Petani Irak Tewas Usai Temukan Pangkalan Rahasia Israel, Jejak Maut di Gurun Najaf-Karbala

Seorang petani Irak tewas setelah tanpa sengaja menemukan apa yang disebut sebagai pangkalan rahasia Israel di gurun Najaf-Karbala. Temuan itu langsung berubah menjadi tragedi ketika sebuah serangan udara menghantam kendaraan yang ditumpanginya dan melukai dua tentara Irak.

Kisah ini memantik sorotan besar karena bukan hanya menyangkut kematian warga sipil, tetapi juga dugaan operasi militer rahasia di wilayah Irak. Laporan investigasi yang dikutip The New York Times menyebut lokasi itu telah dipakai dalam dukungan serangan udara dan operasi pasukan khusus Israel.

Temuan yang berujung maut

Petani yang disebut bernama Awad al-Shammari sedang dalam perjalanan membeli kebutuhan bahan makanan saat melihat aktivitas mencurigakan di gurun. Ia lalu melaporkannya kepada aparat keamanan setempat.

Namun laporan itu datang terlambat. Sebelum pasukan Irak sempat mengamankan lokasi, al-Shammari bersama dua tentara Irak diduga sudah berhadapan langsung dengan pasukan Israel.

Kendaraan yang mereka tumpangi kemudian diserang helikopter. Serangan itu menewaskan al-Shammari dan membuat dua tentara lainnya terluka.

Diduga terlacak lewat komunikasi ponsel

Sumber yang dikutip The New York Times menyebut pasukan Israel memantau komunikasi al-Shammari melalui sistem pengawasan mereka. Dari sana, mereka diduga melacak ponselnya dan menjadikannya target serangan.

Keluarga al-Shammari disebut mencari keberadaannya selama dua hari sebelum mengetahui nasibnya. Sepupunya, Amir, mengatakan keluarga sempat mendapat kabar adanya mobil pikap terbakar yang mirip kendaraan milik al-Shammari.

“Tidak ada yang berani mendekat. Saat kami tiba di sana, kami menemukan mobil dan jasadnya sudah hangus terbakar,” kata Amir, dikutip dari presstv.ir.

Dugaan pangkalan rahasia di gurun Irak

Investigasi yang sama menyebut Israel diduga membangun pos rahasia di gurun barat Irak selama perang Iran melawan AS-Israel. Fasilitas itu disebut didirikan sesaat sebelum perang pecah pada akhir Februari.

Basis tersebut kemudian dikabarkan dipakai dalam serangan terhadap pasukan Irak pada Maret, saat tentara Irak hampir membongkar lokasi itu. Media Israel juga dilaporkan menyebut pasukan mereka menempatkan tim penyelamat dan unit komando di pos terdepan tersebut.

Tujuannya, menurut laporan itu, adalah untuk mengevakuasi awak pesawat Israel jika jatuh di wilayah Iran. Sumber lain yang diwawancarai The New York Times juga menyebut ada pangkalan Israel kedua di gurun yang sama.

Basis kedua itu dikabarkan sudah ada sebelum perang terbaru melawan Iran dan pernah dipakai saat konflik Iran pada Juni 2025. Detail ini memperkuat dugaan bahwa kawasan gurun Irak menjadi titik operasi yang jauh lebih luas dari sekadar lokasi insiden tunggal.

Kemarahan publik dan tekanan politik

Kasus ini memicu kemarahan publik di Irak. Desakan agar pemerintah memberikan penjelasan dan meminta pertanggungjawaban pihak terkait menguat setelah laporan soal aktivitas militer ilegal Israel itu mencuat.

Laporan The New York Times juga menyebut pangkalan yang ditemukan al-Shammari sudah diketahui Washington setidaknya sejak Juni 2025. Fakta itu memunculkan dugaan bahwa Amerika Serikat menyembunyikan informasi tersebut dari pemerintah Irak, meski kedua negara dikenal sebagai sekutu dekat.

Anggota parlemen Irak, Raed al-Maliki, turut mengecam Washington. Ia menuding Amerika Serikat memberi akses wilayah udara Irak kepada pasukan Israel selama perang dan memerintahkan sistem radar dimatikan.

“Sekarang semakin jelas bahwa wilayah Irak juga digunakan untuk membangun pusat intelijen rahasia atau pangkalan milik entitas Zionis,” kata al-Maliki.

Peristiwa ini menambah sorotan atas dugaan operasi militer Israel di wilayah Irak dan memperdalam tekanan politik terhadap pemerintah setempat. Di tengah semua tuduhan itu, kematian al-Shammari menjadi simbol rapuhnya keselamatan warga sipil yang tanpa sengaja bersentuhan dengan operasi rahasia berskala militer.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button