Pakar Keamanan Kripto Ingatkan Semua DeFi Tak Lagi Aman, Exit Sebelum Terlambat

Peringatan Manuel Aráoz memicu kekhawatiran baru di pasar kripto karena tokoh keamanan yang lama dikenal di ekosistem DeFi itu kini menganggap semua DeFi tidak aman. Ia menilai kemunculan coding agent berbasis AI telah mengubah keseimbangan antara penyerang dan pembela, dan membuat pihak jahat makin unggul.

Aráoz menyebut coding agents kini “superhuman” dalam menemukan kerentanan. Dalam pandangannya, keamanan smart contract terlalu asimetris karena pembela harus menutup semua celah, sementara penyerang cukup menemukan satu exploit untuk mencuri dana.

Seruan keluar dari posisi DeFi

Peringatan itu menjadi lebih tegas ketika Aráoz mengaku sudah menyarankan orang-orang terdekatnya untuk mengurangi eksposur ke DeFi. Ia bahkan mengatakan telah meminta teman dan keluarga keluar dari semua posisi DeFi, termasuk aset yang selama ini dianggap aman seperti Aave, MakerDAO, dan Compound.

Langkah verbal itu mengejutkan banyak pelaku pasar karena ketiga protokol tersebut termasuk nama yang paling mapan di sektor pinjaman on-chain. Bagi sebagian komunitas, pernyataan itu terasa seperti sinyal bahwa risiko kini tidak lagi terbatas pada proyek kecil atau protokol baru.

Aráoz bukan sosok asing di industri ini. Ia adalah co-founder OpenZeppelin dan Decentraland, dua nama yang lama dikenal di dunia infrastruktur dan audit keamanan kripto.

Perdebatan soal akar masalah

Komentar Aráoz langsung memicu penolakan dari sejumlah tokoh DeFi, termasuk Marc Zeller, pendiri Aave Chan Initiative. Zeller menyebut peringatan itu sebagai pernyataan yang “moronic” dan menilai sumber masalah utama bukan pada basis kode.

Menurut Zeller, kurang dari 10% masalah DeFi selama setahun terakhir berasal dari kode. Ia menilai sebagian besar persoalan justru muncul dari salah konfigurasi parameter, runtuhnya agunan, dan lemahnya operational security.

Aráoz membalas bahwa kekhawatirannya tidak berhenti pada kode smart contract. Ia menegaskan bahwa yang ia maksud adalah keamanan secara luas, termasuk desain mekanisme dan opsec.

Lonjakan kerugian memperkuat alarm

Debat ini muncul di tengah lonjakan kerugian akibat exploit DeFi selama 12 bulan terakhir. Data DefiLlama menunjukkan lebih dari $1.1 miliar hilang karena eksploitasi terkait DeFi dalam periode tersebut.

Salah satu insiden terbesar terjadi pada April saat infrastruktur KelpDAO dieksploitasi. Serangan itu melibatkan sekitar 116,500 rsETH yang terhubung ke bridge berbasis LayerZero.

Aset curian itu kemudian digunakan sebagai agunan di Aave sebelum penyerang meminjam dana dengan jaminan tersebut. Kondisi ini membuat protokol pinjaman itu menghadapi eksposur besar terhadap bad debt.

Dampak ke Aave dan perilaku pengguna

Efek serangan itu segera terasa pada Aave. Total value locked Aave turun tajam dari sekitar $26.4 miliar menjadi sekitar $14.6 miliar hanya dalam hitungan minggu setelah exploit April.

Data AaveScan juga menunjukkan penurunan pada aset yang disuplai dan pinjaman yang masih berjalan. Pola tersebut mengindikasikan pengguna terus menarik likuiditas dari platform.

Permintaan pinjaman ikut melemah, dan CCN analyst Abiodun Oladokun menilai kondisi itu menandakan trader memilih mengurangi leverage. Alih-alih membuka posisi baru, pasar justru terlihat defensif setelah serangan besar tersebut.

Ketidakpastian masih menekan sentimen

Aktivitas pengguna juga memburuk setelah insiden itu. Weekly active addresses sempat melonjak tepat setelah kejadian karena pengguna menutup posisi, tetapi partisipasi kemudian turun ke level terendah sejak 2024.

Perdebatan soal AI dan keamanan DeFi kini meluas ke pertanyaan yang lebih besar tentang siapa yang paling rentan. Sejumlah pengguna menilai ancaman AI tidak hanya menghantam protokol terdesentralisasi, tetapi juga kustodian dan bursa besar seperti BitGo dan Coinbase.

Terkait