
Motorola kembali menekan Samsung di pasar ponsel lipat premium lewat perluasan lini Razr 70 yang terdiri dari Razr 70, Razr 70 Plus, dan Razr 70 Ultra versi 2026. Strategi ini memperlihatkan bahwa Motorola tidak hanya mengejar peningkatan spesifikasi, tetapi juga mencoba menghadirkan harga yang lebih masuk akal di segmen yang selama ini identik dengan banderol tinggi.
Langkah tersebut penting karena pasar foldable kelas atas masih didominasi Samsung, sementara Motorola memilih pendekatan berbeda dengan membagi produk ke tiga level harga. Razr 70 standar dibanderol US$799,99 atau sekitar Rp13 jutaan, Razr 70 Plus dijual US$1.099,99 atau Rp19 jutaan, dan Razr 70 Ultra dipasarkan US$1.499,99 atau sekitar Rp26 jutaan.
Motorola menempatkan desain dan identitas visual sebagai pembeda
Seluruh model Razr 70 menjalankan Android 16 dan hadir dengan pilihan warna hasil kolaborasi bersama Pantone. Kombinasi ini membuat Motorola tidak sekadar mengandalkan perangkat keras, tetapi juga membangun identitas visual yang kuat untuk pasar premium.
Pendekatan tersebut memberi nilai tambah di tengah persaingan ponsel lipat yang makin padat. Motorola tampak ingin menonjolkan karakter khas Razr sebagai perangkat lipat yang fashionable, tanpa meninggalkan unsur performa yang dibutuhkan pengguna kelas atas.
Razr 70 menjadi pintu masuk yang paling terjangkau
Razr 70 standar dirancang sebagai opsi termurah di keluarga baru ini, namun spesifikasinya tetap kompetitif. Ponsel ini memakai layar utama LTPO AMOLED 6,9 inci dengan kecerahan puncak 3.000 nit dan refresh rate 120Hz.
Di sisi dapur pacu, Motorola membenamkan MediaTek Dimensity 7450X yang dipadukan dengan RAM 8GB dan penyimpanan internal hingga 512GB. Kombinasi ini membuat Razr 70 masih layak untuk penggunaan harian, hiburan, dan kebutuhan multitasking ringan hingga menengah.
Razr 70 Plus mengejar pengalaman lebih mulus
Razr 70 Plus hadir sebagai titik tengah yang menawarkan peningkatan nyata dari model standar. Perangkat ini menggunakan layar LTPO Extreme AMOLED dengan refresh rate 165Hz, sehingga memberi tampilan yang lebih mulus saat dipakai untuk navigasi, media sosial, atau konsumsi konten.
Motorola juga menaikkan kelas performanya dengan Snapdragon 8s Gen 3 dan RAM 12GB. Dengan spesifikasi ini, Razr 70 Plus lebih siap menangani aplikasi berat dan aktivitas multitasking yang intens.
Daya tahan baterainya berada di angka 4.500 mAh, disertai pengisian cepat kabel 45W. Paket tersebut menunjukkan bahwa Motorola menargetkan pengguna yang aktif bergerak dan membutuhkan perangkat lipat yang tetap praktis diisi ulang.
Razr 70 Ultra jadi varian paling lengkap
Razr 70 Ultra tampil sebagai model paling mahal sekaligus paling kaya fitur di lini Razr 70. Motorola menanamkan baterai 5.000 mAh, pengisian cepat kabel 68W, dan pengisian nirkabel 30W untuk mendukung penggunaan lebih panjang.
Di sektor kamera, Razr 70 Plus dan Razr 70 Ultra sama-sama membawa kamera utama 50MP dengan OIS dan lensa ultrawide 50MP. Untuk kebutuhan swafoto dan panggilan video, keduanya memakai kamera depan 32MP pada sisi layar lipat.
Kombinasi kamera dan daya ini membuat varian Ultra terlihat menyasar pengguna yang membutuhkan perangkat lipat untuk aktivitas lebih serius. Motorola juga tampak ingin menutup celah yang sering menjadi catatan pada ponsel lipat, yakni ketahanan baterai dan kelengkapan fitur.
Motorola bidik pasar global dengan paket yang lebih kompetitif
Motorola mengonfirmasi bahwa distribusi global Razr 70 Plus dan Razr 70 Ultra akan segera dimulai. Pasar yang disasar mencakup Eropa, Timur Tengah, Afrika, hingga Asia Pasifik dalam beberapa bulan mendatang.
Ekspansi ini memperlihatkan bahwa Motorola ingin bersaing bukan hanya lewat desain lipat, tetapi juga lewat rasio harga dan fitur yang terasa lebih realistis bagi calon pembeli premium. Dengan tiga pilihan model, seri Razr 70 memberi ruang yang lebih luas bagi pengguna untuk memilih ponsel lipat sesuai kebutuhan dan kemampuan belanja.





