Dukungan terhadap pasar modal kembali menguat di tengah IHSG yang masih berada di zona negatif secara year-to-date. Di situ, BRI menegaskan bahwa stabilitas pasar dan kepercayaan investor tetap menjadi fondasi penting bagi iklim investasi yang sehat.
Isu itu mencuat dalam pertemuan di Jakarta yang melibatkan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, COO BPI Danantara Dony Oskaria, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, para Direktur Utama Himbara, BPJS Ketenagakerjaan, serta sejumlah BUMN. Agenda pembahasan mencakup langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasar modal dan memperkuat kepercayaan investor, termasuk wacana buyback saham emiten BUMN.
Fundamental perbankan masih jadi penopang
Hery Gunardi menilai keterlibatan banyak pemangku kepentingan menunjukkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang perusahaan-perusahaan BUMN. Ia juga menekankan bahwa sektor perbankan masih menunjukkan kinerja dan fundamental yang solid meski pasar bergerak dinamis.
Menurut Hery, kepercayaan investor terhadap saham-saham perbankan nasional ditopang oleh daya tahan industri yang tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ia menyebut industri perbankan masih mencatat pertumbuhan kredit yang positif, kualitas aset yang terjaga, serta kondisi likuiditas dan permodalan yang kuat.
Data OJK menunjukkan kinerja masih terjaga
Data OJK memperlihatkan fundamental itu masih terjaga hingga April 2026. Kredit perbankan tumbuh 9,98% secara tahunan, sedangkan Dana Pihak Ketiga naik 11,40%.
Hery yang juga Ketua Umum Perbanas mengatakan pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana masyarakat yang kuat menunjukkan kepercayaan publik terhadap industri perbankan masih baik. Ia menilai kondisi itu sekaligus mencerminkan fungsi intermediasi yang berjalan efektif.
BRI fokus ke konsistensi kinerja
Bagi BRI, penguatan kepercayaan pasar tidak hanya bergantung pada sentimen jangka pendek. Perseroan menempatkan konsistensi kinerja sebagai landasan utama dalam menjaga persepsi positif investor.
BRI terus fokus menjaga kualitas aset, memperkuat permodalan dan likuiditas, serta menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham. Langkah itu menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mempertahankan fundamental yang kuat di tengah sorotan terhadap saham-saham BUMN.
Terkait wacana buyback, Hery menegaskan setiap aksi korporasi akan dikaji secara cermat dan dijalankan sesuai ketentuan regulator yang berlaku. Ia menambahkan fokus utama BRI saat ini tetap pada penguatan fundamental perusahaan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Di tengah perhatian yang kembali mengarah ke saham BUMN, pernyataan BRI memperlihatkan bahwa dukungan pasar tidak hanya dipandang sebagai respons sesaat. Bagi emiten perbankan pelat merah, stabilitas, kualitas aset, dan ketahanan modal tetap menjadi titik utama yang menentukan arah kepercayaan investor.
