Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan telah memberi tahu sejumlah negara Eropa bahwa pengiriman senjata yang sudah dipesan berpotensi tertunda. Penundaan itu muncul saat perang dengan Iran terus menyerap stok persenjataan AS, terutama pada sistem pertahanan udara, amunisi, dan rudal yang dibutuhkan untuk berbagai operasi.
Informasi tersebut terutama menyangkut pembeli di Eropa yang menggunakan skema Foreign Military Sales atau FMS. Menurut sumber yang mengetahui pembahasan itu, beberapa negara di kawasan Baltik dan Skandinavia termasuk di antara pihak yang mungkin terdampak oleh perubahan jadwal pengiriman.
Pengiriman ke Eropa Terpukul Tekanan Pasokan
Tiga sumber yang mengetahui komunikasi internal itu menyebut sejumlah paket senjata belum bisa dikirim tepat waktu. Kontrak pembelian memang sudah berjalan, tetapi barang masih tertahan di dalam rantai pasok militer Amerika Serikat.
Reuters melaporkan Gedung Putih dan Pentagon belum segera memberi tanggapan atas permintaan komentar. Departemen Luar Negeri juga mengarahkan pertanyaan ke Pentagon, yang menandakan isu ini masih sensitif dan belum diumumkan secara terbuka.
Konflik Beruntun Menguras Persediaan AS
Tekanan terhadap stok senjata AS tidak muncul tiba-tiba. Selama perang Rusia di Ukraina dan operasi Israel di Gaza, Washington telah menyalurkan komitmen militer bernilai miliaran dolar yang ikut menggerus persediaan.
Peralatan yang paling banyak terserap mencakup sistem artileri, amunisi, dan rudal anti-tank. Dalam kondisi seperti ini, sejumlah pejabat AS menilai pengiriman ke pembeli lain bisa ikut melambat jika kebutuhan perang tetap tinggi.
Perang Iran Tambah Beban pada Sistem Pertahanan Udara
Sejak kampanye terhadap Iran dimulai, Teheran disebut telah meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke negara-negara Teluk. Sebagian besar berhasil dicegat, termasuk dengan PAC-3 Patriot missile interceptors yang juga sangat dibutuhkan Ukraina untuk melindungi infrastruktur energi dan militernya.
Situasi tersebut membuat prioritas pasokan AS semakin ketat. Ketika sistem pertahanan udara harus dipakai untuk menghadapi ancaman langsung, negara-negara pembeli lain di luar medan konflik berisiko menunggu lebih lama untuk menerima pesanan mereka.
Negara Eropa yang Mungkin Merasakan Dampaknya
Sumber Reuters tidak menyebut seluruh daftar negara yang terkena penundaan, tetapi menyebut kawasan Baltik dan Skandinavia sebagai wilayah yang berpotensi terdampak. Negara-negara di kawasan itu selama ini sangat bergantung pada dukungan pertahanan AS untuk memperkuat kemampuan deteren dan perlindungan udara.
Penundaan seperti ini tidak selalu berarti kontrak dibatalkan, namun jadwal penerimaan bisa bergeser sampai kondisi produksi dan logistik membaik. Bagi militer Eropa, perubahan waktu kedatangan senjata dapat memengaruhi latihan, integrasi sistem, dan target kesiapan operasional.
Berikut faktor utama yang membuat pengiriman bisa tertunda:
- Stok persenjataan AS menyusut akibat beberapa konflik sekaligus.
- Kebutuhan pertahanan udara meningkat karena ancaman rudal dan drone.
- Program FMS tetap bergantung pada kapasitas produksi dan logistik AS.
- Sejumlah pengiriman ke Eropa belum tuntas saat tekanan pasokan makin besar.
Implikasi bagi Sekutu Washington
Kondisi ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi Washington saat harus membagi persenjataan untuk beberapa medan konflik sekaligus. Selama permintaan perang tetap tinggi, prioritas distribusi senjata AS dapat terus berubah mengikuti kebutuhan strategis di lapangan.
Bagi sekutu Eropa, isu ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada pasokan Amerika masih membawa risiko keterlambatan ketika stok nasional AS tertekan. Dalam situasi keamanan yang masih rapuh, bahkan penundaan beberapa sistem utama bisa berdampak pada rencana modernisasi alutsista dan kesiapan pertahanan kawasan.







