Pemerintah Provinsi Jawa Barat mempercepat proyek Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah Regional Legok Nangka di tengah tekanan krisis sampah yang masih membayangi kawasan Bandung Raya. Langkah ini menandai dorongan baru agar infrastruktur pengelolaan sampah regional bisa segera masuk tahap berikutnya dan memberi ruang bagi daerah yang selama ini bergantung pada tempat pembuangan akhir dengan kapasitas terbatas.
Percepatan itu juga menunjukkan bahwa Pemprov Jabar mulai menggeser fokus dari sekadar rencana menuju eksekusi yang lebih pasti. Di tengah kebutuhan sistem pengolahan sampah yang lebih modern, Legok Nangka diposisikan sebagai solusi jangka panjang dengan pendekatan berbasis teknologi.
Skema kerja sama masuk fase baru
Penandatanganan Perubahan dan Pernyataan Kembali Perjanjian Kerja Sama KPBU menjadi penanda penting dalam perjalanan proyek ini. Agenda tersebut dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat selaku Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama dan Kenichi Ishikawa selaku Direktur PT Jabar Environmental Solutions di Kabupaten Indramayu.
Pada kesempatan yang sama, PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia dan PT JES juga menandatangani Perjanjian Penjaminan. Pemprov Jabar kemudian menyerahkan Perjanjian Regres kepada PT PII dalam rangkaian kerja sama itu.
Perubahan dan Pernyataan Kembali PKS disiapkan untuk mengakomodasi penyesuaian teknis, finansial, dan regulasi terkini. Pemerintah daerah dan mitra kerja sama ingin memastikan proyek berjalan lebih akuntabel, efisien, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan lapangan.
Legok Nangka disiapkan untuk wilayah besar
TPPAS Regional Legok Nangka diproyeksikan melayani sampah dari wilayah metropolitan Bandung Raya, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang. Bandung Raya sendiri mencakup Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.
Fasilitas ini dirancang mampu mengolah hingga 2.131 ton sampah per hari. Teknologi yang dipakai adalah Waste-to-Energy atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik.
Kehadiran fasilitas tersebut menjadi penting karena kapasitas pembuangan akhir di sejumlah daerah sudah berada dalam kondisi terbatas. Dengan skema regional, beban pengelolaan sampah diharapkan tidak terus bertumpu pada TPA yang makin penuh.
Masuk tahapan pembiayaan dan konstruksi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut Legok Nangka diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk pengelolaan sampah regional. Ia juga menegaskan fasilitas itu akan mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir yang sudah mengalami keterbatasan kapasitas.
Setelah penandatanganan ini, proyek akan bergerak ke tahap pemenuhan pembiayaan atau financial close. Target penyelesaiannya berada pada akhir 2026, sebelum proyek masuk percepatan konstruksi fisik di lapangan.
Dengan skema yang diperbarui dan penjaminan yang sudah masuk, Legok Nangka kini berada pada fase penting untuk menutup celah antara kebutuhan pengelolaan sampah dan kesiapan infrastruktur. Bagi Bandung Raya dan wilayah sekitarnya, percepatan ini menjadi salah satu jalur paling nyata untuk mengurangi tekanan sampah yang selama ini terus menumpuk.
Source: suaraindonesianews.com






