Lagu “Menteri Durmagati” dari grup hiphop asal Ponorogo, Kajawi, terus menarik perhatian karena kritik sosialnya terasa tajam sekaligus dekat dengan keseharian publik. Lagu ini memadukan bahasa Jawa, satire, dan sindiran politik dalam format yang mudah menempel di kepala pendengar.
Daya tarik utamanya bukan hanya pada bunyinya yang kuat, tetapi juga pada cara lagu ini menyindir pejabat yang sibuk membangun citra ketimbang bekerja untuk rakyat. Popularitasnya di Spotify dan TikTok menunjukkan bahwa pesan semacam itu masih punya ruang besar di tengah percakapan publik.
Kritik sosial yang dibungkus bahasa Jawa
Kajawi dikenal sebagai grup yang mengandalkan hiphop sebagai medium kritik sosial. Mereka memakai lirik berbahasa Jawa agar pesan terasa lokal, tetapi tetap mengena ketika membahas persoalan yang akrab di masyarakat.
Dalam “Menteri Durmagati”, kritik itu tidak diarahkan ke sosok tertentu secara langsung. Sebaliknya, Kajawi memakai tokoh pewayangan sebagai simbol pejabat yang dianggap menyimpang dari amanah.
Durmagati sebagai simbol pejabat yang gemar pencitraan
Durmagati adalah karakter fiksi dalam kisah pewayangan Jawa, dan di lagu ini sosok tersebut dipakai sebagai perumpamaan penguasa yang pandai bicara di depan publik. Namun, tindakan yang ditampilkan tidak sejalan dengan ucapan yang dilontarkan.
Di situlah inti sindirannya bekerja. Lagu ini menyoroti jarak antara janji, pencitraan, dan kerja nyata yang kerap menjadi sorotan dalam dunia politik.
Sindiran soal anggaran dan proyek
Selain menyorot pencitraan, lagu ini juga menyentuh dugaan penyalahgunaan anggaran. Narasinya menggambarkan proyek besar yang diajukan dengan dana besar, tetapi dikerjakan seminimal mungkin agar sisanya bisa dinikmati sendiri atau dibagi ke lingkar terdekat.
Bait seperti “LSM e disangoni, anggaran kudu setiti” memperlihatkan cara kekuasaan bekerja lewat relasi yang saling menguntungkan. Di lagu ini, kritiknya tidak hanya soal individu, tetapi juga jejaring yang ikut menopang praktik tersebut.
Lirik yang menekan isu pencitraan
Beberapa bagian lagu menggambarkan rapat, proyek, media sosial, hingga tampilan pejabat yang seolah peduli. Kajawi menyusun semua itu untuk memperlihatkan bagaimana kemasan luar sering diprioritaskan dibanding tanggung jawab nyata.
Potongan seperti “Pencitraan nomer siji” dan “Aktif medsos pasang aksi” menegaskan kritik terhadap gaya komunikasi pejabat yang gemar tampil. Sementara itu, bait tentang kualitas bangunan dan anggaran memperkuat pesan bahwa kepentingan publik sering dikesampingkan.
Potongan lirik yang menonjol
| Potongan Lirik | Gambaran yang Disindir |
|---|---|
| Pencitraan nomer siji | Pejabat yang lebih fokus pada tampilan luar |
| Aktif medsos pasang aksi | Gaya komunikasi yang mengejar perhatian publik |
| LSM e disangoni, anggaran kudu setiti | Relasi kekuasaan yang dipakai untuk menjaga kepentingan tertentu |
| Infrastruktur sokor dadi, kualitas ra peduli | Proyek yang dikerjakan tanpa memperhatikan mutu |
Lirik lengkap yang memperkuat pesan satire
Durmagati apel isuk
Disambut abdi mantuk-mantuk
Sirah nggliyeng setengah mabuk
Pidatone rodok umuk
Kita ini pejabat, maka harus amanat
Berjuang demi rakyat, ayo semangat!
(Ayo semangat)
Tunjukkan kita kuat
Punya hati ada niat
Ada tekad tahu bulat. Ayo berbuat
(Kabeh gawe ragat)
Sengkuni paring warta
Dana buto proyek negara
Kabeh kudu iso nanging ojo sembrono
Ola saitik penting ora ketoro
Iki proyek gedhi
Nanging ojo nganti lali
Turahane dikantongi, paman dibagehi
(Sengkuni nagih janji, yen gagal dikeplaki)
Meeting bengi-bengi
Poro-poro mabuk whiski
Bancakan ingkung sing gedi
Semuanya hepi
(Karo gadis seksi si Limbuk Angelasari)
Durmagati dadi menteri
Noto proyek nggo pribadi
Penting dadi kudu bathi
(Tuku Ferarri)
LSM e disangoni
Anggaran kudu setiti
Mlebu kantong metu mburi
(Iki sing digoleki)
Infrastruktur sokor dadi
Kualitas ra peduli
Penting rakyat ora ngerti
(Harap dimaklumi)
Pencitraan nomer siji
Aktif medsos pasang aksi
Macak melas wani rugi
(Yo mes no ti ti)
Durmagati pasang kata motivasi
Dadi aparat kudu iso migunani
Durmogati sidak proyek
Ngakep cerutu, nggandeng cewek
Parfum wangi mambu kelek
Konten sibuk kudu enek
Nyekel cetok noto boto
Etok-etok macak iso
Katon prigel ning ra ceto, ora rumongso
(Elek rapopo)
Dulur kabeh penting oleh
Sanak kadang kudu madhang
Konco kentel dadi kandel, kabeh dicekel
(Polisine cutel)
Proyek sampe iso holidey
Wus ra nggagas mutu bangunane
Dana separo mlebu kantonge
Kari ngatur gampang ngentekne
Yen dadi aparat opo maneh duwe pangkat
Kabeh-kabeh disikat, urip iku nikmat
(Ah bodo amat)
Kembang tebu cokot asu
Yen ra mlebu dadi kuru
Sugih bondho awak lemu, ojo ditiru
(Mung iso ngguyu)
Durmagati dadi menteri
Noto proyek nggo pribadi
Penting dadi kudu bathi
(Tuku ferarri)
LSM e disangoni
Anggaran kudu setiti
Mlebu kantong metu mburi
(Iki sing digoleki)
Infrastruktur sokor dadi
Kualitas ra peduli
Penting rakyat ora ngerti
(Harap dimaklumi)
Pencitraan nomer siji
Aktif medsos pasang aksi
Macak melas wani rugi
(Yo mes no ti ti)
Durmagati pasang kata motivasi
Dadi aparat kudu iso migunani
Lagu ini masih ramai dibahas karena menggabungkan kritik politik, budaya Jawa, dan bahasa satir dalam satu karya. Popularitasnya di Spotify yang sudah menembus lebih dari 14 juta putar menegaskan bahwa sindiran soal integritas pejabat dan pencitraan masih sangat relevan bagi banyak pendengar.
Source: www.medcom.id






