Mitsubishi eK Cross EV menarik perhatian karena harganya di Jepang bisa turun ke sekitar Rp 207 jutaan setelah subsidi kendaraan listrik. Namun untuk Indonesia, model ini belum punya kepastian karena PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) masih menilai kecocokannya dengan pasar lokal.
Pertanyaan utamanya bukan hanya soal harga yang terdengar menggoda. Mitsubishi juga harus memastikan ekosistem, kebutuhan konsumen, dan keberlanjutan bisnis sebelum memutuskan apakah kei car listrik ini layak dipasarkan di Tanah Air.
Masih dalam tahap kajian
Director of Sales & Marketing Division PT MMKSI Irwan Kuncoro menjelaskan bahwa Mitsubishi Motors terus mengembangkan berbagai teknologi elektrifikasi untuk beragam segmen dan kebutuhan pasar. Meski begitu, setiap produk yang akan dikenalkan di Indonesia tetap harus melalui kajian menyeluruh.
Kajian itu mencakup produk yang dibawa, kesiapan ekosistem, kebutuhan konsumen, dan keberlanjutan bisnis. Artinya, harga murah saja belum cukup untuk menjamin eK Cross EV langsung masuk ke pasar Indonesia.
MMKSI saat ini juga memantau perkembangan pasar kendaraan listrik nasional. Fokusnya adalah memastikan teknologi yang hadir benar-benar relevan dengan kondisi di Indonesia.
Kenapa eK Cross EV menarik perhatian
eK Cross EV bukan mobil listrik biasa, melainkan kei car yang dirancang sebagai kendaraan kompak untuk mobilitas perkotaan di Jepang. Karakter ini membuatnya berbeda dari banyak mobil listrik lain yang lebih umum dibahas di Indonesia.
| Aspek | eK Cross EV |
|---|---|
| Harga awal di Jepang | 2.446.400 yen |
| Harga setelah subsidi | sekitar Rp 207 jutaan |
| Daya motor listrik | 63 dk |
| Torsi | 195 Nm |
| Kapasitas baterai | 20 kWh |
| Jarak tempuh WLTC | 180 kilometer |
Dari sisi teknis, mobil ini mengusung motor listrik 63 dk dengan torsi 195 Nm dan baterai lithium-ion 20 kWh. Berdasarkan pengujian WLTC, jarak tempuhnya mencapai 180 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Penyegaran yang dibawa di Jepang
Versi terbaru eK Cross EV baru saja mendapat penyegaran di Jepang. Perubahan paling terlihat ada di bagian depan, termasuk desain bumper baru, bilah lampu LED tipis, dan pilihan warna eksterior yang lebih beragam.
Mitsubishi juga menyematkan soket AC 100 volt dengan daya hingga 1.500 watt. Fitur ini memungkinkan mobil dipakai sebagai sumber listrik portabel untuk perangkat elektronik.
Kemampuan tersebut memberi nilai tambah di luar fungsi utama sebagai alat transportasi. Dalam kondisi tertentu, mobil bisa membantu kebutuhan daya untuk peralatan listrik berdaya kecil.
Harga murah belum tentu sama di Indonesia
Angka sekitar Rp 207 jutaan membuat eK Cross EV terdengar sangat kompetitif. Namun harga itu berlaku di Jepang dalam skema subsidi kendaraan listrik, sehingga belum bisa dijadikan patokan harga bila model tersebut masuk ke Indonesia.
Di sinilah letak tanda tanya besarnya. Selain soal harga, keputusan Mitsubishi juga akan dipengaruhi kebijakan, struktur pasar, dan kesiapan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Sampai saat ini, MMKSI belum menyatakan eK Cross EV akan segera dipasarkan di Indonesia. Peluangnya masih terbuka, tetapi keputusan akhirnya masih menunggu hasil evaluasi Mitsubishi di dalam negeri.
Source: otomotif.kompas.com






