Nissan Taruh 90 Persen Model Pada AI, Pangkas 20.000 Karyawan Demi Bangkit

Author: Cung Media

Nissan menyiapkan perubahan besar untuk menghadapi tekanan pasar otomotif global yang semakin ketat. Produsen asal Jepang itu menaruh kecerdasan buatan sebagai poros strategi baru, sekaligus menjalankan restrukturisasi besar yang mencakup pemangkasan model, penutupan pabrik, dan pengurangan 20.000 karyawan di seluruh dunia.

Langkah ini menegaskan bahwa Nissan tidak hanya ingin bertahan, tetapi juga membangun ulang fondasi bisnis agar lebih ramping dan lebih cepat beradaptasi. Di saat para pesaing agresif menggarap kendaraan listrik, perangkat lunak, dan sistem bantuan berkendara, Nissan memilih jalur yang menempatkan teknologi otonom dan efisiensi operasi sebagai dua prioritas utama.

AI Jadi Arah Utama Pengembangan Produk

Nissan menargetkan sistem berkendara otonom berbasis AI hadir pada 90 persen model masa depannya. Target itu menunjukkan perubahan strategi yang besar, karena teknologi pintar kini diposisikan sebagai inti pengembangan produk, bukan sekadar fitur tambahan.

Fase awal teknologi tersebut akan muncul pada akhir tahun fiskal 2027 lewat MPV premium Elgrand. Model itu sendiri dijadwalkan meluncur ke pasar pada musim panas, sehingga publik akan mulai melihat bagaimana Nissan menghubungkan produk saat ini dengan arah teknologi berikutnya.

Pergeseran ini juga mengikuti tren global di industri otomotif yang makin mengandalkan AI, sensor canggih, dan perangkat lunak untuk meningkatkan keselamatan berkendara. Nissan tampak ingin mengambil tempat di persaingan ini dengan memperkuat teknologi inti yang bisa menjadi pembeda di pasar yang semakin padat.

Portofolio Dipersempit Agar Lebih Efisien

Selain mengejar teknologi otonom, Nissan memangkas jumlah model untuk membuat bisnis lebih ringan dan fokus. Jumlah model global akan turun dari 56 menjadi 45, sehingga sumber daya bisa diarahkan ke produk yang dinilai paling kuat secara permintaan dan potensi inovasi.

Berikut arah penyederhanaan yang dipaparkan Nissan:

  1. Mengurangi jumlah model global dari 56 menjadi 45.
  2. Memusatkan investasi pada model dengan permintaan tinggi.
  3. Memperkuat lini kendaraan elektrifikasi dan hybrid.
  4. Mempercepat integrasi teknologi pintar di model prioritas.

Penyederhanaan ini penting karena biaya pengembangan model otomotif sangat besar. Dengan portofolio yang lebih sempit, Nissan bisa menekan beban produksi, mempercepat siklus pengembangan, dan menjaga kualitas pada model yang benar-benar menjadi tumpuan bisnis.

Di sisi produk, Nissan tetap menyiapkan kendaraan baru di segmen ramah lingkungan. X-Trail Hybrid versi terbaru dan Juke Elektrik masuk dalam rencana untuk menjaga daya tarik merek di tengah perubahan selera konsumen yang makin condong ke kendaraan hemat energi.

Restrukturisasi Besar Menyentuh Pabrik dan Tenaga Kerja

Di balik strategi teknologi itu, Nissan juga mengambil langkah berat dalam restrukturisasi global. Perusahaan berencana menutup tujuh pabrik di Jepang dan luar negeri untuk menyesuaikan kapasitas produksi dengan kondisi pasar dan memperbaiki kesehatan keuangan.

Salah satu fasilitas yang terdampak adalah pabrik Oppama di Yokosuka, Prefektur Kanagawa, yang punya nilai historis penting dalam perjalanan produksi Nissan. Penutupan fasilitas ini memperlihatkan skala penyesuaian yang agresif, bukan sekadar penghematan kecil.

Langkah paling besar datang dari sisi tenaga kerja. Nissan akan mengurangi 20.000 karyawan di seluruh dunia, angka yang menegaskan bahwa restrukturisasi ini menyentuh struktur inti perusahaan dan bukan hanya lini pendukung.

Dalam laporan yang dikutip dari Kyodo News, Ivan Espinosa menyebut keputusan tersebut sebagai langkah sulit namun penting agar Nissan tetap relevan dan kompetitif di era mobilitas baru yang serba otomatis dan terelektrifikasi. Pernyataan itu menggambarkan dilema yang kini dihadapi banyak pabrikan besar, yakni menyeimbangkan inovasi masa depan dengan beban bisnis yang masih berjalan.

Taruhan Besar di Tengah Persaingan Global

Rencana Nissan memperlihatkan dua gerakan sekaligus: mendorong teknologi masa depan dan memangkas struktur yang dianggap terlalu berat. Kombinasi ini bisa memberi ruang pemulihan bila dieksekusi dengan disiplin, tetapi juga membawa risiko jika transisi berlangsung terlalu cepat atau mengganggu ritme produksi.

Di tengah persaingan global yang dipicu elektrifikasi, software-defined vehicle, dan perang harga, Nissan memilih langkah yang sangat agresif untuk kembali ke jalur pertumbuhan. Fokus pada AI, portofolio yang lebih ramping, dan restrukturisasi global kini menjadi penentu apakah merek ini bisa kembali kuat atau justru harus menghadapi tekanan baru dalam proses pembenahan yang besar.

Terbaru