Mimpi AI Di Orbit, Biaya Tinggi Dan Batas Fisika Masih Mengganjal

Gagasan membangun infrastruktur AI di luar angkasa memang terdengar seperti lompatan besar menuju masa depan. Namun, rencana itu masih menghadapi persoalan yang sangat mendasar, mulai dari ketahanan chip, biaya peluncuran, kebutuhan daya, hingga latensi yang membuat banyak beban kerja AI kehilangan keunggulannya.

Jensen Huang, CEO Nvidia, menyebut ide pusat data AI berbasis ruang angkasa sebagai visi masa depan. Tetapi jika dilihat dari sisi operasional dan ekonomi, konsep itu belum dekat menjadi solusi yang praktis untuk skala besar.

Lingkungan orbit belum ramah untuk perangkat AI

Tantangan paling awal datang dari kondisi luar angkasa yang keras. Radiasi dan suhu ekstrem membuat chip GPU kelas atas tidak bisa digunakan begitu saja tanpa desain khusus yang tahan radiasi.

Masalahnya, desain tahan radiasi biasanya datang dengan konsekuensi performa yang menurun. Artinya, sejak awal sudah ada kompromi teknis yang bisa membuat sistem AI di orbit kalah cepat dan kalah efisien dibanding pusat data di daratan, seperti yang beroperasi di Virginia atau Arizona.

Biaya yang masih terlalu berat

Selain teknis, hambatan terbesar juga datang dari ongkos. Mengirim muatan ke orbit memang sudah lebih murah dibanding masa lalu berkat perusahaan seperti SpaceX, tetapi biaya itu tetap tinggi untuk proyek sebesar infrastruktur AI.

Skala perangkat yang harus dipindahkan juga tidak kecil. Nvidia GB200 NVL72 rack menunjukkan betapa besar dan kompleksnya perangkat keras yang perlu dilindungi, dipelihara, dan ditempatkan di luar angkasa.

Setelah itu, ada persoalan umur satelit dan perawatan yang jauh lebih rumit. Infrastruktur di orbit tidak mudah diperbaiki, sehingga model bisnisnya menjadi lebih sulit dibanding membangun dan mengelola pusat data di Bumi.

Daya listrik ikut membatasi

AI dikenal sangat rakus energi. Bahkan di Bumi, pusat data hyperscale sudah menekan jaringan listrik lokal karena kebutuhan dayanya yang besar.

Di ruang angkasa, pilihan energi praktis hanya mengandalkan tenaga surya. Untuk menopang beban komputasi AI, sistem tenaga itu harus dibangun lebih besar dan lebih kompleks, yang pada akhirnya menambah bobot dan biaya proyek secara keseluruhan.

Latensi mengurangi manfaat utama

Jarak juga menimbulkan masalah yang tidak bisa diabaikan. Banyak layanan AI membutuhkan respons cepat agar bisa dipakai secara real time, sementara komunikasi dari orbit ke Bumi tetap tunduk pada batas kecepatan cahaya.

Kondisi itu membuat sejumlah aplikasi bernilai tinggi menjadi kurang cocok dijalankan dari luar angkasa. Keuntungan yang dibayangkan pun berkurang karena fisika membatasi seberapa cepat data bisa bergerak.

Pemakaian yang paling masuk akal masih terbatas

Meski begitu, ada ruang penggunaan yang lebih realistis, terutama pemrosesan di dalam satelit. Edge AI memungkinkan wahana antariksa mengambil keputusan sendiri tanpa menunggu arahan dari darat.

Namun, skenario seperti itu berbeda jauh dari bayangan pusat data orbit yang melayani beban kerja AI korporasi di Bumi. Dalam konteks tersebut, manfaatnya belum sebanding dengan biaya, daya, dan kendala latensi yang harus ditanggung.

Dorongan untuk mengejar ide besar tetap penting, tetapi teknologi juga harus lolos uji kenyataan. Untuk saat ini, fokus yang lebih masuk akal masih terletak pada peningkatan efisiensi, kualitas, dan keberlanjutan infrastruktur AI di Bumi, sementara mimpi AI di orbit masih tertahan oleh biayanya yang tinggi dan keterbatasan teknis yang belum terpecahkan.

Baca Juga

Back to top button