Pemilik baru motor listrik sering mengira baterai akan awet selama rutin diisi daya. Padahal, justru kebiasaan harian yang terlihat sepele sering mempercepat penurunan performa dan memicu gangguan pada sistem kendaraan.
Perawatan baterai motor listrik tidak hanya soal mengecas sampai penuh. Ada batas kapasitas ideal, cara simpan yang benar, perhatian terhadap suhu, dan metode pencucian yang harus dipahami sejak awal.
1. Jangan biarkan baterai penuh terlalu lama
Salah satu kesalahan yang paling umum adalah memarkir motor lama dengan baterai 100 persen. Untuk baterai lithium, kondisi penuh seperti ini tidak dianjurkan jika motor akan ditinggal dalam waktu lama.
Danang Priyo Kumoro, Technical Training Coordinator Astra Motor Yogyakarta, menyarankan baterai dijaga di rentang 30 persen sampai 80 persen. Baterai juga tidak boleh dibiarkan terlalu rendah saat disimpan, karena kondisi kosong atau nyaris habis sama-sama tidak ideal.
2. Jangan menunggu sampai benar-benar habis
Banyak pemilik baru menunda pengisian sampai indikator turun sangat rendah. Danang menyebut pengisian sebaiknya mulai dilakukan saat kapasitas tersisa 30 persen.
Jika kapasitas sudah turun ke 20 persen, pengisian tidak seharusnya ditunda lagi. Menunggu baterai mendekati habis, apalagi sampai 0 persen, dinilai buruk untuk menjaga kesehatan baterai.
3. Jangan mencabut baterai saat motor lama tidak dipakai
Kebiasaan melepas aki pada kendaraan konvensional sering dibawa ke motor listrik. Logika itu tidak bisa diterapkan begitu saja karena mencabut baterai justru bisa mengganggu sistem motor.
Danang menjelaskan, tindakan tersebut dapat membuat sistem kendaraan seperti mengalami reset kembali. Karena itu, baterai sebaiknya tetap terpasang dan berada dalam kapasitas ideal saat motor tidak digunakan.
4. Waspadai panas berlebih
Baterai motor listrik juga sensitif terhadap suhu tinggi. Parkir terlalu lama di bawah panas ekstrem atau memakai motor dalam kondisi suhu berlebih dapat memicu sistem proteksi bekerja.
Menurut Danang, saat suhu terlalu panas terdeteksi, battery management unit akan mengirim sinyal ke ECU. Sinyal itu dibaca sebagai masalah pada baterai lithium, lalu ECU akan membatasi daya yang bisa dikeluarkan baterai untuk menggerakkan motor.
Dampaknya, pengendara bisa merasakan tenaga tidak seoptimal biasanya. Dalam kondisi seperti ini, penurunan performa tidak selalu berarti kerusakan permanen karena sistem sedang melindungi baterai.
5. Jangan asal semprot saat mencuci
Masalah air juga sering disalahpahami pemilik motor listrik. Ada anggapan bahwa karena motor aman melewati genangan, seluruh bagian kendaraan juga aman disemprot air bertekanan tinggi saat dicuci.
Danang menyarankan pencucian tidak dilakukan dengan metode steam. Area baterai dan kontroler sebaiknya dibersihkan memakai air mengalir bertekanan rendah agar komponen sensitif tetap aman.
Tekanan air yang terlalu kuat bisa menembus sela-sela komponen kelistrikan meski sistem sudah dirancang kedap. Ini berbeda dengan kemampuan motor saat melintasi genangan di jalan.
Berdasarkan pengetesan Astra Honda Motor, Honda EM1 e: dinyatakan aman menerjang genangan air hingga 30 cm. Namun kemampuan itu tidak bisa disamakan dengan paparan air bertekanan tinggi yang langsung diarahkan ke bagian sensitif.
Lima kebiasaan ini menunjukkan bahwa umur baterai motor listrik sangat dipengaruhi cara pakai sehari-hari. Menjaga rentang kapasitas ideal, menghindari baterai terlalu kosong atau terlalu penuh, serta memperhatikan panas dan cara cuci bisa membantu performa motor tetap stabil lebih lama.
Source: www.suara.com






