Penebangan hutan bukan sekadar mengurangi tutupan hijau. Di wilayah tertentu, hilangnya hutan justru bisa membuat banjir besar datang jauh lebih sering dari perkiraan awal.
Risiko itu terlihat jelas di daerah pegunungan yang punya salju musiman. Saat hutan berkurang, aliran air berubah lebih cepat, salju mencair lebih dini, dan volume air yang masuk ke sungai dalam waktu singkat ikut meningkat.
Efeknya bisa melonjak berkali-kali lipat
Sebuah studi yang dikutip The Conversation dan dimuat oleh www.suara.com meneliti dampak penebangan hutan di British Columbia. Hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi banjir besar dapat melonjak tajam ketika tutupan hutan hilang dalam skala besar.
Di beberapa wilayah yang diteliti, banjir yang semula diperkirakan terjadi sekali dalam 50 tahun berubah menjadi sekali dalam 3 tahun setelah hutan ditebang secara luas. Peneliti menjelaskan bahwa pohon menahan air hujan, membantu air meresap ke tanah, dan memperlambat alirannya menuju sungai.
Wilayah bersalju paling rentan
Bahaya ini makin besar di kawasan pegunungan yang mengandalkan salju sebagai sumber limpasan air. Hutan membantu menjaga suhu permukaan tetap lebih rendah sehingga pencairan salju berlangsung lebih lambat.
Jika tutupan hutan hilang, salju cenderung mencair lebih cepat dan air dalam jumlah besar mengalir ke hilir dalam waktu yang lebih sempit. Kondisi itu memperbesar peluang banjir besar, terutama saat daerah tangkapan air ikut terganggu.
| Wilayah | Perubahan Tutupan Hutan | Dampak pada Banjir |
|---|---|---|
| British Columbia | Hilangnya hutan secara luas | Perkiraan banjir berubah dari sekali dalam 50 tahun menjadi sekali dalam 3 tahun |
| Colorado | Sekitar 40 persen wilayah hutan ditebang | Banjir berubah dari setiap 20 tahun menjadi setiap 2 tahun |
Temuan serupa juga muncul di Colorado
Di Colorado, hasil yang sejalan ditemukan saat sekitar 40 persen wilayah hutan ditebang. Frekuensi banjir meningkat tajam, dari yang semula diperkirakan terjadi setiap 20 tahun menjadi setiap 2 tahun.
Perubahan itu menunjukkan bahwa penggunaan lahan dapat mengubah pola banjir dalam waktu yang relatif singkat. Jumlah pohon yang ditebang memang penting, tetapi lokasi penebangan sering kali menjadi faktor yang lebih menentukan.
Lokasi penebangan ikut menentukan besarnya risiko
Peneliti menekankan bahwa perubahan iklim tidak otomatis menghapus ancaman banjir. Di beberapa wilayah bersalju, iklim yang menghangat bahkan bisa mengurangi sebagian risiko karena lapisan salju semakin tipis.
Namun, penebangan hutan tetap bisa memperbesar ancaman, terutama jika dilakukan di lereng pegunungan, daerah tangkapan air, atau wilayah yang berperan menahan aliran air. Penebangan di area seperti itu dapat berdampak lebih besar dibandingkan pembukaan lahan di lokasi lain.
Karena itu, penilaian risiko banjir perlu dilakukan secara transparan oleh ahli yang independen sebelum izin penebangan diberikan. Langkah ini penting agar pembukaan lahan tidak justru memicu banjir yang lebih sering dan lebih besar.
