Srikandi Jaga Desa resmi memulai langkah organisasinya dengan pelantikan pengurus nasional hingga daerah setelah Musyawarah Nasional perdana di Jakarta. Organisasi sayap resmi ABPEDNAS ini dibentuk untuk memperkuat peran perempuan dalam pembangunan desa, terutama di bidang ketahanan sosial, perlindungan generasi muda, dan penguatan ekonomi melalui UMKM.
Momentum pelantikan itu menunjukkan bahwa peran perempuan desa kini tidak lagi dipandang sebagai pelengkap. Mereka mulai ditempatkan sebagai bagian penting dari arah pembangunan yang menyentuh keluarga, masyarakat, dan tata kelola desa.
Perempuan didorong menjadi pilar desa
Hashim Djojohadikusumo menegaskan ketahanan nasional perlu dibangun dari desa dengan menempatkan perempuan sebagai pilar keluarga dan masyarakat. Menurut pandangannya, perempuan memegang peran penting dalam menjaga moral generasi muda sekaligus menggerakkan ekonomi desa lewat kegiatan produktif.
Pandangan itu sejalan dengan penekanan Sherly Tjoanda Laos bahwa pemberdayaan perempuan menjadi fondasi ketahanan keluarga. Ia menilai kemandirian ekonomi dan ketahanan mental generasi muda berawal dari kekuatan keluarga, dan perempuan yang berdaya akan memiliki posisi lebih kuat dalam menentukan arah masa depan desa.
Penguatan ekonomi desa butuh tata kelola yang rapi
Maya Miranda Ambarsari menyoroti bahwa semangat gerakan saja tidak cukup untuk membuat program pemberdayaan berhasil. Ia menekankan perlunya tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel agar penguatan ekonomi perempuan desa benar-benar memberi dampak nyata.
Pendekatan itu penting karena program berbasis desa biasanya menyentuh banyak kebutuhan sekaligus, mulai dari ekonomi keluarga hingga pengembangan usaha kecil. Dengan manajemen organisasi yang kuat, bantuan UMKM dan program pemberdayaan diharapkan lebih tepat sasaran.
Pelantikan jadi tanda gerakan dimulai
Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan Surat Keputusan pengangkatan pengurus oleh Sekretaris Jenderal ABPEDNAS. Setelah itu, bendera pataka diserahkan kepada jajaran pengurus pusat sebagai tanda dimulainya kepengurusan Srikandi Jaga Desa di seluruh Indonesia.
Organisasi ini juga memperkenalkan logo resmi sebagai identitas gerakan perempuan desa. Suasana acara dilengkapi penampilan Paduan Suara Mahasiswa IPB University Agriaswara yang membawakan Mars Srikandi Jaga Desa untuk pertama kalinya, sebelum acara ditutup dengan penyerahan Kartu Tanda Anggota secara simbolis.
Arah kerja diarahkan ke desa
Ketua Umum DPP Srikandi Jaga Desa, Ella Nurlaela Tubagoes, menyebut organisasi ini akan menjadi mitra strategis pemerintah desa, BPD, dan masyarakat. Peran itu diarahkan untuk mengawal pembangunan desa agar berjalan lebih terukur dan responsif terhadap kebutuhan warga.
Fokus kerja yang disampaikan mencakup ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta perlindungan perempuan dan anak. Dengan ruang kerja tersebut, Srikandi Jaga Desa diposisikan bukan hanya sebagai organisasi pendamping, tetapi juga sebagai penggerak yang ikut menjaga keseimbangan sosial dan ekonomi di tingkat akar rumput.
Perempuan juga masuk ke ruang pengawasan
Dari sisi tata kelola, Ketua Dewan Pengawas ABPEDNAS Prof. Dr. Reda Manthovani dan Ketua Umum ABPEDNAS Ir. H. Indra Utama menilai keterlibatan perempuan dalam sistem pengawasan desa penting untuk memperkuat transparansi. Mereka juga memandang kehadiran perempuan bisa membantu meminimalkan potensi penyimpangan kebijakan.
Di tengah upaya memperluas partisipasi perempuan, kolaborasi ini diharapkan mendorong pembangunan desa yang lebih inklusif dan akuntabel. Srikandi Jaga Desa pun diposisikan untuk ikut memperkuat visi Membangun Desa, Menata Kota untuk Indonesia Maju melalui kerja-kerja pemberdayaan yang berangkat dari desa.
