Penyu Ternyata Punya “GPS” Alami, Begini Cara Mereka Selalu Pulang ke Pantai Kelahiran

Author: Cung Media

Penyu tidak sekadar berenang jauh lalu kebetulan kembali ke tempat yang sama. Setelah bertahun-tahun hidup di laut lepas, penyu betina dewasa bisa menemukan lagi pantai tempat mereka menetas untuk bertelur.

Kebiasaan ini dikenal sebagai natal homing, dan di baliknya ada kombinasi memori jangka panjang, kompas alami, serta kepekaan terhadap medan magnet Bumi.

Kenapa pantai kelahiran begitu penting

Pantai asal dianggap sebagai lokasi yang paling aman dan paling cocok untuk berkembang biak. Jika penyu berhasil menetas dan tumbuh di sana, peluang anaknya untuk bertahan juga dinilai lebih besar.

Dengan kembali ke lokasi yang sama, penyu juga cenderung menghindari pantai baru yang bisa memiliki predator lebih banyak, kondisi pasir yang buruk, atau suhu yang tidak sesuai.

Ingatan yang bertahan puluhan tahun

Salah satu kunci perilaku ini adalah memori jangka panjang. Penyu betina tampaknya mampu menyimpan informasi tentang lokasi tempat mereka menetas lalu memakainya lagi saat dewasa.

Hal ini menarik karena penyu tidak hidup dalam kelompok sosial besar seperti banyak mamalia. Meski begitu, mereka tetap bisa membawa data penting di otaknya sendiri untuk bertahan hidup.

Kompas alami di tengah samudra

Penyu tidak mengandalkan peta, rambu, atau penanda visual untuk pulang. Saat menetas dan bergerak ke laut untuk pertama kali, bayi penyu diduga menyimpan “alamat magnetik” pantai kelahirannya melalui proses yang disebut geomagnetic imprinting.

Mereka diduga merasakan medan magnet Bumi lewat sel sensorik khusus, kemungkinan besar di otak. Karena itu, penyu memiliki semacam kompas internal yang bisa menuntun mereka kembali dari jarak yang sangat jauh.

Lokasi peneluran juga berkaitan dengan perubahan halus dalam medan magnet Bumi. Dalam lautan yang nyaris tanpa tanda arah, kemampuan ini menjadi alat navigasi yang sangat penting.

Betina yang rutin naik ke daratan

Yang kembali ke daratan adalah penyu betina. Mereka datang setiap 2–4 tahun untuk bertelur, dan dalam satu musim bisa membuat 3 sampai 10 sarang.

Setiap sarang biasanya berisi sekitar 100 butir telur. Penyu betina memilih lokasi di atas garis pasang tertinggi dan cukup jauh dari air, lalu menggali lubang dengan kaki belakang sebelum menutupinya kembali.

Telur umumnya menetas sekitar 60 hari kemudian. Suhu pasir ikut menentukan jenis kelamin anak penyu, dengan pasir yang lebih dingin menghasilkan jantan dan pasir yang lebih hangat menghasilkan betina.

Saat pantai berubah, penyu ikut tertekan

Kesetiaan penyu pada pantai kelahiran juga membuat mereka rentan ketika lingkungan berubah. Mereka tetap datang meski pantai sudah rusak, tererosi, dibangun hotel, atau terlalu terang oleh lampu kota.

Kondisi itu bisa membuat penyu bingung atau bahkan gagal bertelur. Anak penyu juga dapat kehilangan arah karena cahaya buatan mengganggu insting mereka untuk menuju laut.

Dampaknya tidak berhenti pada satu koloni saja. Telur yang tidak menetas membantu menyuburkan tumbuhan pantai yang menahan erosi, sementara penyu dewasa menjaga keseimbangan padang lamun dengan cara merumput.

Karena itu, hilangnya satu koloni berarti hilangnya bagian penting dari ekosistem dan keragaman genetik yang terbentuk selama jutaan tahun.

Source: www.idntimes.com
Terbaru