Harga logam di London Metal Exchange (LME) melonjak dan mencetak rekor tertinggi setelah pasar diguncang gangguan pasokan aluminium serta penguatan harga tembaga. Kenaikan itu terjadi saat perang di Timur Tengah menekan jalur pengiriman utama dan membuat pelaku pasar khawatir terhadap ketersediaan logam dasar dunia.
Dalam penutupan perdagangan Kamis (16/4/2026), indeks LME yang melacak enam logam utama naik hampir 12 persen dalam empat pekan terakhir. Aluminium menjadi pendorong terbesar karena harganya sudah naik sekitar 15 persen sejak perang yang melibatkan Iran dimulai, sementara Timur Tengah menyumbang 9 persen produksi global aluminium.
Pasokan aluminium jadi sorotan utama
Tekanan paling besar datang dari risiko pasokan yang makin ketat di pasar aluminium. JPMorgan Chase & Co. memperingatkan potensi defisit besar setelah serangan militer menyasar pusat produksi utama dan memperburuk distribusi komoditas.
Laporan lembaga itu menyoroti serangan Iran yang mengenai dua pabrik peleburan utama di Abu Dhabi dan Bahrain pada akhir bulan lalu. Di saat yang sama, pengiriman komoditas juga terhenti total akibat blokade ganda di Selat Hormuz oleh Amerika Serikat dan Iran.
Kondisi tersebut membuat pasar lebih fokus pada ketersediaan barang ketimbang arah permintaan jangka pendek. Dalam situasi seperti ini, gangguan logistik kecil pun bisa cepat tercermin ke harga karena pelaku pasar menilai pasokan tidak lagi aman.
Tembaga ikut mendongkrak reli LME
Selain aluminium, tembaga juga ikut mengangkat indeks LME. Sejumlah institusi, termasuk Mercuria Energy Group dan BMO Capital Markets, memperkirakan harga tembaga dapat melampaui rekor tertinggi yang tercapai pada Januari lalu.
Dorongan itu datang dari kembalinya pembeli asal China ke pasar dan rencana kebijakan tarif dari Gedung Putih. Dalam empat pekan terakhir, tembaga sudah menguat 11 persen dan kini hanya sekitar 3 persen di bawah harga penutupan tertinggi sepanjang sejarah.
Gao Yin, analis di Shuohe Asset Management Co., menilai para pedagang membangun kembali posisi di logam dasar lebih cepat daripada pergerakan harga. Ia juga mengatakan pasar tetap responsif selama perang Iran belum benar-benar selesai dan gangguan pasokan aluminium masih berlangsung.
Sinyal damai belum cukup menenangkan pasar
Di tengah tekanan pasokan, muncul harapan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran bisa diperpanjang. Sentimen itu sempat memberi dukungan pada harga logam lain yang sebelumnya tertekan oleh biaya energi tinggi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyampaikan pernyataan terkait situasi diplomatik dengan Teheran pada Kamis waktu setempat. Namun, klaim mengenai kesepakatan tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pemerintah Iran.
Ketidakpastian itu membuat pasar tetap bergerak hati-hati. Pelaku pasar menimbang kabar diplomatik dan risiko fisik di jalur distribusi secara bersamaan, sehingga volatilitas harga masih berpeluang bertahan.
Harga belum bergerak seragam
Meski indeks LMEX naik 3,6 persen dalam sepekan hingga Kamis, sebagian logam mulai terkoreksi tipis pada perdagangan Jumat (17/4/2026). Pada pukul 11:54 pagi di Shanghai, harga aluminium turun 0,3 persen menjadi US$3.632,50 per ton, sementara tembaga juga melemah 0,3 persen.
Di sisi lain, nikel justru naik 1,8 persen pada hari yang sama, menunjukkan pasar logam dasar bergerak tidak seragam. Perbedaan arah ini memperlihatkan bahwa investor masih menilai setiap komoditas berdasarkan risiko pasokan masing-masing, terutama ketika konflik geopolitik terus membayangi arus perdagangan global.







