
Nissan dikabarkan tengah menyiapkan kebangkitan Juke dalam format mobil listrik penuh. Model yang dulu sempat dipasarkan di Indonesia itu disebut akan kembali sebagai SUV listrik dengan tampilan yang jauh lebih futuristis ketimbang versi lamanya.
Langkah ini menarik karena Juke punya nama yang cukup dikenal di pasar, meski penjualannya di Indonesia sudah lama dihentikan. Nissan tampaknya ingin menghidupkan lagi identitas tersebut sambil mengikuti arah elektrifikasi yang kini makin kuat di industri otomotif.
Juke EV masuk strategi elektrifikasi Nissan
Nissan sebenarnya sudah memiliki beberapa SUV listrik, termasuk Ariya yang cukup dikenal di sejumlah negara. Namun pabrikan asal Jepang itu tampaknya belum puas dan masih ingin memperluas lini kendaraan setrum mereka dengan model baru.
Juke EV disebut akan menjadi salah satu model penting dalam strategi itu. Berbeda dari Juke generasi sebelumnya yang populer karena desain unik, versi listriknya diproyeksikan tampil lebih modern dan selaras dengan kebutuhan pasar EV saat ini.
Kehadiran model baru ini juga menunjukkan bahwa Nissan tidak hanya mengandalkan satu atau dua mobil listrik. Perluasan portofolio menjadi penting agar merek asal Jepang itu punya lebih banyak pilihan di segmen kendaraan tanpa emisi.
Mengusung teknologi V2G
Salah satu hal yang menonjol dari Juke EV adalah rencana penggunaan teknologi V2G atau vehicle-to-grid. Teknologi ini memungkinkan mobil tidak hanya menyerap daya, tetapi juga bisa menjadi sumber listrik bagi rumah dalam kondisi tertentu.
Pendekatan tersebut membuat Juke EV tidak sekadar tampil sebagai mobil listrik baru. Nissan terlihat ingin memberi fungsi yang lebih relevan bagi pemilik kendaraan listrik, terutama saat kebutuhan energi rumah tangga ikut menjadi perhatian.
Selain itu, Juke EV juga disebut akan memakai baterai NMC atau nickel-manganese-cobalt. Ada dua opsi kapasitas yang disiapkan, yakni 52 kWh dan 72 kWh, dengan klaim jarak tempuh hingga 622 km.
Tetap pakai penggerak roda depan
Dari sisi teknis, Juke EV dikabarkan menggunakan penggerak roda depan atau FWD. Konfigurasi ini sejalan dengan karakter Juke lama dan berbeda dari Ariya yang punya pilihan all-wheel drive atau AWD.
Pilihan FWD memberi sinyal bahwa Nissan ingin mempertahankan karakter Juke sebagai SUV kompak yang ringkas dan mudah digunakan. Meski begitu, nuansa mobil listrik jelas akan membuat pengalaman berkendaranya berbeda dari Juke generasi sebelumnya.
Dengan kombinasi ukuran yang tidak terlalu besar dan jarak tempuh yang diklaim mencapai 622 km, Juke EV berpotensi masuk ke segmen yang cukup menarik. Model ini bisa menjadi opsi bagi konsumen yang mencari SUV listrik praktis tanpa harus beralih ke kendaraan yang lebih besar.
Dirakit di Sunderland
Jika tidak ada hambatan, Juke EV disebut akan meluncur sekitar musim semi 2027. Mobil ini nantinya akan dirakit di pabrik Nissan di Sunderland, Inggris, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi basis penting produksi mobil listrik mereka.
Sunderland juga menjadi lokasi strategis bagi Nissan untuk memperkuat lini kendaraan elektrifikasi. Di fasilitas itu, Nissan sudah menyiapkan peran besar untuk model-model seperti Ariya, All New Leaf, dan Micra yang lebih dulu masuk ke jalur elektrifikasi.
Masuknya Juke EV akan menambah daftar tersebut dan memperkuat posisi Nissan di pasar Eropa. Kehadiran nama lama dalam format baru menunjukkan bahwa merek yang sudah dikenal tetap bisa dihidupkan kembali jika dibawa ke teknologi yang relevan.
Relevansi untuk pasar Indonesia
Juke pernah hadir di Indonesia, namun akhirnya dihentikan karena penjualannya tidak terlalu kuat. Saat ini Nissan lebih fokus pada model ramah lingkungan, meski belum semua mobil listrik globalnya dibawa ke pasar Indonesia.
Ariya dan kei car Sakura sempat diperlihatkan ke publik, tetapi keduanya belum masuk ke pasar nasional. Nissan disebut masih mempertimbangkan banyak faktor, termasuk potensi harga yang bisa membuat Ariya kurang kompetitif jika dijual di sini.
Untuk saat ini, Leaf masih menjadi model BEV andalan Nissan di Indonesia. Walau tidak ada data penjualan yang diumumkan, model tersebut tampaknya masih memiliki peminat dan tetap menjadi wajah elektrifikasi Nissan di pasar domestik.





