Rakitan PC gaming mini murah ini menarik perhatian karena biayanya hanya sekitar $166, tetapi tetap dirancang untuk menjalankan game modern dan emulasi konsol lawas. Dengan komponen bekas, casing ringkas, dan Batocera OS, perangkat ini mencoba menghadirkan rasa seperti Steam Machine versi DIY.
Yang membuatnya menonjol bukan cuma harga, melainkan cara seluruh komponen dipilih agar tetap seimbang. Hasilnya adalah PC kecil yang hemat tempat, cukup fleksibel untuk ruang sempit, dan masih punya tenaga untuk game ringan hingga beberapa judul yang lebih berat.
Komponen Bekas yang Dipadukan Secara Efisien
Di jantung sistem ini ada Intel Core i5-2500 seharga $9 dan AMD Radeon RX 550 seharga $36. Keduanya dipasangkan dengan RAM 16GB DDR3 senilai $24 serta SSD SATA 240GB seharga $23 agar sistem tetap responsif.
Bagian lain yang ikut menentukan biaya adalah motherboard B75 ITX seharga $27 dan casing Metal Fish T40 seharga $22. Untuk catu daya, rakitan ini memakai PSU SFX 550W hasil salvaging yang bisa gratis atau sekitar $10.
Karena ruang di dalam bodi sangat terbatas, sistem ini juga memerlukan kabel PCIe riser seharga $15. Ada pula dongle Bluetooth USB seharga $10 untuk memudahkan koneksi kontroler dan periferal nirkabel.
| Komponen | Harga |
|---|---|
| Intel Core i5-2500 | $9 |
| AMD Radeon RX 550 | $36 |
| RAM 16GB DDR3 | $24 |
| SSD SATA 240GB | $23 |
| Motherboard B75 ITX | $27 |
| Casing Metal Fish T40 | $22 |
| PSU SFX 550W hasil salvaging | Gratis atau sekitar $10 |
| PCIe riser cable | $15 |
| Bluetooth USB dongle | $10 |
Batocera OS Jadi Kunci Pengalaman Pakai
Alih-alih memakai sistem operasi desktop umum, rakitan ini mengandalkan Batocera OS berbasis Linux. Platform tersebut dirancang khusus untuk gaming dan dikenal ringan, sehingga lebih efisien untuk perangkat keras lama.
Antarmukanya disebut menyerupai Steam OS, jadi pengalaman navigasi terasa seperti konsol. Pendekatan ini membuat sistem lebih praktis dipakai setelah perakitan selesai, tanpa konfigurasi yang rumit.
Batocera OS juga mendukung integrasi dengan EmuDeck untuk emulasi. Dengan begitu, game retro seperti PlayStation 1 bisa tampil dalam satu lingkungan antarmuka yang sama dengan game lain.
Dukungan driver AMD bawaan turut membantu stabilitas sistem saat memakai Radeon RX 550. Faktor ini penting karena kartu grafis tersebut menjadi tulang punggung performa gaming di rakitan hemat ini.
Performa yang Masih Mengejutkan untuk Biayanya
Meski dibangun dari komponen murah dan bekas, performanya ternyata tidak bisa diremehkan. Untuk game indie Silk Song, sistem ini dilaporkan bisa menembus lebih dari 200 FPS pada resolusi 1080p.
Di kelas yang lebih berat, Tomb Raider berjalan pada 50 hingga 70 FPS dengan setelan high. Capaian itu menunjukkan rakitan ini masih sanggup menangani judul AAA pada level yang nyaman dimainkan.
CS: GO juga masih masuk dalam jangkauannya dengan performa 50 hingga 80 FPS pada setelan low dan 50 hingga 70 FPS pada medium. Itu memberi ruang bagi permainan kompetitif yang tetap mengutamakan efisiensi.
The Witcher 3 pun masih bisa dijalankan pada 30 hingga 40 FPS di setelan low. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa PC mini ini bukan hanya cocok untuk game retro, tetapi juga masih layak dipakai menjajal RPG yang lebih menuntut.
Dirancang untuk Fungsi, Bukan Kemewahan
Konsep utama rakitan ini adalah memaksimalkan setiap dolar yang dikeluarkan. Karena itu, penggunaan komponen second-hand dan PSU hasil bongkaran menjadi bagian penting dari strategi menekan biaya.
Bluetooth memperluas fungsi perangkat ini sebagai mesin gaming ruang tamu. Dengan koneksi nirkabel, pengguna bisa memasangkan kontroler tanpa kabel tambahan, sehingga pengalaman pakai terasa lebih dekat ke konsol rumahan.
Gabungan harga rendah, desain kecil, dan dukungan emulasi membuat rakitan ini menonjol di kelas DIY budget. Untuk pengguna yang ingin memainkan game modern ringan, judul lama, dan koleksi retro dalam satu perangkat, formula seperti ini menunjukkan bahwa Steam Machine murah masih sangat mungkin diwujudkan.
