Kenaikan harga Pertamax kembali menempatkan biaya hidup masyarakat dalam sorotan. Penyesuaian harga ini bukan hanya terasa di SPBU, tetapi juga berpotensi merambat ke ongkos transportasi dan aktivitas ekonomi harian.
PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 di seluruh Indonesia. Pertamax naik 32 persen menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300, sementara Pertamax Green 95 disesuaikan menjadi Rp17.000 per liter dari Rp12.900.
Dampak yang paling cepat dirasakan
Media Malaysia, The Star, menilai kenaikan BBM non-subsidi itu berpotensi memicu tambahan tekanan biaya hidup. Sorotan itu muncul karena harga energi global masih berfluktuasi, sehingga biaya operasional di dalam negeri ikut terdorong naik.
Posisi Pertamax membuat perubahan harga ini cukup sensitif bagi banyak pengguna kendaraan. Dampaknya tidak berhenti pada pemilik mobil pribadi, tetapi juga bisa menjalar ke biaya logistik yang akhirnya memengaruhi harga dan pengeluaran sehari-hari.
Alasan penyesuaian harga menurut Pertamina
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan penyesuaian dilakukan berdasarkan formula yang telah ditetapkan pemerintah. Ia menegaskan harga jual disusun melalui koordinasi dengan regulator agar pasokan dan distribusi bahan bakar tetap terjaga.
Roberth juga menyebut evaluasi harga dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan kondisi pasar. Menurut dia, langkah itu diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan kepastian pasokan energi.
Pasokan tetap disebut aman
Di tengah kenaikan harga, Pertamina memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap tersedia di seluruh jaringan SPBU. Keterangan ini penting untuk meredam kekhawatiran publik atas gangguan distribusi setelah penyesuaian harga diberlakukan.
Di sisi lain, harga BBM bersubsidi seperti Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter. Perbedaan harga itu membuat kenaikan BBM non-subsidi kembali menjadi isu yang dekat dengan pengeluaran harian masyarakat.
