Kenapa NASA Lebih Sering Splashdown Di Laut, Rusia Justru Memilih Daratan

Perbedaan cara pulang wahana antariksa Amerika Serikat dan Rusia bukan sekadar soal kebiasaan. Di balik itu ada kombinasi geografi, fisika, dan lokasi peluncuran yang membuat NASA cenderung memilih laut, sementara Rusia lebih sering mengarahkan kapsul ke daratan luas.

Hasilnya terlihat jelas sejak era awal penerbangan manusia ke luar angkasa. Amerika terbiasa dengan splashdown di samudra, sedangkan Rusia membangun sistem pendaratan yang mengandalkan wilayah darat yang sangat luas dan relatif sepi penduduk.

Amerika diuntungkan laut yang luas

Fasilitas peluncuran Amerika banyak berada dekat perairan besar. Kondisi itu membuat laut menjadi area pendaratan yang lebih aman dan lebih lunak untuk kapsul yang kembali dari orbit.

Sebelum pesawat ulang-alik yang bisa mendarat seperti pesawat terbang mulai beroperasi pada awal 1980-an, astronaut NASA hampir selalu kembali lewat splashdown. Salah satu contoh yang paling dikenal adalah Apollo 15 yang jatuh ke laut sekitar 330 mil di utara Honolulu, Hawaii.

Lokasi peluncuran juga membantu. Cape Canaveral di Florida berada sekitar 1.960 mil di utara ekuator, sehingga masih relatif dekat dengan garis lintang ideal untuk meluncurkan roket.

Ekuator memberi keuntungan kecepatan

Ekuator dianggap tempat terbaik untuk melepas roket karena rotasi Bumi paling cepat terasa di sana. Kecepatan rotasi di wilayah itu mencapai 1.025 mph.

Keuntungan momentum tersebut membantu wahana mendekati kecepatan orbit sekitar 17.398 mph dengan lebih efisien. Karena itu, lokasi peluncuran yang lebih dekat ke ekuator memberi nilai tambah besar dalam misi antariksa.

Rusia memilih tanah yang lebih luas

Rusia berada jauh lebih utara dibandingkan Amerika Serikat dan juga jauh dari ekuator. Pada saat yang sama, wilayah daratannya sangat luas dan banyak yang jarang penduduk.

Sekitar 65% wilayah Rusia hampir tidak dihuni manusia karena tanahnya membeku permanen sepanjang tahun. Area permafrost yang kosong itu justru cocok untuk pendaratan kapsul berkecepatan tinggi.

Pilihan laut bagi Rusia juga terbatas. Di utara ada Samudra Arktik, tetapi wilayah itu terlalu dingin dan dipenuhi es, sedangkan Laut Kaspia di barat daya tertutup daratan dan dikelilingi negara berpenduduk.

Baikonur dan jejak Soviet

Soviet membangun Baikonur Cosmodrome sejauh mungkin ke selatan, di Kazakhstan. Pada 1950-an, Kazakhstan masih menjadi bagian dari Uni Soviet, dan setelah Uni Soviet runtuh pada 1991, fasilitas itu tetap beroperasi lewat perjanjian sewa.

Baikonur berada sekitar 3.150 mil dari ekuator. Letaknya kurang lebih setara dengan Portland, Maine, sehingga masih tergolong sangat utara untuk kebutuhan peluncuran antariksa.

Dua cara pulang yang sama-sama masuk akal

Perbedaan paling awal terlihat pada dua manusia pertama yang mencapai luar angkasa. Yuri Gagarin menjadi manusia pertama di luar angkasa pada 12 April 1961 dengan Vostok 1.

Beberapa minggu kemudian, Alan B. Shepard terbang dengan Freedom 7 pada 5 Mei dan menjadi orang Amerika pertama di angkasa sekaligus manusia pertama yang melakukan splashdown di Atlantik.

Gagarin tidak kembali bersama kapsulnya sampai ke tanah. Ia melontarkan diri dari Vostok 1 saat masih lebih dari 4 mil di atas Bumi, lalu turun dengan parasut.

Vostok 1 juga mengeluarkan parasutnya sendiri sekitar satu setengah mil di atas tanah. Kapsul dan Gagarin akhirnya mendarat di ladang terbuka sekitar 530 mil di tenggara Moskow, dan metode itu kemudian terus dipakai Rusia.

Pilihan laut atau darat pada akhirnya mengikuti kondisi masing-masing negara. NASA mendapatkan keuntungan dari lautan luas di sekitar lokasi peluncuran, sementara Rusia mengandalkan hamparan daratan dingin yang kosong dan sulit dihuni.

Terkait