Obesitas kerap dianggap hanya soal penampilan dan angka di timbangan, padahal kondisi ini merupakan penyakit kronis yang dapat mengganggu metabolisme tubuh. Jika tidak ditangani sejak awal, obesitas bisa meningkatkan risiko diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung koroner, gangguan kolesterol, hingga beberapa jenis kanker.
Koordinator tim medis Sirka, dr Febrina Fajria, menegaskan bahwa obesitas bukan sekadar tanda kurang disiplin. “Obesitas bukan sekadar masalah penampilan atau kurangnya disiplin. Ini adalah kondisi medis kronis yang menyebabkan gangguan metabolik kompleks,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip dari BeritaSatu.
Obesitas Memengaruhi Banyak Organ
Secara medis, obesitas terjadi ketika lemak tubuh menumpuk berlebihan dan mulai mengganggu fungsi normal tubuh. Dampaknya tidak berhenti pada berat badan yang naik, karena kondisi ini juga dapat memengaruhi kerja hormon, kadar gula darah, tekanan darah, dan metabolisme lemak.
Dalam praktik klinis, banyak orang baru memeriksakan diri saat komplikasi sudah muncul. Situasi ini membuat penanganan menjadi lebih rumit karena sejumlah gangguan kesehatan sering berkembang bersamaan.
Risiko Penyakit yang Sering Menyertai Obesitas
Obesitas berkaitan erat dengan penyakit tidak menular yang berkembang perlahan dan sering tidak bergejala pada tahap awal. Proses ini biasanya dipicu resistensi insulin, peradangan kronis tingkat rendah, serta perubahan metabolik lain yang memengaruhi banyak organ.
Beberapa risiko yang paling sering dikaitkan dengan obesitas adalah:
- Diabetes tipe 2
- Hipertensi
- Penyakit jantung koroner
- Gangguan kolesterol dan lemak darah
- Beberapa jenis kanker
Kaitan obesitas dan kanker juga menjadi perhatian banyak kajian medis internasional. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO secara konsisten memasukkan obesitas sebagai faktor risiko utama penyakit tidak menular yang dapat menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan risiko kematian dini.
Pemeriksaan Dini Menjadi Langkah Penting
dr Febrina menekankan bahwa penanganan obesitas sebaiknya tidak menunggu hingga komplikasi muncul. Ia menyebut penanganan yang efektif harus dimulai lebih awal, dilakukan secara menyeluruh, dan melibatkan tim medis yang memahami hubungan antara metabolisme, nutrisi, dan gaya hidup pasien.
Pendekatan ini penting karena obesitas jarang membaik hanya dengan satu langkah. Evaluasi medis membantu dokter menentukan apakah seseorang hanya mengalami kelebihan lemak tubuh atau juga sudah mengalami gangguan metabolik lain.
Pemeriksaan yang umumnya dibutuhkan meliputi:
- Pengukuran indeks massa tubuh dan lingkar pinggang
- Analisis komposisi tubuh
- Pemeriksaan gula darah
- Pemeriksaan profil lipid
- Evaluasi tekanan darah
- Penilaian pola makan dan aktivitas fisik
Gaya Hidup Masih Jadi Fondasi Utama
Perubahan gaya hidup tetap menjadi dasar utama dalam menangani obesitas. Pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur cukup, dan pengelolaan stres membantu menekan risiko komplikasi sekaligus memperbaiki kondisi metabolik tubuh.
Namun, pada sebagian kasus, perubahan gaya hidup saja belum cukup memberi hasil yang memadai. Dalam kondisi seperti itu, terapi obat dapat dipertimbangkan sebagai bantuan tambahan untuk mencapai hasil klinis yang lebih optimal dan aman sesuai evaluasi dokter.
Kapan Perlu Memeriksakan Diri
Banyak orang menunda pemeriksaan karena merasa obesitas bisa diatasi sendiri. Padahal, jika berat badan berlebih sudah disertai tekanan darah tinggi, gula darah naik, atau sesak saat beraktivitas, pemeriksaan medis perlu dilakukan secepatnya.
Risiko juga perlu dipantau lebih ketat pada orang dengan riwayat keluarga diabetes, penyakit jantung, atau kanker tertentu. Deteksi dini memberi peluang lebih besar untuk mencegah kerusakan kesehatan jangka panjang sebelum komplikasi berkembang lebih jauh.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com






