis tidak akan berjalan optimal tanpa operator yang terlatih.
Global Chief Medical Officer for Diagnosis & Treatment Philips, Atul Gupta, MD, menegaskan bahwa pendekatan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga peningkatan kapasitas. Ia menyebut ratusan provinsi telah menyelesaikan instalasi sistem dalam waktu sekitar satu tahun sejak program diumumkan, sehingga jutaan masyarakat kini memiliki akses terhadap layanan tersebut.
| Fokus SIHREN | Bentuk Dukungan Philips | Dampak yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Fasilitas cath lab | Teknologi image-guided therapy | Tindakan minimal invasif lebih mudah dilakukan |
| Sumber daya manusia | Pelatihan, pendampingan klinis, pembelajaran jarak jauh | Dokter lebih siap mengoperasikan sistem |
| Jaringan layanan | Jejaring antarrumah sakit | Akses pasien ke layanan lebih merata |
AI diposisikan sebagai asisten, bukan pengganti dokter
Philips juga mengintegrasikan kecerdasan buatan atau AI ke berbagai perangkat medis, mulai dari sistem pencitraan diagnostik hingga terapi intervensi. Namun, perusahaan menekankan bahwa AI dipakai untuk membantu dokter, bukan menggantikannya.
Atul menjelaskan bahwa AI bisa mempercepat pemeriksaan, meningkatkan kualitas citra medis, membantu mengidentifikasi kelainan, hingga menjadi co-pilot saat tindakan penggantian katup jantung secara minimal invasif. Di masa depan, teknologi ini juga diproyeksikan mampu memprediksi risiko penyakit sebelum gejala muncul.
Bert menilai desain sistem harus dibuat seintuitif mungkin agar dokter bisa fokus pada pasien, bukan pada cara mengoperasikan alat. Karena itu, kemudahan penggunaan menjadi bagian penting dari pengembangan teknologi medis Philips.
Kecepatan jadi penentu hasil pasien
Dalam serangan jantung dan stroke, waktu adalah faktor yang sangat krusial. Atul menegaskan bahwa untuk jantung, time is heart, karena perawatan ideal perlu dilakukan dalam waktu 90 menit sejak serangan jantung terjadi.
Ia juga menyoroti stroke sebagai kondisi yang sangat sensitif terhadap keterlambatan. Setiap menit bisa berarti kehilangan sekitar dua juta neuron, sehingga pemerataan layanan ke rumah sakit daerah menjadi sangat penting agar pasien tidak perlu menempuh perjalanan berjam-jam.
Philips menyebut keterlibatannya di Indonesia sebagai komitmen jangka panjang. Arah inovasinya tetap sama, yaitu menghadirkan perawatan yang lebih baik untuk lebih banyak orang.
