Harga minyak dan bensin belum akan cepat turun meski kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran dan membuka kembali Selat Hormuz sudah diumumkan. Para pakar energi menilai pasar global masih butuh waktu berbulan-bulan untuk benar-benar pulih.
Masalahnya bukan hanya soal berhentinya perang. Jalur pelayaran harus kembali dipercaya aman, kapal-kapal yang tertahan perlu bergerak keluar lebih dulu, dan rantai logistik energi tidak bisa dibalik dalam hitungan hari.
Pemulihan pasokan tidak bisa instan
Daniel Evans, global head of fuels and refining research di S&P Global Energy, menilai industri baru bisa bergerak normal jika ada keyakinan keamanan dan polis asuransi kembali tersedia. Ia juga mengatakan penggerakan tenaga kerja di lapangan serta pengaktifan lagi aset energi tidak dapat dilakukan seketika.
Menurut Evans, kapal yang sudah terjebak harus keluar lebih dulu dari selat sebelum tanker baru bisa masuk untuk memuat minyak. Setelah itu, minyak mentah masih harus dibawa ke negara tujuan, diproses di kilang, lalu dikirim lagi ke tujuan akhir.
Produksi Timur Tengah ikut tersendat
Sejumlah produsen di Timur Tengah sempat menghentikan produksi karena ruang penyimpanan habis. Penghentian sementara atau shut-in itu membuat proses memulai lagi produksi berjalan lebih lambat dari yang dibayangkan banyak pihak.
Alan Gelder, senior vice president of refining, chemicals and oil markets di Wood Mackenzie, menyebut Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kemungkinan menjadi yang paling cepat pulih. Keduanya memiliki pipa atau jalur alternatif selain Selat Hormuz untuk menyalurkan minyak.
| Negara | Perkiraan Pemulihan |
|---|---|
| Arab Saudi | Relatif lebih cepat karena punya jalur alternatif |
| Uni Emirat Arab | Relatif lebih cepat karena punya jalur alternatif |
| Irak | Bisa jauh lebih lama, pemulihan penuh sekitar satu tahun |
Gelder menilai Irak bisa menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Shut-in di negara itu lebih besar, ladang minyaknya lebih sulit dikelola, dan pemulihan penuh diperkirakan memakan waktu sekitar satu tahun.
Investor masih menahan modal
Gelder juga mengatakan investasi di sistem energi ikut terhenti setelah penutupan selat. Karena hasil investasi di sektor ini baru terlihat setelah bertahun-tahun, modal baru tidak bisa langsung kembali bergerak.
Daniel Sternoff, senior fellow di Center on Global Energy Policy, Columbia University, menilai negara-negara yang menghentikan produksi tidak akan buru-buru menyalakannya lagi. Mereka ingin memastikan selat benar-benar stabil dan gencatan senjata bertahan lebih lama dari 30 atau 60 hari.
Sternoff juga menyoroti bahwa arti “buka” dalam kesepakatan itu belum sepenuhnya jelas. Selama kepastian keamanan belum terbentuk, pasar energi diperkirakan tetap menjalani pemulihan yang jauh lebih lambat daripada pengumuman politiknya.
