Nabi Yusuf Menimbun Gandum Saat Panen Melimpah, Langkah Keras Hadapi Paceklik

Kelimpahan panen justru menjadi masa paling menentukan bagi Yuzarsif dalam serial Nabi Yusuf. Ketika hujan turun tepat pada awal musim tanam, ia segera memperketat pengumpulan gandum untuk menghadapi ancaman tujuh tahun kekeringan.

Langkah itu tidak hanya berfokus pada hasil panen saat ini, melainkan pada keselamatan rakyat ketika benih tak lagi bisa tumbuh. Yuzarsif menilai persediaan pangan harus diamankan saat Mesir masih berada dalam masa subur.

Cadangan Pangan Dibangun Saat Mesir Makmur

Yuzarsif turun langsung ke wilayah pertanian untuk memastikan gandum disimpan dengan cara yang tepat. Bulir gandum tidak dipisahkan dari tangkainya agar persediaan dapat bertahan lebih lama.

Strategi tersebut menjadi inti persiapan menghadapi Tujuh Tahun Kemakmuran sebelum masa paceklik tiba. Saat hujan berhenti dan tanah tidak lagi menghasilkan panen, gandum yang terkumpul akan menjadi penopang kehidupan warga.

Keberhasilan panen membuat kepercayaan sebagian warga terhadap ramalan Yuzarsif semakin kuat. Seorang warga bahkan menyatakan, “Yuzarsif adalah pria jujur. Aku percaya penuh kepadanya,” ketika menyerahkan gandumnya.

Namun, tidak semua orang memahami bagaimana Yuzarsif mengetahui perubahan besar yang akan dialami Mesir. Keraguan itu muncul bersamaan dengan upaya pemerintah mengajak rakyat menyimpan hasil bumi secara teratur.

Tujuh Silo Raksasa Disiapkan di Thebes

Untuk menampung persediaan itu, Yuzarsif membangun tujuh silo raksasa di Thebes atau Tips, ibu kota Mesir dalam alur serial tersebut. Fasilitas ini disiapkan bagi warga setempat sekaligus pendatang yang membutuhkan pangan saat keadaan memburuk.

Media Indonesia melaporkan, rancangan silo dibuat untuk melindungi gandum dari kelembapan dan cuaca. Tangkai gandum yang disimpan juga dapat dimanfaatkan sebagai sekam untuk pakan ternak.

Bagian SiloFungsi
Ruang bawah tanah dari batuMelindungi gandum dari kelembapan tanah
Atap tertutup rapatMencegah air hujan merusak persediaan
Tingkap bagian atasJalur memasukkan gandum ke dalam silo
Tingkap bagian bawahMemudahkan pengambilan gandum untuk distribusi

Model penyimpanan itu juga menjadi jawaban atas risiko gandum yang dibiarkan tersimpan sendiri oleh petani. Yuzarsif memperingatkan bahwa hasil panen dapat rusak oleh berbagai sebab bila tidak ditangani dengan baik.

Pajak 20 Persen Menjadi Hak atas Gandum

Selain mendirikan silo, Yuzarsif menerapkan pajak sebesar 20 persen atas penghasilan petani dan pengrajin. Setiap warga yang membayar mendapat tanda terima resmi sebagai bukti hak mereka ketika paceklik berlangsung.

Tanda terima itu dapat digunakan untuk memperoleh gandum dengan nilai setara pajak yang telah dibayarkan. Sistem tersebut dirancang agar penyaluran pangan memiliki dasar administrasi yang jelas saat persediaan menjadi terbatas.

Para gubernur turut diperintahkan memperluas pengairan pertanian melalui kanal dan bendungan dari Sungai Nil. Yuzarsif juga meninjau Memphis untuk memastikan penaburan benih dilakukan maksimal sebelum masa makmur berakhir.

Penolakan dari Kuil Amon

Kebijakan pengumpulan gandum memicu penentangan dari para imam kuil Amon. Mereka berusaha membujuk warga agar tidak menitipkan panen ke silo pemerintah dan diduga merencanakan penimbunan gandum secara ilegal.

Para penentang meragukan ramalan paceklik serta menilai penyimpanan gandum bersama tangkainya sebagai tindakan sia-sia. Yuzarsif kemudian menegaskan bantuan pangan pemerintah hanya tersedia bagi warga yang menyerahkan hasil panen mereka ke silo.

Program pangan itu berjalan ketika Yuzarsif juga menghadapi ancaman pembunuhan di lingkungan istana. Serangan yang diduga terkait pihak yang merasa terancam oleh pengaruhnya terhadap Raja Akhenaten itu hanya membuatnya mengalami luka ringan.

Di tengah tugas besar di Mesir, Yuzarsif masih merindukan Kanaan dan ayahnya, Nabi Yakub. Ia merasa petunjuk Tuhan belum mengizinkan pertemuan itu terjadi, sementara keluarganya juga berduka setelah Zilpa dan Bilha wafat berturut-turut.

Situasi istana turut berubah setelah Zulaikha membubarkan penjaga dan memberhentikan pekerja di peninggalan Potifar, kecuali Rodomon. Ia juga menutup kuil di dalam istana serta mengusir para imam karena tidak lagi mampu membiayai mereka.

Source: mediaindonesia.com
Terkait