
Meta bergerak lebih agresif melawan penipuan digital di Facebook, Instagram, dan Threads saat modus scam makin canggih dan sulit dikenali. Dalam langkah terbaru, perusahaan itu tidak hanya memperketat perlindungan, tetapi juga mengumumkan skala penindakan besar yang sudah mencapai puluhan juta iklan dan ratusan juta akun.
Dalam periode Januari hingga pertengahan Mei 2026, Meta memblokir lebih dari 26,7 juta iklan penipuan sebelum sempat tayang. Pada saat yang sama, lebih dari 120 juta akun, halaman, dan grup di Facebook dan Instagram juga ditangguhkan karena terbukti menyamar atau menyalahgunakan identitas pihak lain.
Deteksi otomatis jadi senjata utama
Sebagian besar tindakan itu dilakukan secara proaktif lewat sistem deteksi otomatis, bukan menunggu laporan pengguna. Meta menyebut para pelaku scam terus mengembangkan taktik baru untuk menghindari sistem keamanan, sehingga perusahaan terus meningkatkan kemampuan deteksi dan memperluas kerja sama dengan mitra keamanan.
Pendekatan ini memperlihatkan perubahan strategi di sisi platform. Penipuan digital kini tidak lagi diperlakukan sebagai kasus satu per satu, melainkan sebagai ancaman yang harus dicegah sejak awal.
Akun palsu dan penyamaran identitas jadi fokus
Salah satu sasaran terbesar Meta adalah akun palsu yang meniru tokoh publik, kreator, selebritas, penasihat keuangan, hingga figur profesional lain. Perlindungan ini tetap berlaku meski tokoh yang ditiru tidak memiliki akun resmi di platform Meta.
Di Threads, pengguna kini juga bisa melaporkan akun yang meniru identitas tokoh publik walaupun orang tersebut tidak memiliki akun resmi di platform tersebut. Meta juga memperkuat layanan Brand Rights Protection yang membantu lebih dari 14.000 bisnis di seluruh dunia memantau penyalahgunaan merek, pelanggaran hak kekayaan intelektual, dan aktivitas scam.
Perusahaan itu juga sedang menguji pencarian berbasis gambar dan integrasi Meta AI Business Assistant untuk mempercepat pelaporan serta penindakan. Targetnya jelas, yaitu memangkas waktu antara temuan awal dan proses tindak lanjut.
Marketplace ikut diperketat
Penipuan jual beli online masih menjadi salah satu modus yang sering muncul di Facebook Marketplace. Karena itu, Meta mulai menerapkan fitur verifikasi lokasi bagi pembeli baru di Marketplace yang saat ini tersedia di Amerika Serikat dan Kanada.
Fitur tersebut dibuat untuk memastikan pembeli benar-benar berada di lokasi yang mereka klaim. Dengan begitu, risiko penipuan transaksi diharapkan turun karena identitas dan lokasi pembeli menjadi lebih sulit dimanipulasi.
Meta menyebut fitur ini akan diperluas ke lebih banyak negara dalam beberapa bulan mendatang. Langkah itu menegaskan bahwa Marketplace masih menjadi salah satu area yang paling rawan dimanfaatkan pelaku scam.
Scam Protection Center hadir dengan bantuan AI
Meta juga meluncurkan Scam Protection Center yang didukung Meta AI. Melalui pusat perlindungan ini, pengguna dapat berinteraksi dengan asisten AI untuk menemukan akun, iklan, atau konten mencurigakan yang sebelumnya sempat berinteraksi dengan mereka.
Selain membantu pelaporan, Scam Protection Center menyediakan sumber edukasi mengenai modus penipuan terbaru. Pengguna juga bisa mengakses panduan untuk melapor kepada pihak berwenang dan menemukan layanan bantuan yang tersedia di wilayah masing-masing.
Domain palsu dan jaringan lintas platform diburu
Upaya Meta tidak berhenti pada akun dan iklan palsu. Sistem perusahaan juga ditingkatkan untuk mendeteksi domain impersonation, yaitu situs web palsu yang meniru merek dan layanan resmi.
Meta aktif mengidentifikasi dan memblokir URL yang terhubung dengan jaringan penipuan. Informasi itu kemudian dibagikan kepada mitra keamanan melalui Global Signal Exchange agar perlindungannya meluas lintas platform.
Pola ini menunjukkan bahwa penipuan digital kini dilihat sebagai ancaman ekosistem, bukan hanya masalah di satu layanan tertentu. Meta ingin menghubungkan deteksi ancaman di satu platform dengan sistem perlindungan yang lebih luas.
Operasi bersama aparat dan perusahaan teknologi
Meta juga bekerja sama dengan lembaga penegak hukum internasional untuk membongkar jaringan kejahatan siber lintas negara. Salah satu operasi besar dilakukan bersama US Department of Justice, Royal Thai Police, Microsoft, Coinbase, Starlink, dan sejumlah mitra industri lainnya.
Dari operasi itu, lebih dari 1,4 juta akun Facebook dan Instagram yang terkait jaringan kriminal online scam dinonaktifkan. Meta juga bekerja sama dengan GovTech Singapura melalui Global Signal Exchange untuk menindak skema investasi palsu, phishing, dan penipuan e-commerce, yang menghasilkan penghapusan lebih dari 30.800 akun dan halaman dalam periode Oktober 2025 hingga Februari 2026.
Dalam operasi lain yang melibatkan FBI, Dubai Police Department, dan China Ministry of Public Security, investigasi yang didukung Meta membantu penangkapan sedikitnya 276 pelaku. Operasi itu juga membongkar sembilan pusat operasi penipuan investasi kripto yang menargetkan warga Amerika Serikat.
Meta menegaskan perang melawan penipuan digital tetap menjadi prioritas utama perusahaan. Dengan kombinasi AI, deteksi otomatis, edukasi pengguna, dan kolaborasi global, Facebook, Instagram, dan Threads terus dipasang sebagai garis depan melawan modus scam yang terus berubah.





