Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo mempercepat peninggian tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 71 setelah permukaan air dan lumpur dilaporkan melewati bibir tanggul lama. Kondisi itu membuat pekerjaan darurat di perbatasan Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, dan Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, tak bisa ditunda.
Di lokasi, tiga unit alat berat disiagakan untuk mendukung penanganan. Satu ekskavator terlihat aktif menguruk tanah agar tinggi tanggul kembali aman menghadapi kenaikan permukaan lumpur.
Permukaan lumpur naik cepat
Warga setempat menyebut aktivitas alat berat sudah berlangsung intensif sejak Jumat (4/6). Mereka melihat permukaan lumpur naik cepat setelah pembuangan material lumpur ke Sungai Porong berhenti.
Misno, 60, warga terdampak, mengatakan kondisi itu membuat peninggian tanggul menjadi mendesak. “Sejak tidak ada pembuangan ke Sungai Porong, permukaan air dan lumpur terus naik. Sekarang permukaannya sudah lebih tinggi dari bibir tanggul lama, makanya harus ditinggikan,” katanya.
Kenaikan itu menjadi perhatian karena luapan lumpur dikhawatirkan akan langsung mengganggu jalur rel Kereta Api Porong dan Jalan Raya Protokol Porong yang berada di sisi luar tanggul. Dengan posisi permukaan yang terus naik, batas penahan lumpur harus segera dijaga di atas titik rawan tersebut.
Warga soroti titik kerja
Di tengah percepatan pekerjaan, warga juga menyoroti cara pengambilan tanah uruk yang dinilai terlalu dekat dengan struktur tanggul lama. Mereka khawatir jarak kerja yang terlalu dekat bisa membuka risiko baru pada badan tanggul yang sudah ada.
Usmin, 54, warga Desa Jatirejo, mengatakan pengamanan sementara baru dipasang dengan penahan darurat dari gedek dan tiang bambu. Menurutnya, perhatian terhadap keamanan titik kerja perlu terus dijaga selama peninggian berlangsung.
Tanggul di kawasan semburan tidak hanya menahan lumpur, tetapi juga harus menghadapi perubahan permukaan tanah di sekitar titik semburan. Karena itu, warga berharap pekerjaan darurat tidak memunculkan persoalan lanjutan pada struktur yang sudah ada.
Tanggul yang harus terus dirawat
Semburan lumpur Lapindo telah aktif selama 20 tahun sejak pertama kali keluar pada 29 Mei 2006. Di kawasan itu, penurunan muka tanah yang terus berlangsung membuat tanggul memerlukan perawatan dan peninggian berkala untuk menjaga keamanan wilayah sekitar.
PPLS kini berfokus mengejar peninggian di titik 71 agar batas penahan lumpur kembali berada di atas permukaan lumpur yang naik. Upaya ini menjadi penting karena kawasan sekitar masih berbatasan langsung dengan jalur transportasi utama dan area permukiman yang bergantung pada stabilitas tanggul.
