Pasangan suami istri Ahmad Asrori dan Noni Suci Aristyani membuktikan bahwa usaha tani bisa tumbuh menjadi bisnis dengan omzet menjanjikan ketika dikelola seperti perusahaan kecil. Dari Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, keduanya membangun ASR Farm dengan kemangi sebagai komoditas utama karena permintaannya rutin, panennya cepat, dan pasarnya jelas.
Yang membuat kisah ini menarik, keduanya bukan berasal dari latar pertanian murni. Ahmad sebelumnya bekerja di pabrik selama sekitar sepuluh tahun, sementara Noni pernah mengajar di sekolah dasar dan sempat merintis usaha konveksi sebelum fokus mengembangkan usaha tani keluarga.
Berpindah dari pekerjaan lama ke usaha tani
Keputusan keluar dari pabrik tidak terjadi secara spontan. Ahmad memilih berhenti setelah menimbang banyak aturan kerja dan melihat peluang dari lingkungan keluarga yang akrab dengan pertanian, lalu mencari usaha yang memberi ruang gerak lebih besar.
Noni juga melihat sektor hortikultura sebagai peluang bisnis yang masuk akal. Ia menilai komoditas seperti sayuran daun punya perputaran modal lebih cepat dibanding usaha yang menunggu hasil terlalu lama.
Perubahan arah karier itu kemudian menjadi fondasi ASR Farm. Keduanya tidak hanya menanam, tetapi juga membangun model usaha yang menekankan efisiensi, kualitas, dan pemasaran yang lebih modern.
Kenapa kemangi dipilih
Sebelum menetapkan kemangi, ASR Farm sempat mempertimbangkan timun baby. Namun, kebutuhan modal dan kendala lahan membuat pilihan itu tidak dilanjutkan, sehingga mereka mencari komoditas lain yang lebih realistis.
Peluang justru muncul dari keluhan warga sekitar yang kesulitan mendapat kemangi segar untuk usaha pecel lele. Dari masalah sederhana itu, Ahmad mencoba budidaya kecil-kecilan di lahan sekitar 8 sampai 9 meter dengan bibit yang dibeli secara daring.
- Permintaan pasar ada dan rutin.
- Tanaman relatif mudah dirawat.
- Panen bisa dilakukan berkali-kali.
- Harga cenderung stabil.
Noni menyebut harga kemangi masih bertahan di kisaran Rp11.000 per kilogram pada level terendah. Bagi petani kecil, kestabilan seperti ini penting karena membantu menjaga arus kas usaha tetap sehat.
Digital marketing jadi pembeda
ASR Farm tidak hanya menjual hasil panen ke pasar tradisional. Mereka aktif memakai website, marketplace, Facebook, Instagram, dan TikTok untuk menjangkau pembeli baru sekaligus membangun identitas merek.
Noni juga menegaskan pentingnya petani mencari pasar sendiri agar tidak sepenuhnya bergantung pada pengepul. Ia menilai posisi tawar petani bisa melemah ketika panen raya datang dan harga turun tajam di lapangan.
Strategi digital ini membuat ASR Farm lebih mudah ditemukan calon pelanggan. Konten kebun, proses panen, dan testimoni pembeli ikut membangun kepercayaan, terutama bagi pembeli bisnis yang butuh pasokan stabil.
Pendekatan itu sejalan dengan dorongan pemerintah yang terus mendorong UMKM dan pelaku pertanian memanfaatkan platform digital untuk memperluas akses pasar. Dalam praktiknya, media sosial tidak sekadar menjadi etalase produk, tetapi juga alat promosi, edukasi, dan reputasi usaha.
Fokus pada pasar B2B
ASR Farm menargetkan pembeli dari kalangan usaha kuliner sebagai pasar utama. Menurut Noni, penjualan dalam volume besar lebih masuk akal untuk kemangi dibanding mengandalkan konsumen rumah tangga.
Berikut saluran pemasaran yang mereka gunakan:
| Saluran | Fungsi |
|---|---|
| Pelaku kuliner | Serapan utama kemangi segar |
| Konsumen langsung | Pembelian skala kecil |
| Pasar lelang Gapoktan | Menyerap sisa panen |
| Jaringan ritel dan relasi | Memperluas distribusi |
Model multisaluran ini membantu mengurangi risiko penumpukan hasil panen. Jika satu jalur melambat, jalur lain masih bisa menyerap produk sehingga kerugian lebih mudah ditekan.
Dari lahan kecil ke brand yang dikenal
Selain menjual hasil panen, ASR Farm juga membangun merek sebagai pemasok kemangi yang konsisten. Branding ini penting karena produk pertanian sering dianggap seragam, padahal pembeli bisnis sangat memperhatikan mutu, kesegaran, dan kepastian pasokan.
Ahmad menyebut kemangi termasuk tanaman yang sederhana dalam perawatan. Proses utamanya meliputi penanaman, pemupukan, penyemprotan, lalu panen berulang, meski musim hujan tetap menjadi tantangan karena kelembapan tinggi bisa memengaruhi kualitas tanaman.
Usaha ini juga menunjukkan bahwa pertanian bisa dimulai dari skala kecil. Dengan kolaborasi keluarga, dukungan pengemasan, serta kerja sama dengan Kelompok Wanita Tani, ASR Farm memanfaatkan pekarangan rumah sebagai ruang produksi yang produktif.
Kisah Ahmad dan Noni memperlihatkan bahwa kemangi yang selama ini hanya dianggap pelengkap makanan bisa menjadi komoditas serius ketika dibaca sebagai kebutuhan pasar. Ketika budidaya sederhana dipadukan dengan digital marketing, disiplin kualitas, dan cara jual yang tepat, usaha tani kecil di Jogja bisa berubah menjadi mesin omzet yang bertahan di tengah persaingan pasar pangan segar.
