Menu 6.000 Kalori Erling Haaland, Diet Viking Ini Tak Cocok Ditiru Sembarangan

Asupan hingga 6.000 kalori yang dikaitkan dengan Erling Haaland menunjukkan betapa berbeda kebutuhan makan atlet elite dengan kebanyakan orang. Pola yang dikenal sebagai Diet Viking itu memuat jeroan dan daging merah dalam porsi besar, sehingga tidak tepat disalin tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh.

Porsi makan tersebut mendukung aktivitas fisik sangat tinggi serta kebutuhan pemulihan otot seorang pesepak bola profesional. Namun, konsumsi kalori, lemak jenuh, protein, dan purin yang berlebihan dapat membawa risiko bagi orang dengan kebutuhan energi lebih rendah.

Diet Viking dan Pendekatan Makanan Utuh

Diet Viking menitikberatkan bahan pangan utuh yang minim pengolahan, dengan pola yang kerap disamakan dengan versi diet paleo. Daging, telur, ikan, sayuran, dan berbagai pangan hewani menjadi komponen penting dalam pola makan ini.

Ciri khas lainnya ialah pendekatan “hidung hingga ekor”, yaitu memanfaatkan daging otot sekaligus bagian seperti hati, jantung, dan sumsum tulang. Haaland dilaporkan mendapatkan hati serta jantung sapi langsung dari peternakan dan menyukai sumsum tulang.

Menurut Bisnis.com yang mengutip Korean Times, pola makan Haaland dibagi ke dalam tiga waktu makan utama. Menunya tidak hanya berisi bahan hewani, karena roti sourdough, nasi, kentang, serta sayuran juga masuk dalam susunan makan hariannya.

Waktu MakanMenu UtamaPelengkap
SarapanRoti sourdough dan telurKopi, susu, dan sirup maple
Makan siangIkan atau jeroan sapiNasi goreng telur dan asparagus
Makan malamLebih dari 1 kg daging merah berlemakKentang, salad, dan susu

1. Sarapan dengan Sourdough dan Telur

Haaland memulai hari dengan roti sourdough dan telur sebagai menu sarapan. Ia juga dilaporkan minum kopi yang dicampur susu dan sirup maple.

Kehadiran sourdough memperlihatkan bahwa pola tersebut tidak sepenuhnya mengandalkan daging atau makanan hewani. Roti menjadi salah satu sumber pangan dalam menu yang disebut dijalani pemain sepak bola tersebut.

2. Makan Siang Memadukan Ikan, Nasi, dan Jeroan

Pada siang hari, pilihannya mencakup ikan, nasi goreng telur, serta asparagus. Jeroan sapi seperti hati dan jantung juga menjadi bagian dari menu yang dilaporkan dikonsumsi.

Jeroan memberi karakter kuat pada Diet Viking karena memakai bagian hewan di luar daging otot. Meski begitu, jenis pangan ini perlu dikonsumsi dengan pertimbangan karena dapat menyumbang kolesterol dan purin dalam jumlah tinggi.

3. Makan Malam dengan Lebih dari 1 Kg Daging

Porsi paling mencolok berada pada makan malam, yakni lebih dari satu kilogram daging merah berlemak seperti ribeye atau steak tomahawk. Hidangan itu disajikan bersama kentang, salad, dan susu.

Jumlah tersebut mencerminkan kebutuhan energi atlet dengan aktivitas dan beban latihan yang tinggi. Bagi orang yang tidak memiliki pengeluaran energi serupa, porsi itu berpotensi membuat asupan kalori harian jauh melampaui kebutuhan.

Risiko saat Meniru Menu Atlet Elite

Konsumsi jeroan secara berlebihan dapat meningkatkan asupan purin, yang perlu diwaspadai terutama oleh penderita asam urat. Purin tinggi berisiko memicu peningkatan kadar asam urat dan gangguan metabolisme.

Hati sapi mentah juga tidak dianjurkan karena dapat membawa risiko parasit, hepatitis E, dan bakteri. Pengolahan makanan yang aman tetap menjadi perhatian penting, terutama untuk bahan pangan hewani.

Konsumsi daging merah lebih dari satu kilogram setiap hari juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan kanker kolorektal. Porsi besar tersebut dapat menaikkan asupan lemak jenuh serta kalori secara berlebihan.

Protein memang diperlukan untuk menjaga dan memperbaiki otot, tetapi jumlah yang lebih tinggi tidak selalu menghasilkan manfaat kesehatan lebih besar. Bagi sebagian besar orang dewasa sehat, asupan protein sekitar 1 gram per kilogram berat badan per hari umumnya dianggap cukup.

Menu yang sesuai bagi atlet elite tidak otomatis cocok untuk semua orang karena kebutuhan energi tiap individu berbeda. Pola makan perlu disesuaikan dengan aktivitas fisik dan kondisi kesehatan, bukan sekadar mengikuti porsi seorang pesepak bola profesional.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terkait