Biaya perang AS di Iran telah mencapai US$ 37,5 miliar atau sekitar Rp 675 triliun hingga 30 September 2026. Lonjakan pengeluaran itu terjadi ketika konflik kembali memanas setelah gencatan senjata sementara runtuh pada awal bulan ini.
Tekanan bukan hanya terasa pada anggaran pemerintah AS, melainkan juga pada kesiapan pasukan dan persediaan senjata. Pentagon kini meminta tambahan dana kepada Kongres untuk menjaga operasi tetap berjalan serta mengganti peralatan yang terkuras.
Korban dan Stok Persenjataan Menjadi Tekanan Utama
Konflik berkepanjangan telah menambah jumlah korban di pihak militer AS. Selama akhir pekan, jumlah personel AS yang dilaporkan tewas mencapai 18 orang, sementara sekitar 430 lainnya mengalami luka-luka.
Pentagon menyebut hampir 100 anggota militer mengalami cedera sejak 7 Juli dan sekitar 96% di antaranya telah kembali bertugas. Namun, seorang pejabat AS mengatakan kepada Associated Press bahwa jumlah korban luka sebenarnya telah melampaui 500 orang.
Data korban dapat berbeda karena sistem pelaporan membutuhkan waktu untuk memperbarui catatan resmi. Saat itu, data DCAS tercatat menunjukkan 482 personel mengalami luka-luka.
Militer AS mengidentifikasi korban terbaru sebagai Sersan Angel S Rampersad, 28 tahun, dari Ozone Park, New York. Tyler James Feehan dan Isabella Gonzales sebelumnya juga diumumkan gugur dalam serangan rudal balistik dan drone Iran terhadap pangkalan AS di Yordania.
Menurut Komando Pusat AS atau Centcom, ketiganya menjalankan misi yang mendukung operasi melawan ISIS ketika serangan terjadi. Bertambahnya korban memperkuat kekhawatiran mengenai beban operasi yang harus ditanggung pasukan dalam konflik tersebut.
Rincian Dana yang Diminta Pentagon
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkap nilai pengeluaran US$ 37,5 miliar itu saat bersaksi di Komite Alokasi Senat AS pada Selasa, 21 Juli 2026. Beritasatu.com melaporkan Pentagon tidak merinci metode perhitungan biaya perang tersebut.
Dalam enam hari pertama operasi militer pada Maret, pengeluaran diperkirakan sudah mencapai sedikitnya US$ 11,3 miliar. Perkiraan itu berasal dari sumber yang mengetahui pembahasan internal pemerintah dan disampaikan kepada Reuters.
| Kebutuhan Anggaran | Nilai | Fokus Penggunaan |
|---|---|---|
| Biaya perang hingga 30 September 2026 | US$ 37,5 miliar | Operasi militer dan kebutuhan terkait konflik |
| Tambahan dana yang diajukan Hegseth | US$ 87,6 miliar | Memulihkan kemampuan tempur AS |
| Pengadaan amunisi dan produksi persenjataan | US$ 46 miliar | Menambah stok dan kapasitas produksi |
| Gaji, bahan bakar, dan penggantian peralatan | US$ 21 miliar | Menopang kebutuhan operasional pasukan |
Hegseth menilai tambahan dana diperlukan untuk mempertahankan kesiapan pasukan serta mengisi kembali persediaan militer. Tanpa dana baru, ia memperingatkan pelatihan dapat dikurangi dan kebutuhan penting Pentagon berisiko mengalami kekurangan kritis.
Gedung Putih sebelumnya meminta dana tambahan hampir US$ 90 miliar kepada Kongres. Sebagian besar dana itu ditujukan bagi operasi di Iran dan pengisian kembali stok Pentagon.
Partai Republik juga mendorong paket sekitar US$ 95 miliar yang mencakup pendanaan militer, bantuan pertanian, dan prioritas kebijakan pemerintahan Donald Trump. Di luar permintaan tersebut, Hegseth meminta persetujuan anggaran pertahanan US$ 1,5 triliun untuk tahun anggaran 2027.
Demokrat Menuntut Strategi yang Lebih Jelas
Permintaan anggaran besar itu memicu perdebatan tajam di Senat AS. Anggota parlemen Partai Demokrat mempertanyakan kesesuaian antara kebutuhan dana tambahan dan pernyataan pemerintah mengenai kemajuan operasi militer.
Senator Kirsten Gillibrand menyoroti pesan pemerintah yang dinilai berubah-ubah mengenai status perang, apakah telah berakhir atau masih berlangsung. Ia juga mempertanyakan alasan anggaran pertahanan US$ 1,5 triliun dibutuhkan ketika kemampuan militer Iran disebut telah dilemahkan.
Senator Jon Ossoff turut menyinggung pernyataan Hegseth beberapa bulan sebelumnya terkait kemampuan tempur Iran. Hegseth menjawab bahwa pernyataannya tidak pernah berarti Iran telah kehilangan seluruh kemampuan militernya.
Senator Gary Peters menuduh Pentagon meminta “cek kosong” tanpa strategi jangka panjang yang jelas. Hegseth menolak tuduhan itu dan menyebut pelabelan operasi AS sebagai kegagalan sebagai tindakan ceroboh serta tidak bertanggung jawab.
Selat Hormuz Tetap Menjadi Titik Tekanan
Di tengah perdebatan anggaran di Washington, AS dan Iran terus melancarkan serangan setiap hari di kawasan strategis. Salah satu titik utama konflik adalah Selat Hormuz, koridor penting bagi pengiriman minyak dunia yang tetap dikuasai Iran.
Pemerintahan Trump menyatakan peluang diplomasi masih terbuka, tetapi Iran belum melonggarkan penguasaannya atas jalur pelayaran tersebut. Trump juga mengancam memperluas sasaran serangan ke fasilitas energi, jembatan, pusat minyak di Pulau Kharg, serta lokasi nuklir bawah tanah yang dikenal sebagai Gunung Pickaxe.
Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengakui operasi udara memiliki keterbatasan untuk memenangkan perang besar. Ia menekankan keunggulan AS bergantung pada perpaduan instrumen diplomatik, informasi, ekonomi, dan militer.
Kemungkinan pengerahan pasukan darat AS ke Iran belum dijelaskan. Sementara itu, pembahasan dana darurat terus berjalan bersamaan dengan konflik yang belum memiliki kepastian waktu berakhir.
Source: www.beritasatu.com






