Makanan Mentah Untuk Kucing Terlihat Alami, Tapi Risiko Bagi Kucing Dan Manusia Tak Kecil

Makanan mentah untuk kucing kembali jadi bahan pembicaraan karena terlihat selaras dengan naluri alami hewan ini. Namun, di balik kesan sederhana itu, ada risiko kontaminasi yang tidak bisa dipandang ringan.

Kucing memang keturunan pemburu yang secara alami memakan mangsa tanpa dimasak. Karena itu, banyak pemilik hewan peliharaan menganggap raw food cocok untuk kucing rumahan, meski kondisi hidupnya sudah jauh berbeda dari alam liar.

Apa yang sebenarnya dimaksud raw food

Makanan mentah untuk kucing adalah makanan yang tidak diproses dan biasanya berisi daging, ikan, serta organ hewan. Karena kucing adalah karnivora, kebutuhan gizinya memang sangat bergantung pada jaringan hewan.

Dalam banyak formula, daging mentah menjadi bahan utama dan tulang giling ditambahkan sebagai sumber kalsium dan fosfor. Produk seperti ini juga kerap diberi suplemen vitamin dan mineral untuk membantu mencegah kekurangan gizi.

Kucing membutuhkan protein tinggi karena protein menjadi sumber energi utama. Mereka juga memerlukan taurin, asam arakidonat, vitamin A, vitamin D, dan berbagai vitamin B dalam jumlah cukup agar tubuh tetap sehat.

Label mentah tidak otomatis lebih baik

Kandungan gizi makanan kucing sangat bergantung pada merek dan nutrisi yang dipakai, baik pada makanan olahan maupun makanan mentah. Karena itu, label “mentah” tidak otomatis berarti lebih unggul.

Salah satu pembeda penting ada pada kadar air. Kucing mendapatkan sebagian besar cairan dari makanannya, bukan dari kebiasaan minum seperti manusia.

Makanan kering memiliki kadar air sangat rendah dan dapat membuat kucing kurang terhidrasi bila tidak dibarengi asupan cairan lain. Sebaliknya, makanan kalengan punya kadar air tinggi, setara atau bahkan melebihi makanan mentah.

Tidak selalu lebih mudah dicerna

Baik makanan mentah maupun olahan sama-sama bisa dibuat dari bahan berkualitas rendah atau tinggi. Artinya, status mentah tidak otomatis menjamin mutu, daya cerna, atau hasil akhir yang lebih baik.

Dalam beberapa kasus, proses memasak justru meningkatkan nilai gizi bahan tertentu. Ini penting karena ada bahan mentah yang menyimpan risiko biologis bagi kucing.

Salah satu contohnya adalah makanan laut mentah yang bisa mengandung enzim thiaminase. Enzim ini memecah vitamin B1 atau tiamin, dan bila dikonsumsi terlalu sering dapat memicu kekurangan tiamin.

Kondisi itu bisa berdampak serius, mulai dari turunnya nafsu makan sampai kejang dan kematian. Memasak dapat menghancurkan thiaminase dan membuat jenis makanan laut tertentu lebih aman untuk kucing.

Risiko kesehatan dan kontaminasi

Hingga kini, belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan diet makanan mentah memberi nutrisi lebih baik dibanding makanan kucing lainnya. Diet mentah berkualitas tinggi memang bisa lebih baik daripada makanan olahan berkualitas rendah.

Namun, manfaat serupa juga bisa diperoleh dari makanan kucing kalengan berkualitas tinggi. Karena itu, nilai gizi lebih ditentukan oleh kandungan nutrisi daripada sekadar bentuk makanannya.

Risiko terbesar pada makanan mentah adalah kontaminasi patogen. Studi menunjukkan makanan kucing mentah, baik komersial maupun buatan rumah, memiliki tingkat kontaminasi lebih tinggi oleh Salmonella, Listeria, dan E. coli dibanding makanan kucing biasa.

Data Departemen Pertanian Amerika Serikat juga menyebut sekitar seperempat bagian ayam mentah di fasilitas produksi makanan manusia terkontaminasi Salmonella atau Campylobacter. Parasit seperti Toxoplasma gondii juga dapat menyebar melalui makanan mentah.

Kucing dewasa yang sehat mungkin punya daya tahan alami terhadap sebagian patogen bawaan makanan. Meski begitu, ada laporan kucing yang sakit bahkan meninggal akibat penyakit dari makanan mentah.

Risiko juga bisa menjangkau manusia

Bahaya makanan mentah tidak berhenti di tubuh kucing. Patogen bisa menular lewat penanganan makanan terkontaminasi atau kontak dengan feses kucing.

Kelompok yang paling rentan adalah kucing dan manusia yang masih sangat muda, sudah lanjut usia, atau memiliki sistem kekebalan tubuh lemah. Karena itu, aspek keamanan tidak bisa dipisahkan dari keputusan memberi raw food.

Pilihan makanan untuk kucing sebaiknya tidak hanya mengikuti kesan alami, tetapi juga mempertimbangkan keamanan, kecukupan gizi, dan kondisi kesehatan hewan. Pada akhirnya, menu harian anabul perlu ditentukan dari manfaat yang nyata, bukan dari label mentah semata.

Source: www.idntimes.com
Terkait