Keberadaan Mojtaba Khamenei menjadi perhatian setelah seorang sumber Israel menyebut ia tidak lagi berada di Iran. Pernyataan kepada Al-Hadath itu tidak membeberkan lokasi tempat pemimpin tertinggi Iran tersebut disebut berada.
Informasi itu muncul ketika Mojtaba belum terlihat di hadapan publik sejak pengangkatannya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Komunikasi resmi yang dikaitkan dengannya sejauh ini hanya beredar dalam bentuk pernyataan tertulis.
Lokasi dan Komunikasi yang Tertutup
Versi berbeda mengenai situasi Mojtaba juga menggambarkan pola yang sama, yakni akses publik yang amat terbatas. CBS News, mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat yang mengetahui persoalan itu, melaporkan bahwa ia berada di sebuah lokasi rahasia.
Menurut laporan tersebut, akses Mojtaba ke dunia luar sangat dibatasi dan komunikasi dilakukan melalui jaringan kurir yang rumit. Kondisi ini membuat jalur penyampaian pesan di sekitar kepemimpinan Iran disebut tidak berjalan secara normal.
Gangguan komunikasi itu dilaporkan ikut memengaruhi pembahasan kemungkinan kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Usulan dari Washington disebut kerap tidak segera memperoleh tanggapan karena jalur komunikasi di dalam pemerintahan Iran terganggu.
CBS News juga melaporkan bahwa Mojtaba mengalami luka serius dalam serangan pada awal perang. Namun, tidak ada rincian mengenai lokasi serangan maupun kondisi terkini luka yang disebut dialaminya.
| Media | Informasi Utama | Rincian yang Dilaporkan |
|---|---|---|
| Al-Hadath | Mojtaba disebut tidak lagi berada di Iran | Lokasi keberadaannya tidak diungkap |
| CBS News | Mojtaba disebut berada di lokasi rahasia | Komunikasi dilaporkan memakai jaringan kurir |
| The New York Times | Mojtaba disebut tidak menghadiri pemakaman ayahnya | Ada kekhawatiran pelacakan dan serangan |
Absennya Mojtaba dari Pemakaman Ayahnya
The New York Times melaporkan bahwa pejabat keamanan Iran sempat melarang Mojtaba menghadiri pemakaman ayahnya di Mashhad pada 9 Juli. Dua anggota Korps Garda Revolusi Iran dan seorang pihak yang terlibat dalam persiapan pemakaman menyatakan bahwa ia sebenarnya ingin datang.
Mojtaba disebut ingin memimpin salat jenazah untuk ayahnya. Permintaan itu dilaporkan ditolak aparat keamanan karena kemunculannya dinilai dapat membantu Israel melacak lokasi persembunyiannya.
Selain risiko pelacakan, aparat keamanan disebut mengkhawatirkan kemungkinan adanya upaya pembunuhan jika Mojtaba tampil di ruang publik. Kekhawatiran itu menjadi salah satu penjelasan atas minimnya informasi mengenai aktivitas dan keberadaannya.
Menurut laporan yang dimuat Kompas.com, Mojtaba diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran tidak lama setelah ayahnya wafat dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Sejak pengangkatan itu, absennya Mojtaba dari penampilan publik memperbesar ketidakpastian mengenai kondisi serta ruang geraknya.
Klaim soal Perpecahan Internal
Sumber Israel yang berbicara kepada Al-Hadath juga mengeklaim bahwa pernyataan tertulis atas nama Mojtaba disusun oleh Ahmad Vahidi, Kepala Korps Garda Revolusi Iran, bersama sejumlah anggota IRGC lainnya. Klaim tersebut tidak disertai penjelasan mengenai bukti maupun mekanisme penyusunan pesan-pesan itu.
Sumber yang sama menyoroti adanya perpecahan serius di dalam Iran. Dalam pernyataan yang dikutip The Times of Israel pada Minggu, 19 Juli 2026, situasi itu disebut dapat mengancam keberlangsungan Korps Garda Revolusi Islam.
“Perpecahan internal Iran sangat mendalam dan mengancam keberadaan Korps Garda Revolusi Islam,” demikian pernyataan sumber Israel tersebut. Pernyataan itu merupakan klaim dari sumber Israel dan tidak memuat bukti pendukung dalam laporan yang dikutip.
Rangkaian laporan tersebut belum memberikan kepastian mengenai lokasi Mojtaba Khamenei. Namun, laporan-laporan itu sama-sama menekankan ketatnya pengamanan, terbatasnya komunikasi, serta tidak adanya penampilan publik sejak ia memegang posisi tertinggi di Iran.
