Ledakan penggunaan AI mulai memaksa batas persaingan di industri teknologi. Microsoft kini dilaporkan mengandalkan Amazon untuk membantu menjaga GitHub tetap berjalan mulus di tengah lonjakan beban komputasi.
Langkah ini terasa janggal karena Microsoft dan Amazon selama ini dikenal sebagai rival besar di bisnis cloud. Namun tekanan kapasitas akibat boom AI membuat stabilitas layanan lebih penting daripada sekadar menjaga jarak dari pesaing.
AI coding mendorong beban GitHub naik cepat
Lonjakan itu dipicu oleh meningkatnya penggunaan alat pemrograman berbasis AI. Alat ini memudahkan pengembang menulis perangkat lunak, tetapi juga membuat arus kode baru dan pembaruan proyek melonjak tajam.
GitHub pun dibanjiri proyek baru dan perubahan kode dalam jumlah besar. Dampaknya, kebutuhan komputasi platform tersebut meningkat sangat cepat dan mulai menekan infrastruktur yang ada.
GitHub sendiri merupakan salah satu platform paling populer di dunia bagi pengembang untuk menyimpan, mengelola, dan berkolaborasi pada kode. Microsoft mengakuisisi GitHub pada 2018, lalu merencanakan migrasi penuh platform itu ke layanan cloud Azure pada 2027.
Namun rencana tersebut kini menghadapi hambatan baru karena permintaan tumbuh lebih cepat dari perkiraan. Di tengah lonjakan itu, kapasitas komputasi menjadi faktor yang semakin menentukan kestabilan layanan.
Microsoft mempercepat strategi multi-cloud
Menurut Business Insider, Microsoft memanfaatkan Amazon untuk mengatasi persoalan kapasitas di GitHub setelah serangkaian gangguan yang dipicu aktivitas terkait AI. Juru bicara Microsoft mengatakan kepada Business Insider bahwa lonjakan besar dalam pengembangan agentic yang dimulai pada akhir tahun lalu telah menguji batas infrastruktur mereka.
Microsoft juga menyatakan sedang mempercepat perpindahan ke Azure. Di saat yang sama, perusahaan itu terus menjajaki strategi multi-cloud untuk memastikan kapasitas masa depan, elastisitas komputasi, dan skala horizontal yang dibutuhkan guna menopang pertumbuhan.
Seorang juru bicara Microsoft mengonfirmasi bahwa GitHub memang memakai beberapa penyedia cloud. Namun, perusahaan menolak memberi komentar spesifik mengenai keterlibatan Amazon.
Walau detail peran AWS tidak diungkap, arah kebijakannya cukup jelas. GitHub tidak lagi bergantung pada satu jalur infrastruktur saja ketika permintaan tumbuh terlalu cepat dan gangguan layanan mulai muncul.
Tekanan AI meluas ke layanan utama lain
Kondisi ini menunjukkan bahwa perebutan daya komputasi tidak lagi terbatas pada perusahaan pembuat chatbot atau model bahasa besar. Dampaknya kini menjalar ke layanan internet yang dipakai luas oleh pengembang, dan GitHub menjadi salah satu contoh paling jelas.
Chief Operating Officer GitHub Kyle Daigle menulis di X pada April bahwa jumlah commit GitHub berada di jalur untuk mencapai 14 miliar pada 2026. Angka itu melonjak dari 1 miliar pada 2025 dan menggambarkan skala pertumbuhan aktivitas pengembangan.
Commit adalah catatan perubahan kode yang kerap dipakai sebagai indikator aktivitas pembangunan perangkat lunak. Ketika volumenya melonjak berkali-kali lipat dalam waktu singkat, tekanan pada pusat data dan sistem pendukung ikut meningkat.
Langkah Microsoft juga terjadi di tengah tren aliansi besar lain di industri AI. Beberapa hari sebelumnya, laporan menyebut SpaceX meneken kesepakatan komputasi besar dengan Google dan Anthropic.
Google dan SpaceX mengungkap perjanjian baru yang membuat Google akan membayar SpaceX $920 juta per bulan untuk kapasitas komputasi AI dari Oktober 2026 hingga Juni 2029. SpaceX juga disebut menandatangani kesepakatan serupa dengan Anthropic.
Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan pola yang makin jelas di era AI. Saat daya komputasi menjadi sumber daya langka, perusahaan yang bersaing sengit di satu bidang tetap bisa bekerja sama demi mendapatkan kapasitas yang cukup.
Bagi GitHub, tantangannya kini bukan hanya menjaga pertumbuhan pengguna, tetapi juga memastikan infrastruktur mampu mengikuti laju ledakan coding berbasis AI yang terus memperbesar volume perubahan kode dari hari ke hari.
