Banyak orang terus memutar lagu yang sama tanpa merasa bosan. Di balik kebiasaan itu, otak rupanya lebih tertarik pada rasa akrab dan aman daripada kejutan baru.
Fenomena serupa juga terlihat saat orang menonton ulang film atau serial favorit. Pilihan itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan cara otak mengolah sesuatu yang sudah dikenal dengan lebih ringan.
Mengapa yang familiar terasa lebih nyaman
Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai mere-exposure effect. Konsep yang diperkenalkan Robert B. Zajonc pada 1968 itu menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap suatu objek dapat meningkatkan sikap positif terhadap objek tersebut.
Artinya, rasa suka tidak selalu muncul karena sesuatu memang paling unggul. Sering kali, sesuatu menjadi disukai karena otak sudah berulang kali berinteraksi dengannya dan menganggapnya akrab.
Otak lebih mudah memproses yang sudah dikenal
Penjelasan lain datang dari konsep processing fluency, yaitu kemudahan otak memproses informasi. Saat berhadapan dengan sesuatu yang familiar, otak tidak perlu bekerja keras untuk memahami isinya.
Karena itu, lagu yang sudah sering didengar atau film yang alurnya sudah diingat terasa lebih ringan diproses. Kemudahan itu lalu berubah menjadi rasa nyaman, lalu berkembang menjadi rasa suka.
Lagu biasa bisa naik kelas jadi favorit
Sebuah studi neuroimaging oleh Pereira dan rekan-rekannya pada 2011 menunjukkan bahwa melodi yang lebih sering didengar cenderung menjadi melodi yang paling disukai partisipan. Temuan ini menegaskan bahwa selera musik tidak hanya ditentukan kualitas lagu.
Frekuensi paparan juga ikut membentuk preferensi. Lagu yang awalnya terasa biasa saja bisa perlahan menjadi favorit karena terus didengar dan makin akrab di telinga.
Kenapa film dan serial sering ditonton ulang
Pola yang sama muncul dalam kebiasaan reconsumption, yaitu mengonsumsi kembali media hiburan yang sudah pernah dinikmati. Kajian yang dibahas Dill-Shackleford dan rekan-rekannya pada 2026 menemukan beberapa alasan utama di balik perilaku ini.
Alasan pertama adalah kenyamanan, karena alur cerita, karakter, dan akhir ceritanya sudah bisa diprediksi. Alasan kedua adalah koneksi sosial, terutama saat menonton ulang bersama keluarga atau teman.
| Alasan Menonton Ulang | Penjelasan |
|---|---|
| Kenyamanan | Alur, karakter, dan akhir cerita sudah dikenal sehingga terasa aman. |
| Koneksi Sosial | Menonton bersama keluarga atau teman bisa memperkuat pengalaman bersama. |
| Identitas dan Nostalgia | Konten tertentu terhubung dengan kenangan dan periode hidup tertentu. |
Alasan ketiga berkaitan dengan identitas dan nostalgia. Film atau serial tertentu sering terikat pada kenangan, masa hidup, atau pengalaman emosional yang membuatnya terasa hangat saat diputar ulang.
Kajian itu juga menemukan bahwa individu yang kurang nyaman dengan perubahan cepat dalam lingkungan media cenderung lebih sering merasakan nostalgia media. Bagi kelompok ini, konten yang familier dapat berfungsi sebagai sumber kestabilan emosional.
Yang dicari bukan kejutan, melainkan rasa akrab
Jika dilihat dari musik maupun film, kebiasaan mengulang konten yang sama punya dasar psikologis yang jelas. Familiaritas membuat otak lebih mudah memproses informasi, lalu kemudahan itu memunculkan perasaan positif dan nyaman.
Itulah sebabnya sebuah lagu bisa terus diputar berkali-kali, atau sebuah film bisa ditonton ulang tanpa menimbulkan kejenuhan seperti yang sering diasumsikan. Dalam banyak kasus, otak tampaknya memang lebih memilih rasa aman daripada harus terus beradaptasi dengan sesuatu yang baru.
Source: yoursay.suara.com






