Tahap atas roket Falcon 9 milik SpaceX diperkirakan akan menabrak permukaan Bulan pada 5 Agustus 2026. Peristiwa itu mencuri perhatian karena terjadi hanya sepekan sebelum Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026.
Prediksi tersebut datang dari astronom independen sekaligus pengembang perangkat lunak pelacak benda langit Project Pluto, Bill Gray. Berdasarkan perhitungan orbit terbaru, objek itu diperkirakan menghantam Bulan pada pukul 13.44 WIB di sekitar Kawah Einstein.
Asal muasal tahap atas Falcon 9
Komponen yang dipantau berasal dari misi 2025-010D yang diluncurkan pada Januari 2025. Saat itu, Falcon 9 membawa misi pendaratan Blue Ghost Mission 1 milik Firefly Aerospace dan Hakuto-R Mission 2 dari perusahaan Jepang, ispace.
Tahap atas Falcon 9 berbeda dari tahap pertamanya yang bisa kembali mendarat di Bumi. Bagian ini tidak dirancang untuk digunakan ulang, sehingga tetap bergerak di ruang angkasa setelah menyelesaikan tugas awalnya.
Seiring waktu, lintasannya berubah dan kini bersinggungan dengan orbit Bulan. Gray menyebut orbit Bulan dan objek tersebut pada dasarnya saling berpotongan, sehingga keduanya diperkirakan tiba di titik yang sama pada 5 Agustus.
Lokasi tumbukan dan dampaknya
Titik benturan diperkirakan berada di dekat Kawah Einstein, kawasan di perbatasan sisi dekat dan sisi jauh Bulan. Kecepatan benturan diprediksi mencapai tujuh kali kecepatan suara.
Para ahli menegaskan peristiwa ini tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi. Dampak utamanya justru kemungkinan berupa terbentuknya kawah baru di permukaan Bulan.
Citra kawah baru tersebut kemungkinan akan didokumentasikan oleh wahana Lunar Reconnaissance Orbiter milik NASA. Jika pengamatan berhasil, data itu bisa menambah pemahaman tentang permukaan Bulan dan objek buatan manusia di orbitnya.
Sampah antariksa di sekitar Bulan
Insiden ini kembali menyoroti persoalan sampah antariksa di lingkungan Bulan. Isu tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya aktivitas eksplorasi luar angkasa oleh berbagai negara dan perusahaan.
Program Artemis NASA menargetkan pengiriman astronaut kembali ke Bulan pada 2028. Di sisi lain, China juga memiliki ambisi mengirim manusia ke Bulan pada 2030.
Dalam konteks itu, tumbukan tahap atas Falcon 9 menunjukkan bahwa benda buatan manusia dapat bertahan lama di ruang angkasa sebelum akhirnya berinteraksi dengan objek langit lain. Peristiwa ini juga menegaskan semakin padatnya lalu lintas benda di sekitar orbit Bulan.
Agustus 2026 yang padat bagi pengamatan langit
Tabrakan yang diprediksi terjadi pada 5 Agustus itu akan diikuti Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus. Fenomena gerhana tersebut disebut akan melintasi Greenland, Islandia, Spanyol, dan Portugal.
Rangkaian peristiwa ini membuat Agustus 2026 dipandang sebagai periode penting bagi pengamatan astronomi global. Dengan tumbukan roket dan gerhana besar yang berdekatan, perhatian publik terhadap dinamika Bulan dan ruang angkasa diperkirakan meningkat tajam.
