Pementasan ulang Mait Idoep membawa penonton kembali ke masa ketika panggung mulai berani membicarakan penyakit, keluarga, dan akibat dari pilihan pribadi. Lakon karya Kwee Tek Hoay ini menjadi pintu untuk membaca sisi Dardanella yang melampaui citranya sebagai kelompok hiburan keliling.
Di tengah perayaan 100 tahun Dardanella, karya yang tidak sepopuler Dokter Samsi justru dipilih untuk menunjukkan perubahan penting dalam sejarah teater. Pergeseran dari cerita fantasi menuju persoalan sosial nyata itu dinilai sebagai salah satu jejak awal realisme teater Indonesia.
Tragedi yang Berangkat dari Penyakit
Mait Idoep, yang ditulis pada 1931, berpusat pada Tjung Yang Bwe, seorang pemuda yang mengabaikan larangan dokter untuk tidak menikah sebelum pulih dari sifilis. Keputusan tersebut memicu tragedi karena penyakit itu kemudian berdampak kepada istri serta anak-anaknya.
Konflik dalam lakon ini menempatkan persoalan kesehatan dan kehidupan rumah tangga sebagai pusat cerita panggung. Pilihan itu berbeda dari pola kisah fantasi yang lama mendominasi hiburan teater pada masa tersebut.
Pengamat seni pertunjukan Seno Joko Suyono menilai hukum sebab-akibat atau karma menjadi inti tragedi dalam naskah itu. Tokoh yang melanggar anjuran dokter harus menanggung dampak dari tindakannya, termasuk akibat yang dialami keluarganya.
“Prinsip-prinsip itu sering muncul dalam naskah Kwee Tek Hoay. Di Mait Idoep, hukum sebab-akibat menjadi inti tragedinya,” ujar Seno seperti dikutip lifestyle.bisnis.com.
Dardanella dan Perubahan Bentuk Panggung
Dardanella berdiri pada 1926 dan dikenal sebagai salah satu pelopor teater modern di Hindia Belanda. Kelompok ini pernah membawa pertunjukan ke Singapura, Malaya, dan sejumlah negara lain di Asia.
Pada perjalanan awalnya, Dardanella kerap membawakan kisah fantasi bergaya Seribu Satu Malam. Namun, kelompok ini kemudian mulai menangkap persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan mengolahnya menjadi drama panggung.
Sutradara Irfan Hakim mengatakan pemilihan Mait Idoep didasari keinginan untuk menampilkan fase perubahan artistik tersebut. Menurutnya, naskah ini memperlihatkan praktik kerja Dardanella ketika bergerak dari stamboel menuju teater modern.
“Yang terkenal dari Dardanella itu Dokter Samsi. Kami justru mencari naskah yang tidak terlalu dikenal, tetapi menggambarkan praktik kerja Dardanella saat beralih dari stamboel menuju teater modern,” kata Irfan.
Irfan melihat keberanian berubah sebagai salah satu ciri utama kelompok sandiwara tersebut. “Dardanella itu reform terus. Mereka selalu mencari bentuk yang berbeda,” tandasnya.
Bahasa Lama dan Ruang Akting yang Beragam
Studi pertunjukan Mait Idoep dibawakan para pemenang Festival Teater Jakarta di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Selasa (23/6/2026). Pertunjukan dibuka dengan rekaman lagu orkes stamboel dan suara Miss Riboet Doewa yang lekat dengan panggung hiburan era Hindia Belanda.
Kelir di latar panggung menampilkan judul naskah dalam aksara lama sebelum cerita berpindah ke ruang praktik dokter. Adegan awal memperlihatkan Tjung Lan Gie membawa putranya yang terbaring lemas untuk diperiksa.
Pementasan ini tidak menyeragamkan cara para aktor memainkan tokoh. Irfan memberi ruang bagi pemain untuk membawa tradisi akting dari kelompok teater masing-masing.
Pendekatan itu disebutnya sebagai spektrum antara “berlagak dan menjadi”. Para pemain pun perlu menemukan posisi permainan yang sesuai dengan karakter, bahasa, dan situasi dramatik dalam naskah.
Aktor Ifqie Dzikrullah atau Acim, pemeran Tjung Yang Bwe, menghadapi tantangan melalui dialog berbahasa Melayu Pasar. Ia mengatakan para pemain masih mencari ritme dalam dua hingga tiga kali pembacaan awal karena struktur bahasanya berbeda dari bahasa Indonesia saat ini.
Nama Kwee Tek Hoay yang Kerap Terpinggirkan
Seno menilai karya-karya Kwee Tek Hoay berangkat dari kehidupan masyarakat Hindia Belanda dan membantu Dardanella meninggalkan tradisi Komedi Stamboel yang didominasi fantasi. Meski demikian, ia menilai posisi Kwee Tek Hoay belum memperoleh tempat yang layak dalam sejarah sastra Indonesia.
Karya-karyanya dalam Melayu Pasar lama dipinggirkan karena dikelompokkan sebagai sastra Melayu Rendah. Padahal, Kwee Tek Hoay disebut sebagai salah satu tokoh awal yang mempelajari struktur drama realis Henrik Ibsen lalu menerapkannya dalam karya-karyanya.
Pengaruh itu kemudian turut mewarnai lakon-lakon yang dibawa Dardanella ke atas panggung. Bagi Seno, jejak tersebut membuat kelompok ini penting dalam perkembangan teater nasional, terutama dalam tumbuhnya Teater Realisme Indonesia.
“Kalau menurut saya, akar realisme Indonesia itu justru dari Dardanella. Sayangnya, itu jarang disebut dalam sejarah teater Indonesia,” kata Seno.
