Panas lembap berbahaya kini muncul jauh lebih sering dibandingkan 50 tahun lalu, dan dampaknya tidak lagi bisa dianggap ringan. Saat suhu tinggi bertemu kelembapan besar, tubuh kehilangan kemampuan untuk membuang panas secara efisien.
Situasi itu membuat risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga serangan panas meningkat tajam. Bagi banyak orang, ancamannya datang bukan hanya saat beraktivitas berat, tetapi juga ketika berada di luar ruangan dalam cuaca yang tampak “biasa” namun terasa semakin menekan.
Wilayah tropis paling tertekan
Analisis Climate Central menunjukkan frekuensi hari dengan panas lembap berbahaya sudah naik lebih dari dua kali lipat sejak 1970-an akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Sepanjang 2025, sekitar 83 persen wilayah di dunia mengalami tambahan hari dengan kondisi seperti ini.
Dampak paling kuat terasa di kawasan tropis lembap seperti Asia Tenggara, pesisir Afrika Barat, dan sebagian Amerika Selatan. Di wilayah-wilayah itu, kondisi panas lembap berbahaya kini bisa bertahan hingga enam bulan dalam setahun.
| Wilayah | Dampak yang Dilaporkan | Catatan |
|---|---|---|
| Asia Tenggara | Hari panas lembap berbahaya makin sering | Termasuk kawasan tropis lembap yang paling terdampak |
| Pesisir Afrika Barat | Bisa menghadapi hingga enam bulan kondisi berbahaya | Peningkatan terasa kuat sepanjang 2025 |
| Sebagian Amerika Selatan | Hari panas lembap berbahaya bertambah | Masuk kelompok wilayah tropis paling terdampak |
| Semenanjung Arab, Australia bagian tengah, barat daya Amerika Serikat | Lebih banyak hari panas lembap berbahaya dibandingkan dekade 1970-an | Kenaikan juga terjadi di wilayah yang tidak identik dengan kelembapan tinggi |
Menariknya, peningkatan itu tidak hanya terjadi di daerah yang memang lembap. Semenanjung Arab, Australia bagian tengah, dan barat daya Amerika Serikat juga mencatat lebih banyak hari panas lembap berbahaya dibandingkan dekade 1970-an.
Kenapa tubuh makin sulit beradaptasi
Climate Central menggunakan indikator suhu bola basah atau wet-bulb temperature untuk mengukur tingkat bahaya panas lembap. Ketika suhu bola basah mencapai 25 derajat Celsius atau lebih, kemampuan tubuh membuang panas lewat penguapan keringat mulai turun signifikan.
Artinya, risiko gangguan kesehatan bisa muncul meski seseorang tidak sedang melakukan aktivitas berat. Kelompok yang paling rentan mencakup lansia, ibu hamil, anak-anak, penderita penyakit kronis, dan masyarakat yang tidak memiliki akses ke pendingin ruangan.
Laporan itu menyebut panas lembap telah menyebabkan lebih dari 250 ribu kematian di seluruh dunia sejak tahun 2000. Para peneliti memperingatkan jumlah itu masih bisa terus bertambah jika emisi gas rumah kaca tidak ditekan.
Bahaya ekstrem yang makin mungkin terjadi
Temuan Climate Central merujuk pada penelitian berjudul Multi-method rapid attribution shows climate change is worsening humid heat yang dimuat di Environmental Research Letters pada Mei 2026. Penelitian itu menyebut perubahan iklim telah menaikkan suhu bola basah maksimum harian rata-rata sekitar 1,2 derajat Celsius.
Studi tersebut juga menemukan kejadian panas lembap ekstrem kini 65 hingga 175 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan dunia tanpa pengaruh pemanasan global. Analisis dilakukan dengan membandingkan data suhu bola basah maksimum harian sepanjang 1970–2025 dan simulasi dunia tanpa perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Seluruh temuan itu menegaskan bahwa krisis iklim bukan hanya membuat Bumi lebih panas, tetapi juga membuat panas menjadi jauh lebih sulit ditoleransi tubuh manusia. Bahkan orang sehat sekalipun kini menghadapi risiko lebih besar saat panas lembap ekstrem datang lebih sering dan bertahan lebih lama.
Source: www.suara.com






