Mikroplastik kini bukan lagi sekadar persoalan sampah yang menumpuk di lingkungan. Partikel kecil ini sudah masuk ke jalur paparan manusia melalui makanan, minuman, udara, hingga kontak dengan produk sehari-hari.
Yang membuatnya lebih mengkhawatirkan, banyak sumber paparan itu hadir dalam aktivitas rumah tangga biasa. Dari pakaian berbahan polyester, air minum dalam kemasan, sampai polusi dari pembakaran sampah, mikroplastik bisa menyebar tanpa disadari.
Masuk lewat udara, pencernaan, dan kulit
Kepala Divisi Program dan Aksi KOPHI Yogyakarta, Nurhayati, menjelaskan bahwa mikroplastik bisa masuk ke tubuh melalui tiga jalur utama. Jalur itu adalah udara, pencernaan, dan kontak dermal atau melalui kulit.
Jalur udara terjadi saat partikel sangat kecil dari aktivitas industri atau pembakaran sampah terhirup ke saluran pernapasan. Sementara jalur pencernaan muncul ketika plastik yang tidak terkelola masuk ke sungai dan laut, lalu berpindah ke tubuh biota laut seperti ikan.
Dari sana, partikel tersebut dapat ikut masuk ke rantai makanan manusia. Kontak dermal juga menjadi perhatian karena paparan bisa terjadi lewat penggunaan produk perawatan diri yang dikemas dengan bahan plastik.
Sumber paparan ada di sekitar rumah tangga
Nurhayati menyoroti serat pakaian berbahan polyester yang bisa melepaskan partikel plastik saat dicuci. Serat itu kemudian masuk ke saluran air dan ikut mencemari lingkungan.
Paparan juga muncul dari air minum dalam kemasan. Dalam konteks yang lebih luas, mikroplastik bukan hanya soal sampah, tetapi juga berpotensi memengaruhi lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Risiko kesehatan yang berjalan pelan
Dampak mikroplastik tidak selalu langsung terasa, tetapi akumulasinya dinilai perlu diwaspadai. Nurhayati menyebut efeknya cenderung muncul dalam waktu lama, sehingga paparan berulang menjadi masalah yang tidak boleh diremehkan.
Sebuah jurnal di Environmental Science & Technology pada 2024 bahkan menyebut masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik setiap bulan. Angka itu menunjukkan paparan bisa berlangsung terus-menerus tanpa disadari.
Meski ukurannya sangat kecil, partikel yang terus masuk ke tubuh tetap berpotensi menimbulkan masalah jika menumpuk dalam jangka panjang. Karena itu, mikroplastik kini dipandang sebagai ancaman sunyi yang perlu ditangani lebih serius.
Langkah sederhana untuk menekan paparan
Pencegahan bisa dimulai dari kebiasaan harian yang sederhana, seperti mengurangi plastik sekali pakai dan membawa tumbler sendiri. Nurhayati juga mendorong prinsip think before buying agar timbulan sampah plastik bisa ditekan sejak awal.
Kebiasaan itu bukan hanya membantu mengurangi paparan, tetapi juga mendukung lingkungan yang lebih sehat bagi manusia dan keanekaragaman hayati. Di tengah paparan mikroplastik yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, pilihan konsumsi dan pengelolaan sampah menjadi semakin penting.
Source: www.suara.com






