El Nino Godzilla Menguat, Ancaman Cuaca Ekstrem Dunia Bisa Terseret Hingga 2027

Author: Cung Media

El Nino kembali menjadi perhatian besar karena penguatannya dinilai bisa memicu cuaca ekstrem global yang bertahan hingga 2027. NOAA telah mengonfirmasi fenomena ini sudah terbentuk penuh dan berpotensi terus menguat pada paruh kedua 2026 hingga musim dingin di Belahan Bumi Utara pada periode 2026–2027.

Peluang El Nino masuk kategori sangat kuat mencapai 63% pada periode November hingga Januari. Karena intensitasnya yang ekstrem, fenomena ini kerap dijuluki El Nino Godzilla oleh ilmuwan dan media.

Mengapa perhatian terhadap El Nino meningkat

El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di tengah dan timur Samudra Pasifik tropis lebih hangat dari normal. Saat angin pasat melemah, air hangat bergeser ke wilayah tengah dan timur Pasifik serta mengganggu sirkulasi atmosfer global.

WMO menempatkan El Nino sebagai salah satu pendorong utama variabilitas iklim global. Dampaknya bisa menjangkau curah hujan, suhu, musim tanam, hingga aktivitas badai di banyak kawasan.

Kenapa kali ini dianggap tidak lazim

Salah satu sorotan utama adalah transisi yang cepat dari La Nina ke El Nino. Dunia baru saja melewati fase La Nina pada musim dingin 2025, sehingga lompatan menuju El Nino yang sangat kuat dalam waktu singkat dinilai jarang terjadi.

NOAA menyebut hasil banyak model iklim global menunjukkan potensi El Nino yang sangat besar. Ahli meteorologi NOAA, Nat Johnson, mengatakan simulasi yang diamatinya menunjukkan karakter yang hanya sebanding dengan peristiwa 1997–1998.

Faktor lain yang memperbesar risiko adalah kondisi bumi yang sudah lebih hangat akibat perubahan iklim. IPCC mencatat suhu rata-rata global telah naik lebih dari 1 derajat celsius dibandingkan era praindustri, sehingga dampak El Nino bisa terasa lebih berat.

Dampak yang paling mungkin dirasakan

Dampak El Nino tidak seragam di semua wilayah karena fenomena ini mengubah peluang munculnya kondisi cuaca tertentu. Kawasan Pasifik timur seperti Peru dan Ekuador biasanya lebih dulu merasakan pengaruh kuat, termasuk hujan ekstrem dan risiko banjir besar.

Air laut yang lebih hangat juga dapat mengganggu upwelling, yaitu naiknya air laut dingin yang kaya nutrisi dari dasar laut. Gangguan ini dapat berdampak pada ekosistem laut dan industri perikanan di Amerika Selatan.

Di sisi lain, Indonesia, Australia, dan sebagian Asia Selatan berisiko mengalami kondisi yang lebih kering dari biasanya. Dalam banyak peristiwa sebelumnya, El Nino dikaitkan dengan berkurangnya curah hujan, naiknya suhu udara, dan meningkatnya ancaman kebakaran hutan serta lahan.

WMO juga mencatat bahwa Amerika Tengah, Karibia, dan bagian utara Amerika Selatan sering mengalami kondisi lebih kering saat El Nino berkembang. Sebaliknya, bagian selatan Amerika Selatan, selatan Amerika Serikat, Tanduk Afrika, dan sebagian Asia Tengah bisa menerima curah hujan lebih tinggi dari normal.

Dampak ke badai tropis dan musim hujan

El Nino ikut memengaruhi pembentukan badai tropis. Menurut peneliti NOAA, fenomena ini biasanya meningkatkan wind shear di Samudra Atlantik, sehingga badai tropis lebih sulit berkembang menjadi badai besar.

Akibatnya, musim badai Atlantik cenderung lebih lemah pada masa El Nino. Namun di Pasifik timur dan Pasifik tengah, aktivitas siklon tropis justru sering meningkat.

Perubahan pola ini penting karena berdampak pada keselamatan, transportasi, logistik, dan kesiapsiagaan daerah pesisir. Saat arah dan intensitas badai bergeser, kebutuhan peringatan dini menjadi semakin krusial.

Sektor yang paling rentan

Pertanian menjadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap perubahan cuaca akibat El Nino. Pergeseran pola hujan dapat mengacaukan jadwal tanam, menurunkan produktivitas lahan, dan meningkatkan risiko gagal panen di wilayah yang kekurangan air.

Daerah yang menerima hujan berlebih juga menghadapi risiko kerusakan tanaman dan gangguan distribusi hasil panen. Situasi ini membuat petani menghadapi ketidakpastian yang lebih besar dalam satu musim tanam.

WMO mendorong pemerintah dan otoritas lokal memperkuat sistem peringatan dini serta menyiapkan mitigasi di sektor pertanian, sumber daya air, energi, dan kesehatan. Menurut lembaga itu, langkah antisipatif lebih efektif dibanding penanganan setelah dampak bencana meluas.

Mengapa 2027 ikut menjadi perhatian

Dampak puncak El Nino terhadap suhu global sering tidak muncul tepat saat fenomena itu mencapai intensitas tertingginya. Karena itu, banyak ilmuwan memperkirakan 2027 dapat menjadi periode yang lebih panas jika perkembangan El Nino berjalan sesuai proyeksi.

Adam Scaife dari Met Office Inggris menilai El Nino saat ini terjadi bersamaan dengan tren pemanasan global yang terus berlanjut. Ia menyebut pemanasan dari El Nino diperparah oleh perubahan iklim, sehingga suhu aktual di sejumlah wilayah bisa mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pemantauan masih terus berjalan, terutama pada pergerakan air hangat ke arah timur di sepanjang Pasifik tropis dan respons atmosfer melalui pola angin serta curah hujan. Jika proses itu terus menguat, peluang munculnya El Nino berkategori sangat kuat akan semakin besar.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru